alexametrics
Kaleidoskop 2018

Akhir ‘Dramaturgi’ Panggung Politik Ratna Sarumpaet

31 Desember 2018, 10:05:09 WIB

JawaPos.com – Di luar nalar akal sehat. Entah apa yang ada di dalam pikiran seorang Ratna Sarumpaet kala itu. Ia dan drama kebohongan penganiayaannya membuat publik tak habis pikir. Ratna bersandiwara di tengah hiruk pikuk realitas ‘panggung’ politik dua kubu (pro petahana dan anti pemerintah).

Ratna memosisikan diri di barisan oposisi pemerintah. Ia pun diketahui menjadi aktor dalam serangkaian kampanye #2019GantiPresiden. Tak hanya di Jakarta, ia tercatat aktif bersuara kepada masyarakat untuk tidak memilih kembali presiden yang saat ini menjabat. Gerakan #2019GantiPresiden pun merambah ke berbagai daerah di Indonesia.

Akhir ‘Dramaturgi’ Panggung Politik Ratna Sarumpaet
Infografis drama kebohongan Ratna Sarumpaet (Rofiah Darajat/JawaPos.com)

Aksinya gencar menyampaikan kritik terhadap pemerintah menuai simpati bagi sesama tokoh di barisan oposisi. Tercatat pada 18 Maret 2018, Ratna Sarumpaet berpidato dalam sebuah acara bertajuk ‘Bandung Informal ‎Meeting‘ di Bandung. Ia menyampaikan rasa sedihnya karena nasib rakyat Indonesia semakin terpuruk.

“Sulit membayangkan 250 juta rakyat Indonesia yang diridoi Allah SWT, dititipi kehidupan bernegara yang baik oleh pendiri negara, sekarang hidup seburuk ini,”  kata dia.

Pada 13 Agustus 2018, Ratna Sarumpet bersama para nama tokoh lain membentuk relawan untuk kemenangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Mereka dinamakan dengan Gerakan Selamatkan Indonesia (GSI). Kemudian, ia tercatat menjadi salah satu pimpinan tim Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno (Capres-cawapres Nomor Urut 02).

Ratna mengaku akan bertarung habis-habisan memenangkan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno pada Pilpres 2019 nanti. Ratna pun sempat menegaskan jika Prabowo-Sandi kalah maka Indonesia bisa hilang. “Ingat ya kalau kali ini kita kalah, Indonesia hilang,” kata Ratna.

Cita-citanya menumbangkan kubu capres-cawapres lawan terhenti saat Ratna tersandung batu kebohongan. Ratna mencelakakan diri dengan menyampaikan berita tidak benar kepada publik. Ia berbohong seolah-olah luka wajah lebam yang dideritanya akibat dianiaya oleh sekolompok orang tak dikenal saat berada di Bandung akhir September 2018.

Namun, pada 3 Oktober 2018, publik tercengang. Ratna Sarumpaet mengakui dirinya berbohong atas beredarnya foto wajah lebamnya. Itu bukan karena dianiaya, melainkan bekas dari perawatan usai menjalani operasi kecantikan di sebuah rumah sakit di Jakarta. Sambil menahan tangis, Ratna mengaku khilaf atas drama kebohongan yang ia ciptakan sendiri.

Dalam konferensi itu Ratna pun meminta maaf Capres Prabowo Subianto, Amien Rais, juga rekan-rekan tim pemenangan.

“Jadi, tidak ada penganiayaan. Itu hanya cerita khayal yang diberikan entah oleh setan mana ke saya dan berkembang seperti itu,” Ratna dalam konferensi pers di kediamannya kawasan Kampung Melayu Kecil, Jakarta Timur pada 3 September.

Fenomena hoax yang diciptakan oleh tokoh seniman yang juga aktivis kemanusiaan itu mendapat sorotan dari pengamat. Arief Rofiudin, Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia itu menilai, perilaku demikian kerap dipertunjukkan aktor politisi dalam kontestasi panggung politik.

Kasus yang ditampilkan Ratna Sarumpaet, Arif mengutip teori Dramaturgi, Erving Goffman. Ia menilai apa yang diperankan aktor politisi di atas panggung politik syarat dengan motif tertentu. Lebih jauh ia menjelaskan, aktor memiliki modal memainkan peran, terutama modal  bersifat simbolik. Misalnya, kemampuan orasi, meyakinkan pemilih atas gagasan-gagasannya.

“Para politisi mewajibkan diri menguasai panggung, sehingga mampu menyakinkan penonton (masyarakat) seolah-olah dia benar. Padahal, realitas itu ada di balik panggung. Di mana peran aktor politik sedikit yang tahu,” ujar Arif saat dikonfirmasi, Sabtu (29/12).

Dengan kata lain, kata Arief, Ratna Sarumpaet bermaksud meyakinkan masyarakat atas segala gegasannya, akan tetapi sandiwara politiknya terbongkar saat salah ‘bermain peran’ dengan drama penganiayaan yang disebarkan melalui media sosial.

“Hemat saya, kalau dianalisis, kasus Ratna Sarumpaet itu hanya sebatas teatrikal di atas panggung politik semata. Ibarat orang sudah terpukau dengan suatu pertunjukkan, tapi cara-cara bohongnya terbongkar,” kata dia.

Dicekal Di Bandara Saat Menuju Chili

Pada 4 Oktober November 2018, Ratna sedianya terbang Chili untuk menghadiri konferensi penulis naskah teater perempuan sedunia. Ratna diundang untuk memberikan pidato kebudayaan di acara pembukaan konferensi. Ia berencana menaiki Peawat Turkey Airways melalui Bandara Soekarno-Hatta. Tak lama duduk di kursi pesawat, dia tiba-tiba didatangi petugas imigrasi. Ratna dicekal berpergoian ke luar negeri atas usulan dari Polda Metro Jaya.

Ratna dicekal sehari setelah ia mengakui mengakui perbuatannya sudah membohongi publik. Atas dasar itu pihak kepolisian mengendus adanya unsur pidana mengenai penyebaran berita bohong yang diedarkan melalui media elektronik.

“Sedang di jalan, ini kita menunggu kedatangan polisi,” ucap Ratna saat dijemput di Bandara menuju Polda Metro jaya saat itu.

Ditahan Ditkrimum Polda Metro

Keesokan harinya, 5 Oktober 2018, Ratna Sarumpaet resmi ditahan di Polda Metro Jaya. Polisi resmi menahan atas kasus hoax penganiayaan yang dibuatnya. Penahanan itu dilakukan berdasarkan pertimbangan subjektivitas penyidik Direktorat Resor Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.

Penyidikan Ratna Sarumpaet pun berlanjut. Atas kasusnya itu, sejumlah nama tokoh yang diduga terlibat menyebarkan foto wajah lebam Ratna Sarumpaet pun dipanggil menjadi saksi oleh penyidik. Nama-nama yang dimaksud adalah, Amien Rais, Said Iqbal, Nanik S. Deyang, Dahnil Anzar Simanjuntak, Atiqah Hasiholan, dan yang terakhir adalah Rocky Gerung.

Berkas Dikirim Ke Kejaksaan

Berkas kasus Ratna Sarumpaet resmi dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Jakarta Selatan, pada 8 November 2018. Berkas kasus pertama penyebaran berita hoax drama penganiayaan diajukan oleh penyidik Polda Metro Jaya ke pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Pelimpahan berkas perkara tersangka Ratna Sarumpaet itu merupakan berkas pertama yang dilakukan oleh penyidik atas kasus penyebaran hoax.

Dari hasil evaluasi, berkas Ratna Sarumpaet dikembalikan ke penyidik. Karena pihak Kejaksaan menyatakan berkas Ratna belum lengkap (P21). Dengan kata lain, berkas itu perlu dilengkapi kembali oleh tim penyidik. Atas usulan itu, penyidik memanggil nama saksi lain yaitu Rocky Gerung menggali informasi seputar foto wajah lebam yang diedarkan melalui media sosial.

Usai memeriksa Rocky Gerung, Penyidik Polda Metro berniat segera mengembalikan berkas perkara tersangka Ratna Sarumpaet ke pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, berkas perkara Ratna Sarumpaet sudah dinyatakan lengkap oleh penyidik usai melakukan pemeriksaan Rocky Gerung. “Untuk berkas perkara RS sudah dinyatakan lengkap oleh penyidik. Maka segera akan dikirim kembali ke kejaksaan,” kata Argo. 

Editor : Erna Martiyanti

Reporter : (wiw/JPC)



Close Ads
Akhir 'Dramaturgi' Panggung Politik Ratna Sarumpaet