
Ilustrasi pria yang suka meremehkan pekerjaan rumah tangga (freepik)
JawaPos.com - Ada perbedaan yang mencolok antara pria yang dengan senang hati mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan pria yang memandang tugas tersebut sebagai sesuatu yang rendah. Perbedaan ini sering kali disebabkan oleh lingkungan tempat mereka tumbuh.
Pria yang mengabaikan tugas-tugas rumah tangga biasanya berasal dari latar belakang tertentu yang menanamkan pola pikir ini dalam diri mereka. Ini belum tentu salah mereka, tetapi ini adalah pola yang perlu ditangani.
Dalam artikel ini, JawaPos.com telah melansir dari laman Hack Spirit, Senin (14/4), tujuh lingkungan yang umumnya membentuk pria yang suka meremehkan pekerjaan rumah tangga dan menganggapnya sebagai pekerjaan yang rendah.
1. Rumah tangga dengan peran gender tradisional
Bukan rahasia lagi bahwa cara kita dibesarkan membentuk sikap dan perilaku kita saat dewasa. Bagi laki-laki yang menganggap pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang remeh, lingkungan rumah masa kecil mereka sering kali memainkan peranan penting.
Seringkali, pria-pria ini berasal dari rumah tangga dengan peran gender yang sangat tradisional. Di rumah-rumah ini, perempuan bertanggung jawab atas semua pekerjaan rumah tangga.
Sementara laki-laki berfokus pada tugas-tugas yang dianggap lebih 'maskulin' seperti pekerjaan halaman atau perawatan mobil. Tumbuh di lingkungan seperti ini membuat anak laki-laki menyerap gagasan bahwa pekerjaan rumah tangga bukanlah 'pekerjaan laki-laki'.
Pandangan dunia ini kemudian terbawa ke dalam kehidupan dewasa mereka, memengaruhi cara mereka menyikapi tanggung jawab bersama di rumah mereka sendiri. Namun penting untuk dicatat, mengenali pola ini bukan berarti menyalahkan.
Sebaliknya, yang terpenting adalah memahami dari mana sikap tersebut berasal sehingga dapat ditangani dan diubah menjadi lebih baik.
2. Rumah tangga berpenghasilan tinggi yang mempekerjakan ART
Laki-laki yang tumbuh dalam rumah tangga berpendapatan tinggi dengan asisten rumah tangga mungkin memandang pekerjaan rumah tangga sebagai pekerjaan yang rendah. Bukan karena mereka pada dasarnya meremehkan atau tidak sopan.
Tetapi semata-mata karena mereka tidak pernah harus terlibat dengan tugas-tugas tersebut saat tumbuh dewasa. Ini adalah kurva pembelajaran, yang memerlukan kesadaran diri dan kemauan untuk berubah.
Tapi percayalah, ini adalah perjalanan yang memperkaya yang tidak hanya berkontribusi pada rumah tangga yang seimbang tetapi juga pertumbuhan pribadi.
3. Keluarga single parent

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
