JawaPos.com - Situasi mencekam terjadi di rumah tahanan (Rutan) Salemba cabang Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pada Selasa, 8 Mei 2018, malam. Penjagaan di perketat hingga radius satu kilometer dari gerbang terluar.
Kawat berduri dipasang, beberapa kendaraan barracuda disiagakan. Awak media yang sampai di lokasi pun dilarang mendekat.
Penyebabnya, 155 narapidana terorisme tengah mengamuk. Kepala Divisi Humas Mabes Polri saat itu, Inspektur Jenderal (Irjen) Setyo Wasisto mengatakan keributan di rutan Mako Brimob terjadi sejak Rabu siang. Pemicunya, tahanan bernama Wawan Kurniawan meminta petugas memberikan makanan yang dititipkan keluarganya. Makanan itu dititipkan kepada petugas bernama Budi.
Ternyata Budi sedang tidak di lokasi, sementara petugas jaga tidak bisa segera memberikan makanan tersebut. Wawan lantas marah dan berteriak-teriak. Hal ini memicu emosi tahanan lain hingga terjadi kerusuhan.
Hingga sorenya, para tahanan berhasil menguasai rutan blok C. Dilanjutkan ke blok A dan B menjelang malam hari. Sebanyak enam polisi yang bersinggungan langsung dengan para tahanan pun disandera.
Mereka diantaranya, Bripda Wahyu Catur Pamungkas, Bripda Syukron Fadhli, Ipda Rospuji, Bripda Denny, Briptu Fandi, dan Bripka Iwan Sarjana, anggota Densus 88.
Namun sekitar pukul 16.00 WIB, Mabes Polri mengumumkan enam orang tewas akibat peristiwa ini. Lima diantaranya adalah anggota mereka. Sementara satu anggota, Iwan Sarjana masih disandera. Satu napiter, Beny Syamsu Trisno alias Abu Ibrahim tewas.
Hal ini langsung menjadi atensi pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto langsung memimpin rapat yang dihadiri Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius, Kabareskrim Komjen Pol Ari Dono Sukmanto, dan Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto.
Hingga, Rabu, 9 Mei 2018 penyanderaan belum juga usai. Jelang tengah malam, para tahanan menuntut bertemu Aman Abdurrahman, otak serangan teror di bilangan Sarinah beberapa waktu lalu.
Tim negosiasi kabarnya untuk membebaskan Iwan. Akhirnya Kamis, 10 Mei 2018, dini hari, anggota Densus 88 Antiteror itu berhasil dibebaskan.
Singkat cerita, operasi penanggulangan kerusuhan di Mako Brimob selesai pada Kamis pagi sekitar pukul 07.15 WIB. Artinya, drama kerusuhan itu berlangsung selama 36 jam. Sebanyak. teroris yang membuat keributan lalu dipindahkan ke LP Nusakambangan. Ditegaskan Wakapolri Komjen Pol Syafruddin, tidak ada negosiasi dengan para napiter
Pasca kejadian, JawaPos berhasil mewawancarai Iwan, yang dirawat di RS Polri. Anggota Densus 88 Anti-teror itu mengaku ketika kerusuhan dia dilumpuhkan para napi dari ruang pemeriksaan. Dia bersama rekan-rekannya diseret ke Blok A Rutan Mako Brimob. Lebih dari sepuluh orang menyeret Iwan.
Ketika diseret dari ruang pemeriksaan ke blok A, puluhan napi dan tahanan lain yang berpapasan memukul dan menendangi Iwan. Ada napi dan tahanan yang membawa rantai yang dipukulkan ke bagian tubuh.
Sampai di blok A rutan, mata Iwan ditutup kain, tangan diikat. Iwan diminta menghadap tembok. Setelah itu, punggungnya disiram air mendidih.
Di sisi lain, kerusuhan di Mako Brimob membangkitkan sel-sel teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Terbukti, empat terduga teroris dibekuk ketika hendak menuju Mako Brimob pada Kamis, 10 Mei 2018, sekitar pukul 01.35 WIB, atau saat kerusuhan masih berlangsung.
Mereka di antaranya, dua warga Tasik yakni AM, 39, dan HG, 40. Lalu warga Ciamis berinisial RA, 40. Terakhir warga Garut berinisial JG, 29. Namun saat dibawa, tersangka RA dan JG melakukan perlawanan kepada anggota yang membawa terduga teroris tersebut dan memberontak.
"Mereka berupaya mencekik anggota hingga borgol yang dipakaikan kepada mereka terlepas. Mereka juga berusaha merebut senjata api dari petugas," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto saat menggelar konferensi pers di kantornya, Jumat (11/5).
Anggota Densus 88 lantas melayangkan tembakan kepada JG dan RA. Keduanya lalu dibawa ke RS Bhayangkara. RA dinyatakan meninggal dunia.
Dikatakan Setyo, jaringan JAD yang bangkit ada di kota-kota besar. Diantaranya, JAD di Jabar (Jawa Barat), Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi), Jatim (Jawa Timur).
Tak henti di situ, keesokan harinya, dua wanita berinisial DSM dan SNA ditangkap karena diduga akan melakukan penusukan kepada anggota Brimob di Mako Brimob. Lalu pada Minggu 13 Mei 2018, sekitar pukul 02.00, empat orang terduga teroris di Cianjur tewas ditembak polisi.
Namun, peristiwa mengejutkan malah terjadi di Surabaya pada Minggu, 13 Mei 2018, pukul 07.30. Bom bumuh diri meledak di tiga gereja di Surabaya. Yakni, Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Pantekosta Jalan Arjuna, GKI di Jalan Diponegoro.
Pelakunya merupakan satu keluarga. Mereka adalah pemimpin JAD Surabaya, Dita, istri dan keempat anaknya. Warga yang meninggal mencapai 12 orang dalam tiga kejadian dan puluhan luka-luka.
Lalu pada malamnya sekitar pukul pukul 22.50, ledakan kembali terjadi di rumah susun Wonocolo di Sidoarjo. Anton Febrianto tewas dalam keadaan memegang saklar bom bersama istrinya, Puspita Sari dan anak pertamanya, LAR. Tiga anak lainnya, LAR, FP, dan GHA luka-luka dan dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Kota Surabaya.
Dikira serangan berakhir, ternyata pada Senin, 14 Mei 2018, pukul 08.50 WIB, bom bunuh diri terjadi di Polrestabes Surabaya. Pelakunya juga satu keluarga yang terdiri dari lima orang dengan dua sepeda motor. Satu orang anak pelaku berhasil selamat.
Senin, 14 Mei 2018, polisi kembali menangkap sembilan orang di Surabaya. Antara lain di Graha Pena dan di kawasan Jembatan Merah Surabaya. Empat orang ditembak mati karena melawan dan membahayakan petugas.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, pasca bom Surabaya, setidaknya 337 pelaku teror berhasil diamankan. Termasuk dalam jangka waktu dua bulan terakhir pada November-Desember 2018, 21 orang ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka teroris. Mereka semua bagian dari jaringan JAD.
"Dari 21 orang tersebut ditangkap di tujuh wilayah. Sumut dan Aceh ada 6 orang. Sulawesi Tengah ada 4 orang, Jawa Barat 3 orang, Sulsel 3 orang,. DIY 3 orang. Sumatera Tengah yaitu Lampung sampai Palemban, 1 orang," bebernya saat diwawancarai JawaPos.com, Jumat (21/12).
Tercatat pula dua orang baru kembali dari Suriah. Namun belum bisa dipastikan apakah mereka terlibat jaringan terorisme dan menjadi simpatisan atau hanya menjadi korban penipuan.
Namun yang pasti Dedi menegaskan bahwa Densus 88 Anti-teror juga tidak tidur, termasuk Satgas Anti-teror yang dibentuk di setiap Polda. Terlebih jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2018.
Mereka terus memonitor sleeping sell termasuk mantan kombatan. "Densus 88 sudahh memprofil, maping mereka. Tiap pergerakan diawasi," pungkas Dedi.
Temanggung dan Banyumas
Tanggal 1 Februari 2018 lalu, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror mengamankan tiga orang terduga teroris di sebuah toko grosir sepatu. Beralamat di Dusun Bengkal, RT 05 RW 05, Kranggan, Temanggung, pagi hari. Penangkapan ini berbarengan dengan operasi serupa di Kecamatan Purwokerto Selatan, Banyumas, dimana 2 orang terduga lainnya ditangkap di sana.
Mereka yang ditangkap di Temanggung antara lain W alias AN dan L, asal Tegal. Selain itu, ada pula terduga lain asal Temanggung berinisial Z. Sementara, SL dan S adalah sosok terduga dari Banyumas.
Dari penangkapan di Temanggung, petugas turut mengamankan dua buah ponsel, enam buah flashdisk, sebuah dompet, dan beberapa buku keagamaan dan uang tunai jutaan Rupiah sebagai barang bukti. Sementara di Banyumas, ada sebuah busur panah disita.
Namun, sehari berselang L dan Z yang ditangkap di Temanggung dipulangkan. "Setelah diinterogasi, yang dua dikembalikan karena cuma rekan kerja saja dan sisanya densus 88 yang menangani," di kata Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono di Mapolda Jateng, Semarang, Jumat (2/2).
"Mereka yang masih diperiksa ini diduga terlibat dengan jaringan Thamrin sebagai pemasok senpi yang didapat dari jaringan Filipina," lanjutnya.
Pada bulan Juni, Densus 88 kembali terjun ke Jateng. Kali ini, seseorang yang tinggal di Kecamatan Weleri, Kendal sebagai sasarannya. Adalah E, yang diduga terlibat dalam suatu jaringan teroris.
Kendal
Sesuai penuturan Kapolres Kendal AKBP Adiwijaya, penangkapan E berlangsung pada tanggal 4 Juni, sekitar pukul 04.00 wib di depan Gapura Desa Nawangsari pada saat selepas sahur. Karena memang kala itu masih bulan puasa.
Namun Kapolsek Weleri AKP Abdullah Umar mengatakan bahwa setelah penangkapan, terduga teroris tidak dibawa ke Polres Kendal. "Setelah ditangkap langsung dibawa ke Mabes Polri untuk diamankan di sana," jelasnya.
Tegal dan Semarang
Operasi Densus 88 berulang sebulan kemudian di Tegal. Saat itu, seorang warga RT 12 RW 04 Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, diringkus dengan alasan dugaan keterlibatan dalam jaringan kelompok terror.
Penangkapan Y dilakukan, Sabtu (4/8) tidak jauh dari toko optik bernama Optimal Optik di Pasar Kemantran, Kecamatan Kramat. Toko itu diketahui milik yang bersangkutan dan dikelola bersama istrinya.
Kapolsek Kedungbanteng AKP Abdul Ghofir saat dikonfirmasi, mengungkap bahwa terduga pelaku merupakan warga asli Desa Semedo yang pernah bertransmigrasi ke luar Pulau Jawa. Sedangkan istrinya, katanya asli Jakarta.
"Betul. Penangkapan oleh Densus 88. Diduga terkait jaringan JAD. Namun, penangkapanya saat di Kemantran, Kramat, Kabupaten Tegal sekitar pukul 08.30 WIB," terang Ghofir saat dikonfirmasi.
Seakan hampir lolos dari sorot media, ternyata di hari yang sama dengan penangkapan Y, Densus 88 juga mengamankan terduga lain di Kota Semarang. Adanya operasi ini baru terkuak beberapa jam setelah peristiwa di Tegal.
Ialah AG, 35, warga RT 6 RW 5 Kelurahan Manyaran yang ditangkap dan rumahnya turut serta digeledah, kata Ketua RT setempat, Ahmad Nurhadi. Menurutnya, penangkapan AG terjadi pada Sabtu (4/8) pukul 09.00 wib. "Di jalan penangkapannya. Sorenya, baru rumahnya digeledah," katanya saat dijumpai di rumahnya, Semarang, Minggu (5/8).
Penggeledahan yang melibatkan anggota kepolisian berpakaian preman itu, namun menurut Ahmad, sempat ditolak oleh istri AG, Nur Khasanah. Tapi setelah negosiasi, akhirnya diizinkan.
Dari perbincangan bersama Ketua RT, didapati sejumlah fakta terkait sosok AG, termasuk hasil penggeledahan rumahnya. Katanya, terduga bukan orang yang gemar bersosialisasi dengan warga sekitar. Kegiatan-kegiatan macam arisan bapak-bapak, menurutnya tak pernah diikutinya.
Bekas perawat di RSUD Kendal itu, katanya saat ini membuka praktek bekam setahun belakangan. Selain tinggal bersama istrinya, Angga diketahui juga memiliki enam orang anak. Dimana yang paling besar belum lama ini baru naik kelas III Sekolah Dasar.
Namun menurut Ahmad, mereka tak diikutkan program imunisasi oleh orangtuanya. Ibu dari anak-anak itu sendiri, lanjutnya, sama seperti suaminya. Yakni tidak pernah ikut kegiatan ibu-ibu di sana.
Ahmad sebenarnya sudah lama menaruh curiga terhadap Angga. Pasalnya, yang bersangkutan, katanya kerap keluar malam dan baru kembali saat dini hari. "Keluar jam sepuluh malam, pulangnya pas subuh. Makin curiga lagi pas tahu ternyata ada polisi yang sudah lama mantau," sambungnya.
Apalagi, selama ini AG juga tak pernah memasang bendera Indonesia maupun umbul-umbul. Terutama jelang dan saat perayaan kemerdekaan. "Habis pengeledahan itu, polisi juga menunjukan ke saya foto kursi tamu motif ukir Garuda. Tapi matanya sudah rusak karena dicongkel," katanya lagi.
Salatiga
Terakhir, adalah penangkapan teroris siber di Kota Salatiga pada Senin (1/10) sekitar pukul 14.35 WIB. Titiknya di Jalan Diponegoro, atau depan SDN 1 Sidorejo Lor, Kecamatan Sidorejo.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Agus Triatmaja mengatakan bahwa operasi ini ditangani oleh Densus 88. Sementara jajaran petugas Polres Salatiga menurutnya hanya memberikan backup saja.
Pasca melakukan penangkapan, aparat Densus 88 langsung menggeledah rumah terduga teroris siber tersebut. Pengeledahan dilakukan bersama aparat Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Salatiga.
Hasilnya, petugas mengamankan beberapa barang bukti, antara lain sepatu warna abu-abu biru, SIM card MP3, handphone merek Polytron. Lalu celana lorek, flashdisk berwarna putih, modem, notebook merek Asus berwarna hitam, jaket hoodie.
Adapun kaos berwarna hitam dengan tulisan Jihad, Because Jihad is Awesome, dua buah tas, android tablet merek Evercross, dan kartu SIM sebuah operator seluler. “Kasusnya ditangani langsung Densus 88. Tersangka juga sudah dibawa Densus 88” imbuh Kabidhumas.
Teroris Jogjakarta
Peristiwa rentetan penangkapan ini, semakin heboh pada Sabtu (14/7) petang. Tempat kejadian berada di Jalan Kaliurang km 9,5 Ngaglik, Sleman.
Kejar-kejaran memakai sepeda motor yang dilakukan oleh Densus 88 terjadi. Terduga teroris yang berjumlah 3 orang pun sempat melukai 2 petugas. Mengakibatkan luka bacok di bagian pinggang dan tangan.
Terduga dalam peristiwa itu juga sempat ada yang membajak sebuah truk. Serta menyandera perempuan, warga sekitar. Menanyainya mengenai keberadaan rekan dari terduga yang memakai sepeda motor kabur ke mana.
Upaya pelarian para terduga pada petang itu akhirnya berakhir. Sebanyak 2 orang ditembak di tepi jalan. Sementara 1 lagi yang menyandera perempuan, ditembak di halaman depan rumah milik warga.
Pada malamnya, Kabid Humas Polda DIJ AKBP Yulianto yang datang ke lokasi pun mengiyakan. Ketiganya merupakan terduga teroris. Penangkapan ini juga merupakan pengembangan dari pengamanan sebelumnya. "Ya total ada 8 (terduga teroris yang sudah diamankan)," katanya, malam itu.
Belum berhenti di situ, pada Rabu (18/7) kembali Densus 88 dari Mabes Polri mengamankan terduga teroris. Atas nama Ismail, yang tinggal bersama istri dan anak-anaknya di Jalan Perumnas Condong Sari, Padukuhan Ngropoh, Kelurahan Condongcatur, Depok, Sleman,
Pengembangan yang dilakukan, Densus 88 pun melakukan penggeledahan rumah kontrakan Ismail di Jalan Selokan Mataram No. 11B, RT 12/50 Pogung Dalangan, Sinduadi, Mlati, Sleman, yang digunakan untuk rumah makan.
Dari penangkapan terhadap Ismail itu, petugas juga mengamankan busur panah, CD, maupun buku-buku Islam. Kapolres Sleman, AKBP Firman Lukmanul Hakim memang mengiyakan penangkapan itu dilakukan oleh Densus.
Proses penanganan terduga teroris kemudian dilakukan oleh Densus 88 Mabes Polri. Pada Kamis (22/12), petugas melakukan rekonstruksi terhadap peristiwa penangkapan terduga di Jalan Kaliurang km 9,5. Sebanyak 2 orang tersangka dihadirkan untuk menjalani 30 adegan.
Direktur Ditreskrimum Polda DIJ, Kombes Pol Hadi Utomo mengatakan, rekonstruksi itu dilakukan langsung oleh Densus 88. "Ada 30 adegan tadi yang dilakukan," katanya, Kamis (22/11).
Tersangka yang dihadirkannya yakni inisial GN dan BS, warga Jogjakarta. Mereka selama ini ditahan di Rutan Brimob Kelapa Dua, Depok.
"Rekonstruksi ini untuk menambah keterangan pemeriksaan. Jadi untuk pemenuhan berkas yang sudah dikirim ke jaksa, agar mensinergikan antara kejadian dalam satu peristiwa," katanya.
Hadi tak mengungkap alasannya kenapa baru dilakukan rekonstruksi, karena kejadiannya sudah cukup lama. Yaitu pada Juli 2018 silam. Hanya, menurutnya adanya permintaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). "Supaya diperjelas uraian kejadiannya," ucapnya