Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Agustus 2025 | 19.41 WIB

Jika Seseorang Mengangkat 8 Topik Ini dalam Percakapan, Maka Kecerdasannya Bisa Dianggap di Bawah Rata-rata Menurut Psikologi

seseorang yang mengangkat topik yang tidak sesuai (Freepik/odua) - Image

seseorang yang mengangkat topik yang tidak sesuai (Freepik/odua)

JawaPos.com - Dalam dunia psikologi populer, ada anggapan bahwa jenis topik yang seseorang angkat dalam percakapan bisa menjadi indikator dari tingkat kecerdasan, kedewasaan emosional, hingga tingkat empati mereka.

Meskipun kecerdasan tidak bisa diukur secara mutlak hanya dari obrolan kasual, namun studi dan observasi perilaku manusia menunjukkan bahwa orang dengan tingkat intelektual dan emosional yang tinggi cenderung menghindari topik-topik dangkal, merugikan, atau tidak bermutu.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (1/8), delapan topik yang, jika terlalu sering diangkat atau menjadi pusat percakapan seseorang—dapat mengindikasikan bahwa kecerdasannya berada di bawah rata-rata, baik secara intelektual maupun emosional:

1. Gosip Pribadi yang Merendahkan Orang Lain

Orang yang sering membicarakan aib atau kehidupan pribadi orang lain secara negatif menunjukkan kurangnya empati dan rasa hormat.

Dalam psikologi, perilaku ini terkait dengan low emotional intelligence (kecerdasan emosional rendah).

Selain itu, fokus pada gosip cenderung memperlihatkan kurangnya minat pada ide, konsep, atau hal-hal konstruktif.

Kata kunci psikologis: Projection, insecurity, low self-esteem.

2. Teori Konspirasi Tanpa Dasar Logis

Meyakini teori konspirasi bisa menjadi tanda bias kognitif seperti confirmation bias, yaitu kecenderungan untuk hanya menerima informasi yang memperkuat keyakinan pribadi tanpa berpikir kritis.

Jika seseorang sering mengangkat topik ini tanpa menyaring informasi secara rasional, itu bisa mencerminkan kurangnya kecerdasan analitis.

Contoh: “COVID itu sebenarnya buatan elite global untuk mengendalikan populasi.”

3. Kebanggaan Berlebihan Akan Ketidaktahuan

Kalimat seperti "Aku nggak suka baca, ngapain ribet-ribet?" atau "Ngapain mikirin politik? Gak penting!" menunjukkan bentuk anti-intelektualisme.

Orang yang bangga dengan ketidaktahuan menunjukkan resistensi terhadap pembelajaran dan pertumbuhan intelektual.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore