← Beranda

9 Ciri Kepribadian Orang yang Selingkuh tapi Malah Marah Saat Ditegur: Kenapa Mereka Tak Terima Disebut Tukang Selingkuh? Simak!

Mellyna Putri DiniarSenin, 24 Maret 2025 | 19.18 WIB
Ilustrasi pasangan yang ketahuan selingkuh tetapi berbalik marah saat ditegur.

JawaPos.com – Ketika seseorang ketahuan berselingkuh, respons yang wajar seharusnya adalah rasa bersalah dan penyesalan. Namun, tidak sedikit yang justru marah, membela diri, dan menolak disebut sebagai tukang selingkuh.

Mereka bisa bersikap defensif, menyalahkan pasangan, atau bahkan membalikkan keadaan seolah merekalah yang menjadi korban.

Fenomena ini sering kali bukan sekadar emosi spontan, melainkan refleksi dari pola pikir dan kepribadian tertentu. Orang yang selingkuh tapi tak terima saat ditegur cenderung memiliki sifat manipulatif, narsistik, atau kurang empati.

Mereka lebih memilih membela ego daripada menghadapi kenyataan bahwa mereka telah melanggar kepercayaan. Bahkan mereka bisa dengan sangat lihai menggunakan taktik manipulasi yang dapat membuat korban bingung dan bertanya-tanya apakah mereka yang sebenarnya bersalah.

Dilansir dari PsychCentral, Senin (24/3), berikut ini beberapa ciri kepribadian orang yang sudah ketahuan berselingkuh tetapi malah marah saat ditegur, serta alasan psikologis di balik perilaku mereka.

1. Mekanisme Pertahanan Diri: Menolak Rasa Bersalah

Beberapa orang memiliki mekanisme pertahanan psikologis yang kuat, di mana mereka akan menyangkal kesalahan mereka dengan cara menyerang balik. Alih-alih mengakui perbuatannya, mereka justru mencari kesalahan pasangan agar tidak merasa bersalah.

2. Gaslighting: Memutarbalikkan Fakta agar Pasangan Bingung

Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis di mana seseorang mencoba membuat pasangannya meragukan persepsi dan ingatan mereka sendiri. Pelaku perselingkuhan mungkin berkata, “Kamu terlalu curiga” atau “Kamu hanya berimajinasi,” padahal bukti sudah jelas.

3. Sikap Narsistik: Tidak Mau Mengakui Kesalahan

Orang dengan kecenderungan narsistik percaya bahwa mereka berhak mendapatkan apa pun yang mereka inginkan, termasuk selingkuh, tanpa konsekuensi. Mereka sulit menerima kritik dan cenderung defensif ketika dipertanyakan.

4. Proyeksi: Menuduh Pasangan Melakukan Hal yang Sama

Salah satu taktik yang sering digunakan oleh pasangan yang berselingkuh adalah menuduh pasangannya melakukan hal yang sama. Ini adalah cara untuk mengalihkan perhatian dan membuat pasangan merasa bersalah.

5. Impulsif dan Tidak Bisa Mengendalikan Diri

Banyak orang yang berselingkuh memiliki sifat impulsif—mereka bertindak berdasarkan dorongan hati tanpa memikirkan konsekuensinya. Ketika ketahuan, mereka bereaksi dengan kemarahan karena tidak siap menghadapi akibat dari tindakan mereka.

6. Tidak Punya Rasa Empati terhadap Pasangan

Mereka tidak peduli dengan perasaan pasangan yang tersakiti. Bagi mereka, menyelamatkan citra diri dan personal branding mereka lebih penting daripada menghadapi kenyataan dan memperbaiki hubungan.

7. Menyalahkan Pasangan atas Perselingkuhan

Pelaku perselingkuhan sering kali berkata bahwa mereka berselingkuh karena pasangannya tidak cukup perhatian, kurang romantis, atau terlalu sibuk. Ini adalah cara untuk membenarkan tindakan mereka dan membuat pasangan merasa bertanggung jawab atas kesalahan yang bukan miliknya.

8. Menggunakan Kemarahan untuk Mengendalikan Situasi

Kemarahan sering digunakan sebagai alat untuk mengendalikan situasi. Dengan bersikap agresif atau mengancam, pelaku perselingkuhan berharap pasangannya takut untuk terus mempertanyakan atau menuntut penjelasan.

9. Tidak Bisa Menerima Konsekuensi dari Tindakannya

Orang yang berselingkuh tidak ingin menghadapi konsekuensi dari perbuatannya. Mereka berharap bisa melanjutkan hubungan tanpa harus menanggung akibat dari tindakan mereka, sehingga ketika dihadapkan dengan kenyataan, mereka memilih untuk marah dan menyalahkan orang lain.

Jika pasangan Anda menunjukkan tanda-tanda ini, penting untuk tetap berpikir jernih dan tidak terjebak dalam permainan manipulasi mereka. Menjaga batasan, mencari dukungan emosional, dan berkonsultasi dengan profesional dapat membantu Anda menghadapi situasi ini dengan lebih baik.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho