Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Juni 2025 | 05.32 WIB

7 Perilaku yang Masih Bisa Ditoleransi dalam Batas Wajar, Namun Menjadi Sangat Mengganggu Jika Berlebihan—Menurut Psikologi

7 Perilaku yang Masih Bisa Ditoleransi dalam Batas Wajar, Namun Menjadi Sangat Mengganggu Jika Berlebihan./Freepik. - Image

7 Perilaku yang Masih Bisa Ditoleransi dalam Batas Wajar, Namun Menjadi Sangat Mengganggu Jika Berlebihan./Freepik.

JawaPos.com - Keragaman kepribadian adalah bagian dari kehidupan sosial yang dinamis. Kita menghargai teman yang lucu, anggota keluarga yang penuh semangat, atau rekan kerja yang perfeksionis.

Namun seperti bumbu dapur, setiap karakter memiliki takaran idealnya. Ketika terlalu sedikit, hubungan terasa hambar.

Tapi ketika berlebihan, hasilnya bisa menjadi racikan yang membuat kita kewalahan.

Psikologi sosial telah lama mempelajari bagaimana interaksi antarpribadi bisa memengaruhi kondisi emosional dan mental seseorang.

Salah satu temuan penting adalah bahwa beberapa sifat yang dianggap menarik dalam dosis kecil justru menjadi sumber stres jika muncul secara berlebihan atau terus-menerus.

Dilansir dari laman Geediting, berikut adalah tujuh perilaku yang, menurut psikologi, masih bisa ditoleransi dalam takaran sedang tetapi berpotensi melelahkan bila terus-menerus ditampilkan.

Pelajari lebih lanjut agar Anda bisa menetapkan batas sehat dalam hubungan Anda.

1. Negativitas Kronis: Ketika Semua Hal Terlihat Buruk

Setiap orang memiliki hak untuk mengeluh. Namun, individu yang selalu memandang dunia dari kacamata gelap akan menciptakan atmosfer yang menekan.

Menurut penelitian dari Journal of Social Psychology, emosi negatif memiliki sifat "menular" atau dikenal sebagai emotional contagion. Jika Anda terlalu sering berada dekat dengan orang yang selalu mengeluh atau melihat sisi buruk dari segalanya, Anda bisa ikut merasa stres dan pesimistis.

Solusi? Batasi waktu bersama mereka, atau lebih baik lagi, alihkan percakapan ke hal yang lebih netral. Anda tidak harus menjadi terapis bagi semua orang. Prioritaskan keseimbangan emosional Anda sendiri.

2. Obrolan Tanpa Akhir: Kapan Harus Diam?

Orang yang cerewet bisa mencairkan suasana. Tapi jika mereka tidak memberi ruang untuk orang lain berbicara, percakapan berubah menjadi monolog.

Menurut psikolog klinis Dr. Nancy Irwin, orang yang terus berbicara tanpa henti sering kali tidak sadar bahwa mereka mendominasi. Ini bukan hanya melelahkan bagi pendengar, tapi juga dapat merusak dinamika sosial.

Tips menghadapinya? Cobalah menyela dengan sopan: "Maaf, boleh saya tambahkan sedikit?" Ini membantu menciptakan ruang percakapan yang lebih seimbang tanpa menyinggung.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore