Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 Oktober 2025 | 20.17 WIB

Tidak Pernah Mendengar Kata "Aku Cinta Kamu" di Rumah, 10 Hal Ini Membentuk Kepribadian Unik Seseorang

ilustrasi Seorang wanita tampak berpikir di meja kerjanya, merefleksikan bagaimana pola asuh yang tanpa ucapan cinta telah membentuk pribadinya yang unik./Freepik - Image

ilustrasi Seorang wanita tampak berpikir di meja kerjanya, merefleksikan bagaimana pola asuh yang tanpa ucapan cinta telah membentuk pribadinya yang unik./Freepik

JawaPos.com - Tumbuh besar di tengah keluarga yang jarang mengucapkan kata "Aku cinta kamu" atau "I love you" mungkin terdengar seperti pengalaman yang hampa secara emosional bagi sebagian orang.

Namun, penulis artikel ini menyampaikan bahwa bukan berarti kasih sayang tidak ada, sebab cinta hanya diekspresikan dengan cara yang berbeda, yaitu melalui tindakan. Pengalaman masa kecil yang unik ini telah membentuk pandangan penulis tentang komunikasi, cinta, dan bahkan memengaruhi pendekatan profesionalnya dalam dunia penyuntingan.

Pola asuh yang menekankan tindakan daripada kata-kata tersebut memberikan dampak signifikan terhadap cara penulis menjalani hubungan pribadi dan kehidupan karier yang saat ini digeluti.

Berbagai macam cara penyampaian kasih sayang non-verbal ini menjadi bekal yang berharga dalam membaca intensi orang lain, melansir dari Global English Editing Senin (27/10). Berikut adalah sepuluh cara pola pengasuhan tersebut telah membentuk kepribadian penulis secara mendalam hingga saat ini.

1. Tindakan Lebih Nyaring dari Kata-kata

Di banyak rumah tangga, frasa "Aku cinta kamu" adalah ucapan yang umum dan seringkali rutin diucapkan sebagai ungkapan sayang. Namun di rumah penulis, cinta justru diungkapkan melalui perbuatan nyata, bukan hanya sekadar kata-kata manis yang mudah diucapkan. Pendekatan ini mengajarkan sejak dini bahwa kata-kata terkadang bisa terasa hampa tanpa adanya usaha nyata untuk mewujudkan janji tersebut. Pelajaran ini sangat berharga dalam pekerjaan penyuntingan, di mana penulis memastikan kata-kata yang digunakan sesuai dengan niat dan tujuan yang mendasarinya.

2. Belajar Membaca Makna Tersirat

Tidak terbiasa mendengar ungkapan cinta secara eksplisit membuat penulis menjadi ahli dalam membaca makna tersirat atau reading between the lines. Ayahnya selalu bangun pagi untuk membuat sarapan tanpa pernah mengucapkan tiga kata cinta tersebut secara konvensional. Pancake buatan sang ayah adalah cara unik baginya untuk mengatakan "Aku peduli padamu" kepada semua anggota keluarga. Kemampuan untuk menangkap isyarat non-verbal dan sentimen yang tidak terucapkan ini menjadi keterampilan alami yang diasah sejak masa kecil.

3. Menerima Berbagai Ekspresi Cinta

Di beberapa budaya, mengungkapkan cinta secara verbal bukanlah hal yang biasa, bahkan bisa dianggap canggung atau tidak pantas secara sosial. Keluarga penulis juga memiliki pola yang sama, di mana kasih sayang lebih ditunjukkan melalui tindakan, rasa hormat, dan perhatian yang tulus kepada orang lain. Pemahaman ini membantu penulis dalam karier profesionalnya sebagai penyunting yang bekerja dengan beragam klien dari latar belakang budaya berbeda di seluruh dunia. Mengakui bahwa cinta, rasa hormat, atau kepedulian dapat dikomunikasikan secara beragam telah mendorong inklusivitas dalam hubungan personal.

4. Mendorong Kemandirian yang Kuat

Tumbuh di rumah tanpa afirmasi verbal yang teratur seringkali membuat penulis mencari validasi dari sumber lain, yang pada akhirnya bertransformasi menjadi dorongan kemandirian. Alih-alih bergantung pada orang lain untuk mendapatkan pengakuan, penulis belajar untuk menemukan kepastian tersebut dari dalam dirinya sendiri. Kemandirian ini telah menjadi bagian krusial dari pertumbuhan pribadinya dan berperan penting dalam membentuk perjalanan karier profesionalnya. Belajar untuk percaya pada kemampuan dan insting diri sejak usia muda memungkinkan penulis menavigasi kompleksitas profesi dengan penuh percaya diri.

5. Menghargai Kerentanan Diri

Meskipun terkesan kontradiktif, tidak sering mendengar ucapan cinta justru mengajarkan penulis untuk menghargai kerentanan atau vulnerability di dalam dirinya. Tidak adanya ucapan cinta membuat penulis lebih menyadari dan mengidentifikasi lanskap emosional, lalu berani mengungkapkannya secara terbuka. Berkat kesadaran ini, ia mampu membina hubungan yang lebih dalam dengan orang lain dan menjadikannya pendengar yang lebih baik. Keselarasan dengan emosi membantu penulis memahami nada dan sentimen dari konten yang ia kerjakan, sehingga meningkatkan kualitas keseluruhan pekerjaannya.

6. Kekuatan Cinta yang Tak Terucapkan

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore