Program Listrik di Kelurahan Sijantung, Batam

Layani 260 Pelanggan Baru, PLN Batam Rogoh Rp 5 Miliar

31/08/2018, 14:22 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Peresmian sambung listrik baru di Desa Sijantung, Kecamatan Galang, Batam. (Bobi Bani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Bright PLN Batam terus berupaya menghadirkan keadilan energi. Terutama di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, daerah terisolir, dan pulau terluar. Salah satunya di Kelurahan Sijantung, Kecamatan Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Sejak Selasa (14/8) lalu, warga Sijantung bisa menikmati akses listrik sebagai 24 jam. Tentu hal itu menghadirkan kebahagiaan sendiri. “Dari mulai adanya bumi, baru saat ini kami dapat listrik,” celetuk salah satu warga Sijantung, Soni, 43.

Sebelumnya, Soni dan 259 warga Sijantung harus membayar Rp 100 ribu setiap bulan untuk mendapat aliran listrik. Itupun hanya mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB. Di luar jam tersebut, warga tidak lagi memperoleh aliran listrik. Sehingga setiap aktivitas warga yang berkaitan dengan listrik harus dikerjakan pada malam hari.

Panel Surya yang merupakan paket LTSHE di rumah warga Kampung Monggak, Kecamatan Galang, Batam. (Bobi Bani/JawaPos.com)

Selain Kelurahan Sijantung, masih ada kampung lainnya di pesisir Batam yang akhirnya menikmati listrik dari PLN. Adalah Kampung Tanjung Kertang, Cate, Tebing Tinggi dan Sungai Aleng, serta Belongkeng. Semuanya berada di Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang. Kemudian Kampung Sungai Raya dan Sembulang di Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang.

General Manager Servis Bisnis Unit (SBU) Bright PLN Batam Fansis Al Zuhari mengatakan, masih ada dua kampung lagi yang akan mendapatkan aliran listrik. Yakni, Kampung Monggak dan Pasir Panjang, serta Pantai Melayu di Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang.

“Semoga Oktober nanti bisa tersambung di sana. Itu kami rencanakan bertepatan dengan hari listrik nasional,” ucap Fansis di sela peresmian sambungan listrik baru di kelurahan Sijantung.

Penyaluran listrik di kawasan pesisir Batam seperti di Kecamatan Galang, memberikan tantangan tersendiri bagi Bright PLN Batam. Lokasinya yang cukup jauh dari kota dan terdiri dari pulau-pulau, membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Bahkan untuk melayani 260 pelanggan baru di Kelurahan Sijantung, diperlukan investasi sekitar Rp 5 miliar.

Biaya tersebut bisa lebih tinggi lagi apabila nantinya program listrik dilanjutkan ke pulau-pulau yang terpisah dari Batam. Karena tentu akan menggunakan sambungan kabel bawah laut atau membangun pembangkit di pulau-pulau tersebut.

Selain PLN, program keadilan energi juga dijalan pemerintah daerah. Pada 2011, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Batam menyalurkan bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE). Khususnya kepada masyarakat yang belum terjangkau aliran listrik PLN.

Hingga 2015, program itu sudah menjangkau 1.903 rumah warga pesisir. Saat itu, pemerintah menargetkan jangkauan LTSHE hingga 2.568 rumah warga. Salah satu penerima bantuan LTSHE adalah Maryam, 51, warga Kampung Monggak, Kelurahan Rempang Cate. Dia mengaku sangat terbantu dengan program tersebut.

Dengan panel surya, kebutuhan listrik di siang hari bisa terpenuhi meski tidak untuk kegiatan berat yang membutuhkan tegangan tinggi. Panel surya bisa mengimbangi listrik di Kampung Monggak yang hanya hidup dari pukul 18.00 WIB sampai 23.00 WIB. “Untuk charge HP dan nonton TV siang bisa dengan tenaga surya ini. Blender bumbu masak juga bisa,” kata Maryam ketika ditemui di kampungnya.

Masuknya listrik tenaga surya juga mengakhiri masa-masa penggunaan lampu minyak tanah (pelita) sebagai penerang setelah genset mati. Sebelum hadirnya tenaga surya, pelita menjadi lampu tidur warga pesisir. Untuk beberapa warga yang tidak mampu membayar mahalnya biaya genset, pelita bahkan menjadi penerang utama mereka.

Mariam menjelaskan, LTSHE bukan bantuan pertama yang diterima warga pesisir. Sebelumnya sudah ada bantuan berupa unit mesin genset. Pertama kali, bantuan genset hadir pada 2000-an.

Bantuan itu cukup berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Hal yang paling mencolok adalah nyala bohlam di setiap rumah warga meski hanya sampai tengah malam. Kemudahan aktivitas menonton TV.

Sebelumnya, TV adalah barang mewah. Sehingga setiap rumah yang memiliki TV selalu dipenuhi warga. “Untuk lampu saja tak ada, kalau mau nonton TV numpang di rumah tetangga yang nyala (teraliri listrik) rumahnya,” ungkap Mariam menggambarkan kehidupan di kampungnya.

Mariam menegaskan, bantuan sumber listrik telah memberikan kemudahan bagi masyarakat. Sekalipun setiap bantuan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. “Kalau mesin api (genset) biaya mahal, tapi listriknya kuat (tegangan tinggi). Tenaga surya murah, tapi tenaganya tidak sperti mesin lampu,” ulas Mariam.

Sementara itu, Lurah Kelurahan Rempang Cate Suyatmi menambahkan, akses listrik dari Bright PLN Batam ke beberapa kampung di diwilayahnya menjadi kabar baik. Diharapkan, program itu bisa terus berkembang dan menyebar ke kampung-kampung lain.

(bbi/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi