← Beranda

Orang yang Mudah Marah Saat Lapar Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini, Menurut Psikologi

Silvia SulistiaraSelasa, 15 April 2025 | 05.12 WIB
Ilustrasi seseorang yang lapar. (Freepik)

JawaPos.com - Saat rasa lapar menyerang, suasana hati seseorang bisa berubah drastis. Tiba-tiba saja, yang biasanya ramah bisa jadi mudah marah atau gampang tersinggung. Hal-hal sepele pun bisa jadi sumber masalah.

Perubahan suasana hati saat lapar ini sering disebut dengan istilah “hangry”, gabungan dari kata hungry (lapar) dan angry (marah). Meski terkesan lucu, ternyata ada penjelasan ilmiah di balik kondisi ini.

Psikologi menyebutkan, ada sejumlah tanda yang muncul saat seseorang mengalami perubahan perilaku karena lapar. Mengenali tanda-tanda ini bisa membantu mengendalikan emosi sebelum benar-benar meledak.

Baik untuk memahami kondisi diri sendiri maupun orang lain, mengenali perubahan perilaku saat lapar ini penting. Apalagi saat harus menghadapi anak kecil atau pasangan yang suasana hatinya tiba-tiba berubah.

Dilansir dari Parent from Heart pada Senin (14/4), berikut tujuh tanda yang biasanya muncul saat seseorang mulai kehilangan kendali karena lapar, menurut psikologi.

1. Mudah Tersinggung

Tanda paling umum saat lapar adalah mudah tersinggung. Hal-hal kecil seperti koneksi internet lambat atau benda yang tidak ditemukan bisa memicu reaksi berlebihan. Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan respon alami tubuh.

Psikolog terkenal, Abraham Maslow, pernah mengatakan bahwa kebutuhan dasar manusia, termasuk makan, sangat memengaruhi kondisi emosional. Saat kebutuhan ini tidak terpenuhi, suasana hati bisa memburuk.

Jadi, kalau kamu merasa mudah kesal tanpa sebab, mungkin bukan karena stres atau lelah. Bisa jadi tubuh sedang mengingatkan bahwa saatnya makan.

2. Konsentrasi Menurun

Pernah merasa sulit fokus saat perut kosong? Itu wajar. Tubuh memerlukan glukosa untuk menjaga fungsi otak tetap optimal. Saat kadar gula darah turun, kemampuan berkonsentrasi ikut terganggu.

Kondisi ini bisa membuat seseorang kesulitan berpikir jernih, membaca berulang-ulang kalimat yang sama, atau merasa linglung. Jika tidak segera diatasi, bisa berujung frustrasi.

Kalau mulai merasa sulit fokus atau mudah terdistraksi, coba periksa kapan terakhir kali makan. Bisa jadi itu penyebab utamanya.

3. Emosi Lebih Sensitif

Saat lapar, emosi seseorang cenderung lebih labil. Iklan televisi yang biasanya biasa saja bisa tiba-tiba terasa menyentuh, bahkan memancing air mata. Hal-hal kecil yang biasanya tak berarti bisa terasa berat.

Hilangnya kendali emosi ini disebabkan karena tubuh tidak mendapatkan energi yang cukup. Akibatnya, kemampuan menahan emosi jadi menurun drastis.

Carl Jung, seorang psikolog ternama, menyebut bahwa emosi sangat erat kaitannya dengan kesadaran diri. Saat lapar, keseimbangan ini terganggu, membuat seseorang lebih mudah terbawa perasaan.

4. Sulit Membuat Keputusan

Saat lapar, memilih sesuatu bisa jadi terasa sangat sulit. Mau makan apa, pilih baju apa, atau menentukan prioritas pekerjaan, semuanya bisa jadi membingungkan. Ironisnya, lapar malah membuat kita bingung memilih makanan.

Psikologi menjelaskan bahwa rasa lapar memicu bagian otak yang berkaitan dengan keinginan instan, bukan keputusan jangka panjang. Karena itu, saat lapar, seseorang cenderung mengambil keputusan impulsif.

Kalau kamu merasa terlalu lama mempertimbangkan hal kecil, mungkin tubuh sebenarnya butuh asupan energi dulu. Setelah makan, biasanya pikiran jadi lebih jernih.

5. Mudah Lelah

Tubuh memerlukan energi dari makanan untuk beraktivitas. Saat asupan energi berkurang, tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda seperti lemas, mengantuk, hingga kehilangan semangat.

Psikolog William James pernah mengatakan bahwa senjata terbaik menghadapi stres adalah kemampuan memilih pikiran positif. Namun, bagaimana bisa memilih pikiran yang baik kalau perut kosong?

Kalau merasa kelelahan tanpa sebab jelas, coba ingat kapan terakhir kali makan. Bisa jadi tubuh sedang kehabisan bahan bakar.

6. Cenderung Bereaksi Berlebihan

Masalah kecil yang biasanya bisa diabaikan, saat lapar bisa terasa seperti masalah besar. Contohnya, antrean panjang atau lampu merah bisa membuat emosi memuncak.

Ini terjadi karena tubuh menganggap kekurangan makanan sebagai ancaman. Otak secara otomatis meningkatkan respon stres, membuat kita lebih reaktif.

Psikolog Albert Ellis pernah berkata bahwa hidup akan lebih baik jika kita menyadari bahwa semua masalah adalah tanggung jawab diri sendiri. Namun, saat lapar, rasanya semua masalah jadi lebih berat dari biasanya.

7. Muncul Ketidaknyamanan Fisik

Selain emosional, rasa lapar juga menimbulkan tanda-tanda fisik. Mulai dari perut berbunyi, kepala pusing, lemas, hingga sakit kepala. Ini adalah alarm tubuh bahwa energi sudah menipis.

Psikolog B.F. Skinner menjelaskan bahwa konsekuensi dari suatu tindakan akan memengaruhi kemungkinan tindakan itu terulang. Jika terus mengabaikan sinyal lapar, tubuh akan menunjukkan gejala fisik yang makin kuat.

Jangan abaikan sinyal ini. Dengan makan tepat waktu, suasana hati bisa lebih stabil dan tubuh tetap bertenaga.

Kondisi lapar tidak hanya soal perut kosong. Ada hubungan erat antara kebutuhan fisiologis dan reaksi emosional. Rasa lapar bisa membuat seseorang lebih mudah tersinggung, emosional, hingga lemah fisik.

Memahami tanda-tanda ini tidak hanya membantu mengelola diri sendiri, tetapi juga lebih peka terhadap orang lain. Baik anak kecil, pasangan, atau rekan kerja, bisa saja sedang ‘hangry’ tanpa disadari.

Kadang, solusi dari masalah suasana hati yang buruk ternyata sesederhana makan camilan atau makan siang tepat waktu. Jangan biarkan lapar mengendalikan emosi dan keputusan kamu.

Dengan menyadari hubungan antara kebutuhan tubuh dan suasana hati, kita bisa menjaga interaksi tetap positif dan sehat. Sebab, menjaga asupan bukan hanya soal fisik, tetapi juga mental.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho