Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 April 2025 | 19.10 WIB

7 Perilaku Toxic yang Masih Sering Dipuji di Sebagian Besar Keluarga, Menurut Psikologi

Ilustrasi perilaku toxic di sebagian besar keluarga. (Freepik) - Image

Ilustrasi perilaku toxic di sebagian besar keluarga. (Freepik)


JawaPos.com - Tanpa disadari, masih banyak keluarga yang menganggap beberapa perilaku toxic sebagai sesuatu yang patut dibanggakan. Meskipun terlihat sepele, kebiasaan ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental anggota keluarga.

Fenomena ini menjadi perhatian para psikolog, sebab perilaku semacam ini sering kali diwariskan turun-temurun. Padahal, di balik pujian itu tersimpan dampak yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Sebagian besar dari kita mungkin tidak menyadari bahwa hal-hal ini kerap terjadi di keluarga biasa, termasuk di rumah kita sendiri. Memahami pola ini penting agar kita bisa memperbaiki pola komunikasi dalam keluarga.

Dengan menyadari kebiasaan toxic yang kerap dipuji ini, kita bisa mulai membuat pilihan yang lebih sehat untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat. Siapa tahu, kamu bisa jadi pelopor perubahan suasana keluarga yang lebih sehat.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (16/4), berikut ini tujuh perilaku toxic yang masih sering dipuji di sebagian besar keluarga menurut pandangan psikologi.

1. Terlalu Mengutamakan Ketaatan

Ungkapan “anak harus nurut orang tua” masih sering terdengar di banyak keluarga. Ketaatan dianggap sebagai tanda anak yang baik, padahal terlalu menekan anak untuk selalu patuh bisa berdampak negatif.

Anak yang terlalu dituntut untuk patuh cenderung menekan pendapat dan perasaannya. Padahal, menurut psikolog Carl Rogers, orang yang bisa berkembang adalah mereka yang belajar untuk berubah.

Jika anak terus-menerus ditekan, mereka bisa kehilangan kemampuan untuk mandiri dan berani berpikir kritis. Keluarga sebaiknya memberi ruang bagi anak untuk berpendapat tanpa takut dimarahi.

2. Memuji Anak yang Selalu Diam

Banyak keluarga masih menganggap anak yang pendiam sebagai anak yang dewasa dan sopan. Padahal, sering kali anak diam karena takut suaranya tidak didengar atau malah diabaikan.

Kebiasaan ini secara tidak langsung membuat anak merasa bahwa pendapatnya tidak penting. Padahal, komunikasi terbuka sangat penting untuk membangun hubungan keluarga yang sehat.

Sebagaimana dikatakan Nat Turner, komunikasi adalah jembatan antara kebingungan dan kejelasan. Anak perlu diajak berbicara dan didorong untuk berani menyampaikan isi hati.

3. Membandingkan Anak Sebagai Motivasi

Kalimat seperti “coba lihat kakakmu” atau “kenapa kamu nggak bisa kayak anak tetangga?” mungkin sering kita dengar di rumah. Sayangnya, cara ini justru bisa merusak rasa percaya diri anak.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore