Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 April 2025 | 16.03 WIB

7 Pengalaman Masa Kecil yang Membuat Seseorang Kesulitan Meminta Dukungan Emosional saat Dewasa

Seorang anak kecil terlihat sedih dan seorang dewasa mencoba menghiburnya (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Setiap orang pasti pernah merasa terpuruk dan membutuhkan dukungan dari orang lain. Namun, ada sebagian orang yang merasa sangat sulit untuk sekadar meminta bantuan emosional. 

Jika kamu atau orang yang kamu kenal mengalami hal ini, mungkin ada kaitannya dengan pengalaman masa kecil. Melansir dari Geediting.com, Minggu (20/4), ada tujuh hal yang sering dialami di masa kanak-kanak yang bisa membuat seseorang kesulitan meminta dukungan emosional saat dewasa.

1. Orang Tua yang Tidak Responsif atau Mengabaikan Kebutuhan Emosional

Ketika seorang anak tumbuh dengan orang tua yang tidak peka atau bahkan mengabaikan kebutuhan emosional mereka, anak tersebut belajar bahwa perasaannya tidak penting atau tidak valid. Mereka mungkin merasa bahwa mengungkapkan kesedihan atau ketidaknyamanan tidak akan mendapatkan respons yang positif, sehingga mereka berhenti mencoba untuk meminta dukungan.

2. Tumbuh dalam Keluarga yang Tidak Aman atau Tidak Stabil

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik, kekerasan, atau ketidakstabilan lainnya seringkali belajar untuk tidak mengandalkan orang lain. Mereka mungkin merasa bahwa meminta bantuan hanya akan menambah masalah atau membuat mereka semakin rentan. Akibatnya, mereka mengembangkan mekanisme koping dengan menahan emosi dan mencoba mengatasi semuanya sendiri.

3. Mendapatkan Pesan bahwa Menunjukkan Emosi Adalah Tanda Kelemahan

Dalam beberapa keluarga atau budaya, ada tekanan untuk selalu terlihat kuat dan mandiri. Anak-anak mungkin secara langsung atau tidak langsung diajarkan bahwa menunjukkan emosi, terutama emosi negatif, adalah tanda kelemahan. Pesan ini dapat tertanam kuat dan membuat mereka merasa malu atau takut untuk meminta bantuan saat dewasa.

4. Pengalaman Ditolak atau Diejek saat Mencoba Mencari Dukungan

Jika seorang anak pernah mengalami penolakan atau ejekan saat mencoba mengungkapkan perasaannya atau meminta bantuan, mereka akan belajar bahwa hal itu tidak aman untuk dilakukan. Pengalaman traumatis ini dapat menciptakan rasa takut yang mendalam untuk membuka diri dan mencari dukungan emosional di kemudian hari.

5. Bertanggung Jawab Atas Emosi Orang Tua atau Anggota Keluarga Lain

Dalam beberapa situasi, anak-anak mungkin dipaksa untuk mengambil peran sebagai penjaga emosional bagi orang tua atau anggota keluarga lain yang sedang mengalami kesulitan. Hal ini dapat membuat mereka merasa bahwa kebutuhan emosi mereka sendiri tidak penting atau bahkan menjadi beban bagi orang lain. Akibatnya, mereka belajar untuk memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri.

6. Mengalami Trauma atau Kehilangan yang Tidak Diproses dengan Baik

Pengalaman traumatis atau kehilangan yang tidak ditangani dengan tepat di masa kanak-kanak dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam. Anak-anak mungkin tidak memiliki kemampuan atau dukungan yang dibutuhkan untuk memproses emosi yang kompleks ini, sehingga mereka belajar untuk menekan atau menghindari perasaan tersebut. Hal ini dapat berlanjut hingga dewasa dan membuat mereka kesulitan untuk mencari dukungan saat dibutuhkan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore