Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Mei 2025 | 19.53 WIB

Masa yang Paling Indah dalam Pernikahan, Inilah 7 Perilaku Semasa Bulan Madu Tapi Bisa Jadi Menjengkelkan di Kemudian Hari: Apa Saja?

Ilustrasi orang yang sedang bulan madu. - Image

Ilustrasi orang yang sedang bulan madu.

JawaPos.com - Pernikahan adalah sebuah perjalanan dua insan manusia yang di mana mereka saling menaruh harapan untuk selalu bersama, menjalin kasih sayang, saling memahami satu sama lain.

Namun pada realitanya, pernikahan tidak semudah yang kita bayangkan. Banyak hal-hal yang pada akhirnya butuh penerimaan dan kata maaf berkali-kali, karena bagaimanapun juga kita adalah manusia.

Bahkan sekalipun di dalam pernikahan itu ada masa-masa indah, yakni disebut dengan bulan madu, tapi semua itu bisa berubah. Perasaan cinta dan kasih sayang dalam pernikahan bersifat fluktuatif atau naik turun.

Dilansir dari laman Global English Editing pada Rabu (14/05) inilah 7 perilaku semasa bulan madu tapi bisa jadi menjengkelkan di kemudian hari:

1. Kebutuhan konstan akan kasih sayang

Siapapun pasti menyukai berpegangan tangan, menyentuh, berpelukan, dan berciuman terus-menerus yang datang dengan fase bulan madu. Ini adalah musim cinta di mana kasih sayang tampaknya meluap dalam kelimpahan. Manis, romantis, dan menawan.

Tetapi seiring berjalannya waktu, kebutuhan konstan akan kasih sayang fisik ini dapat mulai terasa sombong dan bahkan mencekik. Bukannya kita tidak menikmati kasih sayang dari pasangan, tetapi ada kalanya ruang pribadi juga dibutuhkan.

Seperti yang pernah dikatakan Carl Jung dengan bijak, "Pertemuan dua kepribadian seperti kontak dua zat kimia, jika ada reaksi, keduanya berubah."

Transformasi ini melibatkan pemahaman tentang kebutuhan satu sama lain, termasuk kebutuhan akan ruang pribadi.

Jika pasangan membutuhkan lebih sedikit pegangan tangan saat berbelanja bahan makanan atau kadang-kadang tidak ingin berpelukan sambil menonton TV, tidak apa-apa karena itu wajar.

2. Bahasa "kita"

Selama tahap awal cinta, adalah hal yang umum untuk mulai menyebut diri sendiri dan pasangan sebagai "kita". Seperti “Kami menyukai film ini," "kami akan pergi ke taman," "kami pikir ini adalah ide yang bagus." Itu menawan dan melambangkan persatuan dan kepentingan bersama.

Tetapi seiring berjalannya waktu, bahasa "kita" ini dapat mulai terasa sedikit mencekik. Penting untuk diingat bahkan dalam sebuah hubungan, kamu masih merupakan individu dengan pikiran, perasaan, dan preferensi sendiri.

Menyadari hal ini tidak membuat kamu kurang dari pasangan, dan itu hanya menambah kedalaman dan keaslian pada hubungan.

3. Gerakan romantis yang berlebihan

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore