← Beranda

Bukan Hanya Persaingan, Ini 8 Alasan Mengapa Beberapa Orang Memendam Rasa Tidak Suka pada Saudara Kandungnya

Aunur RahmanJumat, 18 April 2025 | 03.35 WIB
Ilustrasi saudara kandung. (Freepik)

JawaPos.com - Hubungan saudara kandung sering digambarkan sebagai ikatan yang tak terpisahkan, penuh cinta dan dukungan. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada kalanya, tumbuh bersama justru menumbuhkan rasa tidak suka yang mendalam di antara saudara.

Fenomena ini tentu bukan tanpa alasan. Melansir geediting.com pada Kamis (17/4), masa kecil ternyata memegang peranan penting dalam membentuk dinamika hubungan persaudaraan yang kurang harmonis.

Bagi yang penasaran, berikut adalah alasan-alasan umum mengapa seseorang bisa memiliki perasaan tidak suka terhadap saudara kandungnya, berdasarkan pengalaman masa kecil.

1. Lingkungan Penuh Persaingan Sejak Dini

Bayangkan tumbuh dalam keluarga di mana segala sesuatu diperlombakan. Bukan hanya soal prestasi, tapi juga perhatian orang tua. Lingkungan kompetitif seperti ini alih-alih menciptakan kedekatan, justru menanamkan bibit permusuhan dan rasa iri di antara saudara. Alhasil, yang tumbuh adalah ketegangan dan rasa tidak suka, bukan persahabatan dan dukungan.

2. Merasa Terabaikan atau Tersaingi

Setiap anak memiliki kebutuhan untuk merasa dilihat dan dihargai. Ketika seorang anak merasa diabaikan atau selalu berada di bawah bayang-bayang saudaranya yang mungkin lebih menonjol dalam satu hal, hal ini dapat memicu perasaan tidak berharga dan resentmen. Perasaan ini bisa terus terbawa hingga dewasa dan menjadi akar dari ketidaksukaan terhadap saudara.

3. Kurangnya Penyelesaian Konflik yang Sehat

Pertengkaran antarsaudara adalah hal yang wajar. Namun, jika konflik-konflik ini tidak diselesaikan dengan baik dan dibiarkan berlarut-larut, emosi negatif seperti amarah dan kekecewaan akan terus menumpuk. Kurangnya kemampuan keluarga dalam memfasilitasi penyelesaian konflik yang sehat dapat menjadi penyebab utama rasa tidak suka antarsaudara.

4. Pengalaman Mendapatkan Perlakuan yang Berbeda (Favoritisme)

Satu di antara pengalaman masa kecil yang paling menyakitkan dan dapat merusak hubungan persaudaraan adalah merasa menjadi anak yang tidak diunggulkan. Perlakuan pilih kasih dari orang tua dapat menumbuhkan rasa iri, cemburu, dan rendah diri pada anak yang merasa tidak diperhatikan. Hal ini tentu saja dapat memicu rasa tidak suka yang mendalam terhadap saudara yang dianggap lebih disayangi.

5. Perbedaan Kepribadian yang Sangat Mencolok

Setiap individu unik, termasuk saudara kandung. Namun, perbedaan kepribadian yang terlalu besar terkadang dapat menjadi sumber konflik yang tak berkesudahan. Ketika dua saudara memiliki pandangan hidup, minat, dan cara berkomunikasi yang sangat berbeda, gesekan dan pertengkaran menjadi lebih sering terjadi, yang pada akhirnya dapat merenggangkan hubungan.

6. Terlalu Banyak Waktu Bersama Tanpa Batasan yang Jelas

Kebersamaan memang penting, namun terlalu banyak waktu bersama tanpa adanya ruang pribadi dan batasan yang jelas juga bisa menjadi masalah. Kebiasaan-kebiasaan kecil saudara yang awalnya mungkin tidak mengganggu, lama kelamaan bisa menjadi sangat menjengkelkan. Batasan pribadi yang kabur juga dapat memicu konflik dan rasa tidak suka.

7. Pengalaman Trauma Bersama yang Tidak Tertangani

Meskipun seharusnya menjadi sumber dukungan, pengalaman traumatis yang dialami bersama terkadang justru dapat menyebabkan saudara menjauhi satu sama lain. Trauma yang tidak tertangani dengan baik dapat memicu mekanisme pertahanan diri berupa penghindaran dan keterasingan, yang pada akhirnya merusak hubungan persaudaraan.

8. Kurangnya Komunikasi yang Efektif

Komunikasi yang buruk adalah akar dari banyak masalah dalam hubungan, termasuk hubungan persaudaraan. Kurangnya keterbukaan, kejujuran, dan kemampuan untuk saling mendengarkan dapat menyebabkan kesalahpahaman, sakit hati, dan perasaan negatif lainnya yang dapat berujung pada rasa tidak suka.

Meskipun ikatan darah seharusnya kuat, pengalaman masa kecil yang negatif dapat merusak hubungan persaudaraan. Memahami faktor-faktor ini dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki atau setidaknya memahami dinamika hubungan yang kurang harmonis dengan saudara kandung.

(*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah