JawaPos Radar

Permaisuri Jadi Pemutus Mata Rantai 'Lintah Darat' ke UMKM

31/08/2018, 19:00 WIB | Editor: Budi Warsito
Permaisuri Jadi Pemutus Mata Rantai 'Lintah Darat' ke UMKM
Siti Adisma Simangunsong menunjukkan produk ulos yang dikelolanya. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memfokuskan pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Namun, masyarakat ternyata juga butuh permodalan yang cukup untuk menjalankannya.

Tidak sedikit UMKM yang kandas karena kekurang modal. Acapkali, para pelaku meminjam uang ke rentenir. Bunganya juga cukup besar dengan jaminan yang tidak menentu.

Di Kabupaten Simalungun, tidak sesikit UMKM yang pernah terlibat utang dengan 'lintah darat'. Mereka juga kesusahan membayar hutang mereka. Apalagi dengan UMKM mereka yang terus mengalami pasang surut karena geliat pasar yang menurun.

Siti Adisma Simangunsong menjadi salah satu pelaku UMKM yang pernah terlilit utang dengan rentenir. Dia adalah produsen ulos, kain khas Batak yang bermukim di Nagori Mariah Jambi, Kecamatan Jawa Maraja, Kabupaten Simalungun.

Dia sempat kebingungan mencari solusi untuk pembiayaan usahanya. Produksi sempat menurun karena ketiadaan modal. Kesusahan hidupnya bertambah. Dia juga harus membiayai tiga anaknya yang masih SMA dan seorang lagi di SMP.

Dia kemudian mendapat informasi tentang program kredit Permaisuri (Perempuan Mandiri dan Suri Tauladan) dari Bank Sumatera Utara (Sumut). Usahanya mulai membaik.

"Jadi sejak itulah saya tidak mengutang lagi dengan rentenir. Usaha saya mulai baik lagi, " kata Siti Adisma, Jumat (31/8).

Menurutnya Permaisuri sangat membantu. Para kreditur tidak dibebankan agunan ketika meminjam uang. "Jadi memang betul gak terbebani. Cicilannya juga sangat ringan," katanya.

Siti Adisma sudah ikut program Permaisuri selama delapan tahun. Program itu memang dibuat Bank Sumut untuk para kaum ibu agar bisa membantu perekonomian keluarga.

Para kaum ibu ini dibentuk menjadi kelompok. Usahanya pun beragam. Mulai dari kuliner, kerajinan, hingga berjualan kedai kelontong.

"Jadi kelompoknya itu punya yanggung jawab untuk anggotanya. Kalau ada yang tidak bisa membayar cicilan, mereka akan membayarkannya. Istilahnya sistem tanggung renteng," kata Credit Marketing Officer (CMO) Cabang Koordinator Bank Sumut Pematang Siantar Monika Novelista Panjaitan.

Selain tanpa agunan, bunganya juga cukup rendah yakni hanya 15,6 persen per tahun. Pinjamannya mulai Rp 1 juta sampai Rp 60 juta yang dibagi dalam beberapa cluster.

"Kita berharap dengan adanya bantuan kredit permaisuri ini, kaum ibu dapat mandiri dan menjadikan perekonomian keluarga menjadi mapan," kata Monika.

Saat ini kredit Permaisuri sudah hampir mencapai angka yang ditargetkan di Siantar-Simalungun. Untuk Cabang Koordinator (cabkor) Pematang Siantar hampir mencapai target.

Dari 50 kelompok, kini sudah terbentuk 40 kelompok binaan. Untuk produk unggulan yang dihasilkan juga terus dibina. Beberapa diantaranya sudah dipromosikan hingga internasional.

"Di sini, ada salah satu pengusaha ulos binaan kita, kalau ada pameran UMKM selalu kita bawa," tandasnya.

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up