alexametrics

Lion Air JT 610 Jatuh, Babel Kehilangan DPRD, Jaksa, dan Hakim

30 Oktober 2018, 08:00:54 WIB

JawaPos.com – Jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 Jakarta-Pangkalpinang di perairan Karawang, Jabar, kemarin, membuat Bangka Belitung (Babel) kehilangan putra-putri terbaiknya. Dari total 189 penumpang dan awak kabin yang hilang, tercatat beberapa nama penting di Babel.

Dari DPRD Babel, 6 anggota dan 2 staf menjadi korban. Mereka adalah H.K. Djunaidi (Demokrat), Ahmad Mughni (Golkar), Murdiman (PKS), Muktar Rasyid (PAN), H Eling (PPP), dan Dolar (PKB). “Ada beberapa teman kami yang turut menjadi korban hilangnya Lion Air tersebut. Selain enam teman-teman dewan, juga ada dua staf yang ikut dalam pesawat itu,” kata Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Babel Yusderahman kemarin (29/10).

Dari Polda Bangka Belitung, tiga anggotanya menjadi korban, yakni AKBP Sekar Maulana (Irbid Bin Itwasda), AKBP Mito (Kabag Bekum Biro Sarpras), dan Bripka Rangga Adiprana (anggota Polres Pangkalpinang). “Tiga orang yang masuk menifes, kita doakan mereka selamat,” ucap Kabidhumas Polda Babel AKBP Abdul Munim.

Lion Air JT 610 Jatuh, Babel Kehilangan DPRD, Jaksa, dan Hakim
Puing-puing pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Pakits, Karawang, Jabar, kemarin. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Kejaksaan Negeri (Kejari) Pangkalpinang juga berduka. Kasipidsus Dodi Junaidi masuk manifes pesawat yang jatuh. Kajari Pangkalpinang Ari Agung membenarkan adanya informasi itu.

Begitu juga Kejari Bangka Selatan (Basel). Shandy Johan Ramadhan, seorang staf, ikut menjadi korban. “Ya, benar ada satu pegawai Kejari Basel di dalam pesawat itu,” kata M. Kausar, pegawai Kejari Basel.

Dari Pengadilan Tinggi Babel, empat hakimnya masuk manifes pesawat. Yakni, hakim tinggi Kartika Ayuningtyas Upiek dan Asnahwati. Lalu, hakim Pengadilan Negeri (PN) Koba Ikhsan Riyadi dan hakim Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Babel Rizal Mahdi.

Rekan korban, hakim Binsar Gultom, memastikan keberadaan mereka dalam pesawat. “Kita sudah bisa memastikan kalau dua rekan kita (Kartika Ayuningtyas Upiek dan Asnahwati) itu menjadi korban,” katanya.

Dari PT Timah Tbk, empat karyawannya termasuk penumpang pesawat nahas tersebut. Mereka adalah Cosa Rianda Syahab (Kabid MS), Filzaladi (CSR Unit Belinyu), Trie Yudha Gautama (Kabid Akuntansi Manajemen PT Timah), dan Nikki Bagus Santoso (CSR Wilayah Mentok).

Tiga karyawan Rumah Sakit Bhakti Timah (RSBT) Pangkalpinang juga menjadi korban. Mereka adalah Dede Anggraini (kepala keuangan RSBT Pangkalpinang), dr Rio Pratama, dan dr Natalie Setiawan (keduanya dokter RSBT).

BPK Babel menjadi pihak yang paling banyak kehilangan. Tercatat sepuluh pegawainya menjadi korban. Mereka adalah Harwinoko, Martua Sahata, Dicky Jatnika, Achmad Sobih Inajatullah, Imam Riyanto, Yunita Sapitri, Yoga Perdana, Resky Amalia, Yulia Silviyanti, dan Zuiva Puspitaningrum. “Betul, itu pegawai BPK ada sepuluh orang dan sudah dinyatakan resmi oleh BPK pusat. Sampai saat ini kita sedang menunggu perkembangannya,” kata Humas BPK Babel Danang kepada Babel Pos.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mendatangi kantor Basarnas kemarin. Dia ingin mengecek keberadaan 21 anak buahnya yang menjadi korban. “Mereka terbang ke Pangkalpinang dalam rangka tugas,” katanya kemarin. Seluruh pegawai Kemenkeu itu bertugas di kantor Kemenkeu Pangkalpinang.

Sebelumnya, sebagian pegawai tersebut mengikuti rangkaian kegiatan Hari Oeang Ke-72 pada 27 Oktober lalu di Jakarta. Selain itu, ada yang mendapatkan panggilan tugas rapat koordinasi di Jakarta sekaligus memanfaatkan berakhir pekan untuk berkumpul bersama keluarga di Jakarta.

Sementara itu, dari BPKP, tercatat dua auditor dari perwakilan BPKP Babel menjadi korban. Mereka adalah Haris Budianto dan Putri Yuniarsi. Kepala Biro Hukum dan Humas BPKP Syaifudin Tagamal mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan keluarga korban. “Pegawai BPKP sudah mengantarkan keluarga ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta, untuk diambil sampel DNA sambil menunggu perkembangan di RS itu,” jelasnya.

Suasana kantor crisis center di Bandara Soekarno-Hatta sepanjang hari kemarin (29/10) dipenuhi kedukaan mendalam. Sejak pesawat dikabarkan hilang, keluarga korban berdatangan. Sejak siang hingga malam, mereka datang silih berganti.

Meski belum mendapat kepastian nasib kerabatnya, mayoritas keluarga sudah menunjukkan kesedihan. Meski ada yang berusaha tegar, wajah muram, mata sembap, dan isak tangis mewarnai banyak lokasi.

Saking sedihnya, hanya segelintir keluarga korban yang mau bercerita. Salah satunya James Sianturi. Dia ayahanda penumpang bernama Jan Efriyanto. Dia datang dari Jambi bersama istri dan anak sulungnya.

James menuturkan, Jan merupakan anak keduanya. Saat ini Jan bekerja sebagai karyawan di BNI Kota Pangkalpinang. Kemarin dia terbang dari Jakarta ke Pangkalpinang setelah mengikuti pelatihan di Bandung. “Anak saya komunikasi terakhir tadi malam,” ujarnya di halaman crisis center.

James menambahkan, peristiwa yang dialami anak kelahiran 1992 itu cukup membuatnya terpukul. Sebab, Jan direncanakan melangsungkan pernikahan pada Mei 2019. Calonnya adalah perempuan asal Pekanbaru yang bekerja di Jakarta.

Karena itu, pria dengan lima anak itu masih berharap anaknya selamat. Mendapat keajaiban. “Hanya Tuhan yang mengetahui dan mudah-mudahan Tuhan memberi mukjizat,” tuturnya.

Apalagi, kata dia, Jan merupakan salah seorang yang dapat prioritas untuk bisa menggapai karir yang baik. James mengaku melakukan segalanya demi kesuksesan Jan. “Dia satu-satunya anak saya yang saya mati-matian memperjuangkan dia sampai jadi (sukses),” ungkapnya.

Kesedihan yang sama dialami Fitri Sagala. Perempuan paro baya itu kemarin datang ke kantor crisis center untuk mencari informasi adik iparnya. Namanya Mangatur Sihombing. Adiknya merupakan karyawan PT Angkasa Pura I yang bertugas di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang. “Belum dapat kabar,” ujarnya sesaat setelah keluar.

Karena bekerja di Pangkalpinang, lanjut dia, Mangatur memang kerap pergi pulang ke sana. Namun, dia mengakui, kepergiannya kali ini sedikit berbeda. Tak seperti biasanya, adiknya tak memberi kabar ihwal rencana kepulangannya ke Jakarta. “Biasanya dia sudah punya rencana kapan balik ke Jakarta. Kemarin bilang tidak tahu. Mungkin sudah merasa,” imbuhnya.

Sementara itu, pasca beredarnya informasi jatuhnya Lion Air JT 610, beberapa anggota keluarga penumpang silih berganti mendatangi kantor pusat Lion Air di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, sejak pukul 10.00.

Salah satunya adalah Fifi, warga Jakarta, yang pagi itu datang untuk menanyakan update dan konfirmasi kecelakaan Lion Air. Setelah sekitar 30 menit masuk di ruangan customer care, Fifi lantas keluar dengan wajah gelisah.

Berulang perempuan 29 tahun itu menelepon seseorang melalui ponselnya. “Paman dan bibi saya ada di penerbangan itu. Keduanya sudah dikonfirmasi pihak Lion Air ada di data manifes,” ujarnya. Fifi merupakan keponakan Kasan dan Nie Mie, dua penumpang Lion Air. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (rin/lyn/far/agf/bry/c10/agm)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Lion Air JT 610 Jatuh, Babel Kehilangan DPRD, Jaksa, dan Hakim