← Beranda

7 Frasa yang Dipakai Orang Sombong untuk Meninggikan Diri Saat Ngobrol Santai

Vindi Rayinda AyudyaRabu, 9 Juli 2025 | 16.13 WIB
Ilustrasi orang dengan sikap arogan terselubung untuk membuat diri mereka terlihat lebih unggul dalam percakapan sehari-hari. (Freepik)

 

JawaPos.Com - Dalam percakapan santai, kita sering kali tidak menyadari bahwa ada orang yang secara halus mencoba menunjukkan superioritasnya lewat pilihan kata. 

Mereka tidak serta-merta menyombongkan kekayaan, jabatan, atau pencapaian, namun menggunakan frasa tertentu yang terdengar biasa tapi menyimpan makna penuh kesombongan tersembunyi. 

Ini bukan tentang berbagi pengalaman atau sudut pandang, melainkan tentang bagaimana cara berbicara dijadikan alat untuk mengangkat diri sendiri dan merendahkan lawan bicara secara halus. 

Tanpa disadari, kalimat-kalimat seperti itu bisa menciptakan jarak emosional dan membuat orang lain merasa kecil.

Dilansir dari Geediting, inilah tujuh frasa yang sering digunakan oleh orang-orang dengan sikap arogan terselubung untuk membuat diri mereka terlihat lebih unggul dalam percakapan sehari-hari.

1. “Sejujurnya…”

Sekilas, frasa ini terdengar netral dan jujur. Namun, saat digunakan oleh orang yang sombong, “sejujurnya” berubah menjadi alat penegasan bahwa pendapatnya lebih valid dari yang lain. 

Mereka menyisipkannya di awal kalimat seolah-olah hanya mereka yang berbicara dengan kejujuran, sementara orang lain tidak. 

Ini adalah bentuk framing percakapan agar posisi mereka terlihat paling ‘benar’ di tengah-tengah diskusi. 

Biasanya, frasa ini muncul saat ingin membantah, mengoreksi, atau menghakimi secara terselubung.

2. “Waktu saya di…” 

Orang yang senang meninggikan diri sering menggunakan frasa ini untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah pernah ‘melanglang buana’. 

“Waktu saya di New York…”, “Waktu saya kerja di perusahaan multinasional…”, meskipun pembahasan awal tak ada hubungannya. 

Frasa ini bisa menjadi ajang pamer pengalaman yang secara tidak langsung memberi pesan: “Saya punya level yang lebih tinggi dari kamu.” 

Biasanya diucapkan dengan nada yang mengalir santai, padahal tujuannya adalah menanamkan kesan hebat di benak lawan bicara.

3. “Sebenarnya…” 

“Sebenarnya” sering digunakan untuk menyanggah pendapat orang lain, namun dengan cara yang terkesan elegan. 

Frasa ini memberi sinyal bahwa apa yang dikatakan lawan bicara sebelumnya tidak sepenuhnya benar. 

Penggunanya terlihat seperti ingin meluruskan informasi, padahal niatnya adalah menunjukkan bahwa dia lebih tahu. 

Orang yang sombong sering menjadikan “sebenarnya” sebagai jembatan untuk memosisikan dirinya sebagai sumber kebenaran satu-satunya dalam obrolan.

4. “Saya biasanya tidak…” 

Frasa ini kerap digunakan untuk menunjukkan eksklusivitas atau standar pribadi yang tinggi. 

Contohnya: “Saya biasanya tidak makan di tempat seperti ini,” atau “Saya biasanya tidak menonton acara TV biasa.” 

Kalimat-kalimat seperti ini menciptakan jarak antara dirinya dengan orang lain. Tujuannya adalah membentuk citra bahwa dia memiliki kebiasaan, gaya hidup, atau selera yang lebih ‘mahal’ dari orang-orang di sekitarnya. Frasa ini bisa terdengar halus, tapi sarat dengan nuansa merendahkan.

5. “Saya sudah tahu itu sebelum hal itu populer” 

Ada tipe orang yang selalu ingin tampil sebagai perintis atau ‘pencetus awal’. Mereka sering menggunakan frasa seperti ini untuk menunjukkan bahwa dirinya selalu selangkah lebih maju. 

Dalam konteks musik, fashion, teknologi, atau bahkan ide-ide intelektual, mereka ingin dianggap sebagai orang yang lebih dulu tahu, paham, dan mengalami. 

Frasa ini tak hanya menunjukkan kesombongan intelektual, tapi juga menyiratkan bahwa orang lain hanyalah pengikut tren, bukan pemikir sejati seperti dirinya.

6. “Saya tidak punya waktu untuk…” 

Ketika seseorang mengatakan “saya tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu,” bisa jadi yang ingin mereka sampaikan bukan soal jadwal padat, tapi status sosial. 

Kalimat ini biasanya disampaikan untuk menolak ajakan, pendapat, atau aktivitas yang dianggap remeh oleh mereka. 

Dalam percakapan, kalimat ini seakan menyatakan bahwa hidup mereka terlalu berkelas untuk terlibat dalam hal-hal ‘rendahan’. Ini adalah bentuk kesombongan yang dibungkus dalam kesibukan.

7. “Kamu tidak akan mengerti…” 

Ini mungkin frasa paling menusuk dari semuanya. Ketika seseorang mengatakan, “Kamu tidak akan mengerti,” mereka sebenarnya bukan sedang melindungi lawan bicara dari kebingungan, tapi sedang menutup ruang diskusi. 

Kalimat ini menunjukkan bahwa lawan bicara dianggap tidak setara secara intelektual, pengalaman, atau kapasitas emosional. 

Frasa ini bisa sangat menyakitkan karena membuat orang lain merasa bodoh atau tidak layak diajak berbagi. Dalam konteks kesombongan, ini adalah bentuk superioritas paling terang-terangan.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti