JawaPos.com - Kebahagiaan sejati bukan berasal dari seberapa banyak harta, tingginya kedudukan, banyaknya prestasi.
Mungkin itu bisa menunjukkan betapa berharganya kamu, tapi bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan itu sendiri.
Mungkin sewaktu muda, kita selalu berlomba-lomba mendapatkan itu semua lalu ditunjukkan kepada setiap orang, hingga akhirnya banyak pujian atau penghargaan lainnya.
Kemudian setelah tua dan tidak bisa melakukan banyak hal, kita baru sadar bahwa kebahagiaan itu tidak perlu dikejar tapi diciptakan sendiri.
Dilansir dari laman DM News pada Senin (20/05) menurut psikologi, 9 kebahagiaan ini sering telat disadari setiap orang dalam hidupnya:
1. Kita tidak bisa mengalihdayakan kegembiraan
Untuk waktu yang lama, kita percaya bahwa jika baru saja menemukan pekerjaan yang sempurna atau komunitas yang sempurna, kebahagiaan akan terjamin. Tetapi keadaan eksternal hanya berjalan sejauh ini.
Psikolog secara konsisten menunjukkan bahwa meskipun peristiwa eksternal dapat memicu kegembiraan, mereka bukanlah sumber pemenuhan jangka panjang yang dapat diandalkan.
Pada akhirnya, terserah kita untuk menumbuhkan pola pikir dan gaya hidup yang mendukung kebahagiaan dari dalam.
Akhirnya, kita belajar bahwa kegembiraan sejati berasal dari mempraktikkan rasa syukur, mengambil tanggung jawab pribadi, dan puas dengan momen sehari-hari yang menyatukan hidup.
2. Hubungan lebih penting daripada status
Seiring berjalannya waktu, kita menyadari bahwa orang-orang yang paling bahagia, adalah orang-orang yang menuangkan energi ke dalam hubungan yang bermakna.
Maka pelajaran paling berharga yaitu keberadaan mereka yang tak pernah luput dan selalu menemani dalam setiap keadaan.
3. Kebahagiaan membutuhkan pemeliharaan
Kita baru menyadari bahwa memperlakukan kesehatan fisik sebagai sesuatu yang membutuhkan perawatan rutin. Seperti olahraga, makanan bergizi, dan pemeriksaan tahunan.
Sama seperti kita menjadwalkan janji temu dokter dan penggantian oli untuk mobil kita, kita perlu menjadwalkan praktik perawatan diri yang menjaga semangat kita tetap kuat.
4. Mengejar "seharusnya" akan mencuri kegembiraan
Orang-orang "seharusnya" mengalami kesengsaraan. Dan seringkali, "seharusnya" ini berasal dari definisi orang lain tentang kehidupan yang sukses.
Percayalah bahwa ini cukup melelahkan, karena pada dasarnya kita tidak bisa mengendalikan semua hal yang terjadi.
5. Kerentanan memperkuat kebahagiaan
Dulu kita berpikir bahwa harus kuat dan tak tergoyahkan dan menunjukkan kelembutan apapun akan mengundang penilaian atau belas kasihan.
Kemudian Dr. Brené Brown, "Kerentanan adalah tempat kelahiran cinta, rasa memiliki, kegembiraan, keberanian, empati, dan kreativitas." Maka dengan memasang dinding emosional tidak menghilangkan rasa sakit; itu menghilangkan kekayaan koneksi.
6. Emosi negatif bukanlah musuh
Di suatu tempat di sepanjang jalan, kita mengambil gagasan bahwa kebahagiaan adalah tidak adanya emosi negatif. Kesedihan, frustrasi, dan kekhawatiran adalah bagian dari menjadi manusia. Triknya adalah belajar untuk mengakui mereka tanpa membiarkan mereka memakan kita.
Menyangkalnya hanya memberinya lebih banyak kekuatan. Secara paradoks, membiarkan diri merasa sedih atau marah dapat menjadi batu loncatan menuju kedamaian sejati.
7. Waktu adalah mata uang yang sebenarnya
Di usia empat puluhan, kita sering kali khawatir tentang mendapatkan cukup uang untuk membiayai anak kuliah dan mungkin mampu liburan keluarga sesekali.
Tetapi uang adalah tujuan yang licin, selalu ada sedikit lebih banyak yang kita pikir kita butuhkan. Kemudian, melihat sekeliling dan menyadari sesuatu yang jauh lebih terbatas menyelinap pergi, yaitu waktu.
Mengenali waktu sebagai sumber daya kita yang paling terbatas akan membalik naskah. Ini dapat membantu kita mengatakan tidak pada hal-hal yang tidak melayani kebahagiaan dan pada kesenangan kecil yang seharusnya diabaikan.
8. Kesenangan bukanlah kemewahan
Kamu tidak memerlukan liburan besar atau hobi yang mahal untuk menumbuhkan kesenangan. Mungkin itu menari di ruang tamu, mencoba permainan papan baru, atau melukis dengan cat air, bahkan jika kamu bukan Picasso.
Tertawa dan kesenangan mengurangi stres dan menumbuhkan rasa keterkaitan dengan orang lain dan dengan semangat kekanak-kanakan Anda sendiri.
9. Perjalanan itu benar-benar lebih penting daripada tujuan
Kita lebih menyadari bahwa bukan penghargaan formal yang menghangatkan hati, tapi terlahir dari kenangan sehari-hari.
Para siswa yang akhirnya memahami konsep yang rumit, atau catatan tulus yang akan saya dapatkan di akhir tahun.
Kita sering begitu terpaku pada tujuan besar sehingga kita mengabaikan keajaiban kecil yang terjadi di sepanjang jalan. Jika Anda terus-menerus berlomba menuju hasil, Anda kehilangan semua kehidupan yang terjadi di antaranya.
Dikutip dari laman Psikologi UII pada Selasa (20/05) kebahagiaan itu tidak terjadi begitu saja, tapi merupakan akibat sampingan dari keberhasilan inidividu dalam memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna.