← Beranda

Orang yang Lebih Suka Menuliskan Sesuatu Daripada Mengetiknya Biasanya Memiliki 10 Sifat Efisien Ini Menurut Psikologi

Irfan FerdiansyahRabu, 5 November 2025 | 15.13 WIB
seseorang yang lebih suka menulis daripada mengetik./ Freepik/jcomp

JawaPos.com - Di era digital, sebagian besar dari kita terbiasa mencatat lewat keyboard—entah di laptop maupun ponsel.

Namun, masih banyak orang yang lebih suka menuliskan sesuatu secara manual dengan pulpen dan kertas.

Pilihan ini bukan sekadar kebiasaan lama; psikologi menunjukkan bahwa aktivitas menulis tangan membawa sifat-sifat unik yang membuat mereka justru lebih efisien dalam berbagai aspek kehidupan.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (4/11), menulis secara manual mampu mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan memori, fokus, dan pengambilan keputusan.

Itulah mengapa banyak pekerja kreatif, akademisi, hingga pemikir besar tetap mengandalkan buku catatan dan pulpen.

Lalu, apa saja sifat efisien yang umumnya dimiliki oleh orang yang lebih suka menulis dibanding mengetik?

Berikut 10 di antaranya menurut sudut pandang psikologi.

1. Fokus Lebih Tinggi

Menulis dengan tangan memperlambat proses perekaman informasi, sehingga pikiran harus lebih fokus.

Orang bertipe ini cenderung mampu berkonsentrasi tanpa banyak gangguan, terutama dibanding mengetik yang sering membuat perhatian teralih oleh notifikasi digital.

2. Pencatat Informasi yang Lebih Mendalam

Psikologi kognitif menunjukkan bahwa menulis tangan meningkatkan proses encoding, yakni kemampuan mengubah informasi menjadi memori jangka panjang.

Karena itu, mereka sering mengingat detail lebih baik, sehingga performa belajar dan bekerja lebih efisien.

3. Pemikir Terstruktur

Walaupun menulis terasa lambat, orang yang memilih metode ini biasanya menyusun gagasan secara teratur sebelum dituangkan di kertas.

Hal ini mengasah kemampuan mereka dalam menyusun struktur logis secara alami.

4. Kreativitas Tinggi

Gerakan menulis yang bebas, tanpa batasan font atau format digital, memicu aktivasi sisi otak yang berhubungan dengan kreativitas.

Karakter visual dari tulisan tangan membuat ide tumbuh lebih organik dan intuitif.

5. Lebih Sabar dan Tekun

Menulis tangan membutuhkan waktu.

Kebiasaan ini menumbuhkan ketekunan dalam mengerjakan sesuatu langkah demi langkah.

Sikap ini berkorelasi dengan output yang lebih matang dan teliti.

6. Pemroses Emosi yang Baik

Banyak riset menunjukkan bahwa menulis tangan membantu seseorang mengolah perasaan.

Orang yang memilih menulis biasanya lebih efisien memahami emosi diri, sehingga lebih stabil dan cepat menyelesaikan masalah emosional.

7. Perhatian terhadap Detail

Kesadaran penuh yang muncul ketika menulis mendorong mereka lebih teliti, baik dalam membaca, merancang rencana, maupun mengambil keputusan.

Hasilnya, mereka jarang melewatkan hal penting.

8. Cenderung Disiplin

Menjaga buku catatan, menuliskan ide, dan mengorganisir informasi secara manual menuntut rutinitas yang konsisten.

Inilah yang membuat mereka lebih disiplin dalam menjalani tugas harian.

9. Pemecah Masalah yang Baik

Menulis membantu otak menguraikan persoalan menjadi potongan-potongan kecil.

Dengan melihat permasalahan secara visual, mereka dapat menemukan solusi lebih cepat dan terarah.

10. Lebih Mudah Memahami Diri

Menulis membuat seseorang berinteraksi langsung dengan pikirannya tanpa penyaringan digital.

Kebiasaan ini membantu mereka mengetahui preferensi, nilai, dan tujuan pribadi, sehingga mampu mengambil keputusan yang lebih efisien.

Kesimpulan

Orang yang masih memilih menulis tangan bukan berarti kuno.

Justru, mereka memiliki banyak keunggulan psikologis yang membuat proses berpikir, belajar, dan bekerja semakin efisien.

Fokus yang lebih tajam, kreativitas tinggi, kemampuan mengelola emosi, hingga keterampilan memecahkan masalah menjadi ciri khas dari mereka yang setia pada pena dan kertas.

Di tengah arus digital yang serba cepat, menulis tangan tetap menjadi sarana personal untuk berpikir lebih dalam—membantu kita memahami informasi, diri sendiri, dan dunia di sekitar dengan lebih jernih.

EDITOR: Hanny Suwindari