
Tipe kepribadian anggota keluarga yang toxic menurut psikologi
JawaPos.com – Hubungan keluarga seharusnya menjadi tempat perlindungan, tetapi tidak semua anggota ikatan darah ini membawa energi positif. Psikologi menyoroti adanya tipe kepribadian dalam ikatan ini yang justru dapat menjadi sumber toxic, tekanan emosional dan mental.
Kehadiran mereka bisa berdampak buruk bagi keseimbangan batinmu. Menjaga jarak bukan berarti memutus hubungan, melainkan langkah melindungi dirimu dari dinamika yang dapat merugikan. Dengan memahami tipe-tipe kepribadian ini, kamu dapat menetapkan batas yang sehat dan tetap menjaga kesehatan emosionalmu.
Dilansir dari geediting.com pada Selasa (1/4), diterangkan bahwa terdapat sepuluh tipe kepribadian anggota keluarga yang sebaiknya kamu jaga jarak karena mereka toxic menurut Psikologi.
1. Si pemberi kritik
Hadirnya sosok keluarga yang selalu mengkritik bisa sangat melelahkan secara mental. Mereka adalah tipe yang tak pernah bisa melihat hal positif dalam setiap aspek kehidupan kamu, mulai dari pilihan karir hingga cara berpakaian yang selalu jadi bahan kritikan.
Menurut kajian psikologi, paparan kritik negatif secara terus-menerus dapat memberikan dampak serius pada kesehatan mental seseorang. Menjaga jarak dengan anggota keluarga tipe ini bukan berarti kamu tidak menyayangi mereka, tapi lebih kepada upaya melindungi kesejahteraan mental kamu sendiri.
2. Pembuat drama
Beberapa anggota keluarga memiliki keahlian khusus dalam mengubah masalah sepele menjadi drama besar. Mereka seolah mendapat energi dari menciptakan konflik dan menyebarkan gosip yang tak berkesudahan.
Berada di dekat pembuat drama seperti ini membuat kamu merasa seperti berjalan di atas kulit telur, tidak pernah tahu kapan akan meledak. Kehadiran mereka bisa membuat suasana keluarga menjadi tegang dan tidak nyaman.
3. Pengendali hidup
Sosok pengendali dalam keluarga sering bersembunyi di balik niat baik untuk membantu. Namun sebenarnya, mereka hanya ingin mendikte setiap aspek kehidupan kamu, dari pilihan pasangan hingga karir.
Perilaku mengontrol ini seringkali berakar dari kebutuhan mereka akan rasa aman dan prediktabilitas dalam hidup. Sikap mereka yang terlalu mengatur bisa membuat kamu merasa tercekik dan kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan sendiri.
4. Si kompetitif
Kehidupan bukanlah arena perlombaan, tetapi beberapa anggota keluarga tampaknya tidak bisa menghindari sikap kompetitif dalam segala hal. Mulai dari pencapaian karir, milestone finansial, hingga hal-hal sepele seperti siapa yang membuat pasta terbaik, semuanya harus dijadikan ajang kompetisi.
Perilaku kompetitif yang berlebihan ini sebenarnya berakar dari rasa tidak aman dan rendahnya kepercayaan diri. Bagi mereka yang menjadi target perbandingan, situasi ini bisa sangat melelahkan dan menciptakan tekanan yang tidak perlu.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
