alexametrics

Kasus Daging Babi Tak Ngaruh, Pelanggan Tetap Cinta Sate Padang

31 Januari 2019, 23:05:29 WIB

JawaPos.com – Tiga hari pasca penggerebekan sate babi KMS B Simpang Haru, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), tak serta merta membuat geliat kuliner sate menyusut. Animo masyarakat masih cukup stabil untuk berburu sate di Kota Padang.

“Nggak terlalu ngaruh. Kan yang jual babi itu KMS B. KMS asli, sate lain, banyak di Padang. Dijamin halalnya. Saya tidak ragu,” kata Etri, 27, sambil lahap menyantap sate Ajo di jalan Sawahan Padang, Kamis (31/1).

Pemuda asal Tanah Datar itu mengatakan, polemik sate babi memang gencar di media sosial (medsos). Banyak juga warga Padang hingga daerah lain di Sumbar yang kaget atas berita itu.

“Tapi yang namanya makanan nikmat, makan terus. Apalagi, halal. Nggak mungkin gara-gara satu yang salah, semua kena getahnya,” sebutnya.

Begitu juga tanggapan Fadil, 28. Menurutnya, persoalan sate babi KMSB sudah ditangani pihak berwajib. Sebagai penikmat sate, dia meminta, agar masyarakat di medsos jangan lagi menghakimi sate-sate di Padang.

“Mari kita bangkitkan lagi semangat makan sate. Ini khas kita di Ranah Minang. Jangan sampai ulah satu pedagang, geliat sate mati. Berapa banyak orang bergangtung hidup dari jualan sate,” kata Fadil yang juga tengah makan Sate Ajo.

Pemilik sate merek “Sate Ajo” turut menimpali. Menurutnya, kasus sate babi di Simpang Haru tidak terlalu berpengaruh signifikan dari hari-hari biasa. “Penjualan saya normal-normal saja,” kata Ajo, 46 pada JawaPos.com.

Ajo sendiri mengaku telah berjualan sate khas Pariaman di jalan Sawahan sejak tahun 2009 silam. Satu porsi satenya dibandrol Rp 15 ribu dengan 7 tusuk daging. Selama ini, Ajo hanya menjual sate daging sapi.

“InsyaAllah, kalau jujur, aman-aman saja. Pelanggan saya tidak berkurang,” bebernya.

Sementara itu, pedagang sate lainnya, Syafrisal alias Aciak, 48, mengaku terkejut dengan kabar sate babi di Simpang Haru. Dia mengaku geram ulah pedagang nakal tersebut. “Gara-gara dia (penjual sate babi, semua pedagang sate kena imbas,” terang Aciak yang berjualan di Kelurahan Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang.

Aciak berharap, masyarakat tidak menyamaratakan semua pedagang sate. Apalagi Aciak menggantung hidup hanya dengan berjualan sate. Dengan sate gerobak itulah Aciak setiap hari berkeliling demi menghidupi dua anak perempuannya.

“Sudah 18 tahun jualan sate. Istri meninggal 2007. Lalu 2010 hingga saat ini jadi pedagang sate. Semoga jangan gara-gara peristiwa itu, orang tidak lagi mau beli sate,” terangnya.

Saat ini, terang Aciak, belum terasa dampak penurunan pembeli sate. Sebab, mayoritas mahasiswa UNP masih libur. Namun, omset hari ini dibandingkan hari sebelumnya memang agak turun.

“Kalau lagi sepi paling dapat Rp 400 ribu. Kalau ramai atau lagi masa kuliah sampai Rp 700 ribu,” ungkapnya. 

Editor : Yusuf Asyari

Reporter : Riki Chandra


Close Ads
Kasus Daging Babi Tak Ngaruh, Pelanggan Tetap Cinta Sate Padang