Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Juli 2025 | 02.03 WIB

Orang yang Minim Komunikasi dengan Keluarganya Biasanya Punya 8 Pengalaman Ini Saat Kecil Menurut Psikologi

seseorang yang minim komunikasi dengan keluarganya sendiri (Freepik/freepik) - Image

seseorang yang minim komunikasi dengan keluarganya sendiri (Freepik/freepik)


JawaPos.com - Komunikasi yang sehat dalam keluarga merupakan fondasi penting untuk membangun hubungan yang kuat, rasa aman, dan kesejahteraan emosional setiap anggotanya.
 
Namun, tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan yang mendukung komunikasi terbuka dan penuh kehangatan.
 
Beberapa orang dewasa diketahui minim berkomunikasi dengan keluarganya, baik secara verbal maupun emosional. 
 
Dalam banyak kasus, hal ini bukan semata-mata karena kesibukan atau jarak fisik, tetapi berakar dari pengalaman masa kecil yang membentuk pola interaksi mereka hingga dewasa.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (22/7), menurut kajian psikologi perkembangan dan hubungan keluarga, berikut adalah 8 pengalaman yang umumnya dialami oleh orang-orang yang minim komunikasi dengan keluarganya saat dewasa:

1. Tumbuh dalam Keluarga yang Emosinya Tertutup

Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang jarang mengungkapkan perasaan, menghindari konflik, atau menahan emosi negatif, cenderung tidak belajar bagaimana mengekspresikan diri secara terbuka. 
 
Mereka diajarkan secara tidak langsung bahwa emosi adalah sesuatu yang sebaiknya disimpan sendiri. 
 
Akibatnya, saat dewasa, mereka pun merasa tidak nyaman berbagi perasaan dengan keluarga mereka sendiri.

2. Orang Tua yang Terlalu Otoriter atau Keras

Jika masa kecil mereka diwarnai oleh kontrol berlebihan, hukuman keras, atau aturan kaku dari orang tua, maka anak bisa tumbuh dengan rasa takut atau cemas dalam berkomunikasi. 
 
Mereka mungkin belajar bahwa berkata jujur atau mengutarakan pendapat hanya akan mendatangkan masalah. 
 
Dampaknya, saat dewasa, mereka lebih memilih diam dan menjaga jarak demi menghindari ketegangan.

3. Kurangnya Pengakuan dan Dukungan Emosional

Anak-anak yang jarang dipuji, didengarkan, atau dirayakan pencapaiannya akan tumbuh dengan rasa bahwa suara mereka tidak penting. 
 
Jika mereka tidak pernah merasa dihargai atau dilibatkan dalam percakapan penting keluarga, maka tidak heran jika mereka tumbuh menjadi pribadi yang enggan berbicara atau menjalin hubungan hangat dengan anggota keluarga.

4. Sering Menjadi Saksi Pertengkaran Orang Tua

Menyaksikan konflik yang intens antara orang tua, apalagi yang tidak diselesaikan dengan cara sehat, dapat menciptakan trauma emosional pada anak. 
 
Anak-anak ini sering merasa terjebak di antara dua kutub yang saling bertentangan. 
 
Akibatnya, saat dewasa, mereka sering memilih untuk menghindari konflik dengan cara menjauh atau memutus komunikasi demi menjaga stabilitas emosional mereka.

5. Tidak Pernah Dilatih Berbicara Terbuka

Komunikasi terbuka bukan bakat, melainkan keterampilan yang dibentuk sejak kecil. 
 
Anak-anak yang tidak pernah diajak bicara dari hati ke hati, tidak ditanya perasaannya, atau tidak diberi ruang untuk berpendapat akan kesulitan menyampaikan isi hati mereka. 
 
Saat dewasa, mereka pun tidak terbiasa menjalin komunikasi yang mendalam, bahkan dengan keluarga sendiri.

6. Pernah Mengalami Penolakan atau Penghinaan

Anak-anak yang sering dipermalukan, direndahkan, atau ditolak pendapatnya oleh keluarga akan membentuk kepercayaan diri yang rapuh. 
 
Mereka belajar bahwa membuka diri hanya akan berujung pada luka atau rasa malu. 
 
Ketika dewasa, mereka lebih nyaman membangun tembok dan menjaga jarak daripada mengambil risiko ditolak lagi oleh keluarga.

7. Tanggung Jawab Emosional Sejak Dini (Parentification)

Beberapa anak tumbuh dalam peran yang tidak semestinya, seperti menjadi “pengganti pasangan” untuk orang tua yang kesepian, atau harus menjaga adik-adik karena orang tua sibuk atau tidak hadir. 
 
Anak-anak ini belajar untuk memendam kebutuhan emosional mereka sendiri demi orang lain. 
 
Mereka menjadi terbiasa menekan diri sendiri dan kehilangan kemampuan untuk menjalin komunikasi sehat dengan keluarga.

8. Keluarga yang Tidak Mendorong Intimasi Emosional

Dalam beberapa keluarga, pembicaraan hanya berputar di sekitar hal-hal fungsional—seperti nilai sekolah, pekerjaan rumah, atau kegiatan harian—tanpa pernah masuk ke ranah emosi, mimpi, atau ketakutan pribadi. 
 
Anak yang dibesarkan dalam suasana seperti ini tumbuh dengan persepsi bahwa keintiman emosional itu canggung atau tidak penting. 
 
Akibatnya, saat dewasa, komunikasi mereka dengan keluarga tetap dangkal dan kaku.

Kesimpulan

Minimnya komunikasi dengan keluarga di usia dewasa sering kali merupakan warisan pola asuh dan dinamika masa kecil yang tidak sehat. 
 
Bukan berarti hubungan itu tidak bisa diperbaiki, tetapi pemahaman atas pengalaman masa lalu bisa menjadi titik awal untuk membangun kembali komunikasi yang lebih terbuka dan tulus.

Bagi mereka yang pernah mengalami hal-hal di atas, kesadaran dan refleksi adalah langkah awal untuk sembuh dan terhubung kembali. 
 
Konseling keluarga, terapi individu, atau sekadar mulai dari percakapan kecil bisa menjadi pintu masuk menuju hubungan yang lebih hangat dan bermakna.

Jika Anda merasa mengalami hal serupa, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. 
 
Dan yang terpenting, pola komunikasi bisa dipelajari kembali—meski tidak mudah, selalu ada harapan untuk terhubung kembali dengan orang-orang yang dulu (dan mungkin masih) Anda cintai.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore