Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Maret 2025 | 20.24 WIB

Jangan Merasa Terlalu Pintar, Psikolog Ungkap Mengapa Orang Cerdas Juga Bisa Terjerumus ke Sekte

Ilustrasi seseorang yang sedang berpikir dan tampak pintar. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang sedang berpikir dan tampak pintar. (Freepik)

JawaPos.com - Mungkin kita sering berpikir bahwa orang yang cerdas dan berpendidikan tidak mungkin tertipu dan bergabung dengan sekte. Namun, seorang psikolog justru mengungkapkan hal yang sebaliknya. Kecerdasan bukanlah jaminan seseorang akan terhindar dari pengaruh kelompok sesat.

Menurut psikolog itu, tidak ada seorang pun yang benar-benar terlalu pintar untuk berakhir dalam sebuah sekte. Hal ini dikarenakan sekte tidak hanya merekrut orang-orang yang lemah atau kurang berpendidikan. Faktanya, banyak anggota sekte yang justru berasal dari kalangan yang terpelajar dan sukses.

Dikutip dari geediting.com pada Rabu (26/3), berikut penjelasan mengapa orang yang cerdas sekalipun bisa bergabung dengan sekte menurut seorang psikolog.

1. Semua Orang Bisa Merasa Rentan

Satu di antara alasan mengapa kecerdasan tidak menjamin kekebalan terhadap sekte adalah karena setiap orang bisa mengalami masa-masa rentan dalam hidupnya. Saat seseorang merasa kehilangan, kesepian, atau sedang mencari jawaban atas pertanyaan besar, mereka bisa menjadi lebih terbuka terhadap pengaruh luar.

Dalam kondisi seperti itu, janji-janji komunitas yang hangat dan penuh penerimaan dari sebuah sekte bisa sangat menarik. Orang yang cerdas sekalipun tidak kebal terhadap perasaan-perasaan ini. Mereka juga bisa mencari tempat di mana mereka merasa diterima dan dipahami.

2. Kebutuhan Akan Rasa Memiliki

Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Sekte sering kali menawarkan rasa memiliki yang kuat dan intens kepada para anggotanya. Ini bisa sangat menarik bagi orang-orang yang merasa terasing atau tidak memiliki ikatan sosial yang kuat di luar sekte.

Orang yang cerdas mungkin juga merasa kesulitan untuk menemukan orang-orang yang benar-benar memahami mereka. Dalam sekte, mereka mungkin menemukan orang-orang yang memiliki minat dan keyakinan yang sama, sehingga menciptakan rasa persaudaraan yang kuat.

3. Kekuatan Manipulasi Pemimpin Sekte

Pemimpin sekte sering kali adalah individu yang sangat karismatik dan ahli dalam memanipulasi orang lain. Mereka tahu bagaimana cara menarik perhatian orang, membangun kepercayaan, dan secara bertahap menanamkan ideologi mereka. Orang yang cerdas pun bisa menjadi korban dari taktik manipulasi ini.

Pemimpin sekte sering kali menggunakan teknik psikologis yang canggih untuk mengendalikan pikiran dan perilaku para pengikutnya. Mereka mungkin menggunakan pujian, janji-janji palsu, atau bahkan ancaman untuk mempertahankan kekuasaan mereka.

4. Indoktrinasi yang Bertahap

Proses perekrutan anggota sekte biasanya dilakukan secara bertahap dan hati-hati. Mereka tidak langsung mengungkapkan semua keyakinan aneh mereka di awal. Sebaliknya, mereka membangun hubungan dengan calon anggota dan secara perlahan memperkenalkan ideologi mereka.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore