JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa jengkel atau tidak sabar saat harus berjalan di belakang orang yang berjalan lambat?
Jika iya, ternyata perasaan itu bukan sekadar soal kecepatan kaki, tetapi juga bisa mencerminkan sisi kepribadian tertentu dalam dirimu.
Menurut psikologi, ada beberapa ciri khas yang sering kali dimiliki oleh orang-orang yang merasa frustrasi ketika terhambat oleh langkah lambat orang lain di jalan.
Dilansir dari laman Global English Editing pada Kamis (22/5), berikut merupakan 7 ciri kepribadian yang dimiliki oleh orang yang tak tahan jalan di belakang orang yang berjalan lambat, menurut psikologi.
1. Menjunjung tinggi efisiensi
Orang yang berjalan cepat biasanya memiliki keinginan besar untuk menjalani hidup secara efisien. Mereka merasa bahwa setiap detik sangat berarti dan tidak boleh disia-siakan.
Oleh karena itu, ketika mereka berada di belakang orang yang berjalan lambat, mereka bisa merasa terganggu karena merasa waktu mereka terbuang.
Bagi mereka, bergerak cepat bukan sekadar soal kecepatan fisik, melainkan juga bentuk keseriusan dalam mengatur waktu dan menyelesaikan berbagai hal dengan segera.
Namun jika tidak disadari, sikap ini bisa berubah menjadi ketidaksabaran yang berlebihan.
Padahal, sesekali memperlambat langkah bisa memberikan ketenangan dan membuka mata untuk lebih menikmati momen-momen kecil dalam kehidupan sehari-hari.
2. Memiliki ciri kepribadian Tipe A
Kepribadian Tipe A sering kali dikaitkan dengan orang-orang yang sangat kompetitif, ambisius, dan memiliki urgensi tinggi terhadap waktu.
Orang-orang seperti ini biasanya cenderung merasa harus selalu bergerak cepat karena ada banyak hal yang harus dikejar.
Maka tak heran, jika mereka sering kali merasa tidak sabar jika harus berjalan di belakang orang lain yang melambatkan laju mereka.
Bahkan saat sedang tidak ada kegiatan penting pun, mereka tetap merasa seperti ada sesuatu yang mendesak yang harus segera dilakukan.
Jika sifat ini terus dibiarkan tanpa kesadaran diri, hal itu bisa berujung pada stres dan kelelahan yang berkepanjangan.
Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk sesekali menenangkan diri dan menyadari bahwa berjalan sedikit lebih lambat tidak akan mengurangi semangat atau etos kerja mereka.
3. Cenderung keras menilai diri sendiri dan orang lain
Salah satu alasan mengapa seseorang cenderung tidak sabar terhadap orang lain yang berjalan lambat adalah karena mereka pun keras terhadap diri sendiri.
Mereka memiliki standar tinggi dan selalu merasa harus melakukan sesuatu dengan cepat dan sempurna.
Maka, ketika melihat orang lain berjalan lebih lambat, mereka secara tidak sadar memproyeksikan tekanan yang sama kepada orang lain. Mereka merasa orang lain pun seharusnya bergerak secepat mereka.
Namun, pola pikir seperti ini bisa membuat hidup terasa berat dan penuh tekanan, karena tidak ada ruang untuk menikmati proses atau menghargai pencapaian kecil.
Belajar untuk lebih lembut terhadap diri sendiri juga akan membuat seseorang lebih sabar dan pengertian terhadap orang lain.
4. Selalu ingin mengendalikan semuanya
Banyak orang yang berjalan cepat merasa bahwa dengan bergerak cepat, mereka lebih bisa mengendalikan hidup dan situasi di sekitar mereka.
Misalnya, ketika bisa menyalip orang yang berjalan lambat, mereka merasa telah “menguasai” waktu dan rute perjalanan. Perasaan mampu mengontrol inilah yang membuat mereka merasa aman dan nyaman.
Namun, ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai harapan, seperti terjebak di belakang orang yang berjalan pelan, mereka bisa merasa frustrasi.
Padahal, kendali yang sesungguhnya bukan tentang mengatur orang lain, melainkan tentang bagaimana kita mengatur reaksi dan emosi kita sendiri.
Dengan belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa kita kontrol, kita bisa menjalani hari-hari dengan lebih tenang dan tidak mudah terganggu oleh hal-hal kecil.
5. Mereka punya empati, tetapi sulit menunjukkannya saat itu juga
Meskipun tampak mudah menghakimi orang lain yang berjalan lambat, sebenarnya banyak orang yang berjalan cepat juga memiliki empati.
Hanya saja, karena mereka terlalu terburu-buru atau tenggelam dalam pikirannya sendiri, mereka tidak sempat menempatkan diri dalam posisi orang lain.
Mereka cenderung langsung berasumsi bahwa orang yang lambat itu mengganggu, tanpa mempertimbangkan bahwa mungkin orang itu sedang kelelahan, memiliki masalah kesehatan, atau hanya ingin menikmati hari dengan santai.
Jika mereka memberi sedikit ruang dalam pikirannya untuk melihat dari sudut pandang orang lain, maka empati bisa muncul dan membantu meredakan rasa kesal mereka.
Memiliki empati bukan berarti harus memperlambat langkah, tetapi lebih kepada kemampuan untuk membuka hati agar bisa memahami bahwa setiap orang memiliki alasannya masing-masing.
6. Kurang hadir secara sadar dalam momen sehari-hari
Orang yang terbiasa berjalan cepat sering kali pikirannya sudah melompat jauh ke depan, dan memikirkan agenda berikutnya atau daftar tugas yang belum selesai.
Akibatnya, mereka kehilangan momen-momen kecil yang sebenarnya bisa memberi kebahagiaan sederhana, seperti merasakan angin sepoi-sepoi, melihat daun yang jatuh, atau tersenyum kepada orang yang lewat.
Kurangnya kesadaran penuh terhadap momen sekarang ini bisa membuat hidup mereka terasa seperti lomba yang tak akan ada habisnya.
Padahal, jika mereka mau melatih diri untuk berjalan sedikit lebih pelan dan lebih sadar, mereka bisa menemukan kedamaian dalam aktivitas yang tampak sederhana.
7. Menyimpan rasa cemas di dalam diri
Rasa cemas tidak selalu tampak dari luar, dan sering kali justru ditutupi dengan aktivitas yang terus-menerus, seperti berjalan dengan tergesa-gesa.
Orang yang sering berjalan cepat mungkin melakukannya bukan karena mereka terburu-buru, tetapi karena sedang berusaha mengalihkan diri dari pikiran atau perasaan tidak nyaman yang sedang dirasakan.
Dengan terus bergerak, mereka akan merasa mampu mengendalikan situasi dan tidak perlu berhadapan langsung dengan kecemasan itu.
Namun sebenarnya, dengan sedikit melambat dan menyadari apa yang sedang dirasakan, mereka bisa belajar menerima dan menghadapi kecemasan itu dengan lebih sehat.
Mengakui bahwa ada rasa tidak tenang di dalam diri bukanlah kelemahan, tetapi langkah awal untuk menuju ketenangan yang sesungguhnya.