alexametrics

Garap Tanggul Sungai untuk Stop Banjir di Pasuruan

30 April 2019, 09:29:37 WIB

JawaPos.com – Pasuruan hampir selalu menjadi langganan banjir saat musim hujan tiba. Karena itu, pemerintah pusat dan provinsi berencana melakukan normalisasi beberapa sungai. Rencananya, proyek tersebut dikerjakan tahun depan.

Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hari Suprayogi menjelaskan, Kali Welang menjadi satu-satunya sumber air yang meluber ke Kraton.

“Memang hujan lagi tinggi-tingginya ya, tidak hanya di Jawa Timur, tapi juga di seluruh Pulau Jawa,” ucap Hari. Menurut dia, kejadian itu selalu berulang setiap dua bulan. “Sebulan lalu Bu Gubernur Jawa Timur baru mengusulkan untuk melakukan antisipasi di beberapa daerah. Kali Welang ini salah satunya,” terang pria kelahiran Malang tersebut.

Karena inisiatif baru diajukan bulan lalu, PUPR kini masih tahap perencanaan dan peninjauan lokasi. Antisipasi jangka panjang baru bisa terealisasi tahun depan. “Rencananya, dibuatkan tanggul untuk menahan luberan air dari Kali Welang itu,” tambah dia.

Untuk sementara, Kementerian PUPR akan berfokus pada tanggap bencana. Hari menyatakan bersedia jika diminta untuk membantu mengatasi banjir di Pasuruan tersebut. Dia siap mengirim beberapa peralatan untuk mengurangi air yang meluber. Penanganan bencana itu akan dikoordinasikan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). “Untuk saat ini, kami akan bantu membuat tanggul sementara,” terang dia.

Warga berusaha menyelamatkan dari terjangan banjir yang melanda Pasuruan, Jawa Timur. (Mokhamad Zubaidillah Jawa Pos Radar Bromo)

Pemprov Jatim ikut membantu penanganan banjir di Pasuruan. Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Satriyo Nurseno menyatakan, pihaknya telah menyiapkan kebutuhan dasar untuk warga terdampak. Termasuk pembersihan pascabanjir.

Satriyo menyebutkan, banjir di Pasuruan terjadi karena meluapnya Kali Welang. Sungai itu tidak mampu menampung kapasitas air yang cukup besar. Karena itu, pemprov berencana melakukan normalisasi. Lantaran butuh dana besar, Dinas PU Sumber Daya Air Jatim akan mengajukan dana alokasi khusus (DAK) ke pusat.

“Karena kebutuhannya besar, mungkin tahun depan,” katanya. Saat ini tim sedang mengkaji kebutuhan dana untuk normalisasi Kali Welang. Karena itu, dia tidak bisa menyebutkan estimasi anggaran yang dibutuhkan. Satriyo mengakui, langkah normalisasi memang tidak bisa menghilangkan banjir. Namun setidaknya mengurangi dampak terjadinya banjir. “Karena banyak sekali sumber, selain hujan deras, aliran dari hulu, juga gelombang rob dari laut,” jelasnya.

Sementara itu, kondisi jalan di Pasuruan sudah bisa dilewati meski di beberapa desa masih terjadi genangan 5-10 cm. Selain Pasuruan, hujan deras yang terjadi Minggu malam (28/4) menimbulkan genangan di beberapa wilayah di Jatim. Satriyo menyebutkan, banjir terjadi di sembilan kabupaten. Yakni, Gresik, Mojokerto, Nganjuk, Kota dan Kabupaten Pasuruan, jalan raya nasional Surabaya-Probolinggo, Lamongan, Madiun, serta Porong-Sidoarjo.

“Banjir yang paling parah di Gresik, setinggi 70 cm. Saat ini mulai surut. Ketinggian genangan sekitar 10 sampai 20 cm,” ujarnya. Meski begitu, Satriyo mengingatkan warga untuk tetap waspada. Sebab, berdasar data BMKG, curah hujan dalam beberapa minggu terakhir cukup tinggi.

Sementara itu, pantauan Jawa Pos Radar Bromo, intensitas hujan semakin tinggi pada Minggu sekitar pukul 19.00. Pada saat bersamaan, air laut pasang. Kondisi itu membuat sejumlah aliran sungai, seperti Sungai Rejoso, Laweyan, Kali Welang, dan Kali Petung, tidak mampu menampung debit air yang begitu deras.

Akibatnya, air sungai meluap dan menerjang permukiman warga sejak pukul 21.00. Ketinggian air antara 20 sampai 90 sentimeter. Banjir terparah terjadi di Dusun Karangasem, Kelurahan Karangketug, Kota Pasuruan. Ketinggian air di permukiman warga mencapai 1-1,2 meter.

Banjir mencapai puncaknya pada Minggu sekitar pukul 22.00. Luapan banjir mulai menutupi jalur pantura. Akibatnya, akses Probolinggo-Surabaya terputus selama 17 jam.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Pasuruan Yanuar Afriansyah mengungkapkan, banjir menggenangi 25 kelurahan yang tersebar di empat kecamatan di Kota Pasuruan. Sekitar 15 ribu kepala keluarga (KK) terdampak. Warga terdampak banjir dievakuasi. Bantuan makanan dan obat-obatan juga diberikan. Yanuar menyebut banjir tahun ini merupakan yang terparah sejak 2010.

Banjir di permukiman mulai surut sekitar pukul 11.00. Ruas Jalan Probolinggo-Kraton baru bisa dilewati sekitar pukul 13.00. Namun, Jalan Sambirejo, Kecamatan Rejoso, hingga tadi malam tak kunjung normal.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (tom/rf/puj/bin/c22/c11/c7/oni)