JawaPos Radar

Sebagian Daerah Sumbar Berawan dan Hujan Saat Gerhana Bulan

30/01/2018, 21:12 WIB | Editor: Budi Warsito
Sebagian Daerah Sumbar Berawan dan Hujan Saat Gerhana Bulan
llustrasi (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Fenomena gerhana bulan total atau super blue blood moon diprediksi terjadi, Rabu (31/1) malam. Sumatera Barat (Sumbar) menjadi salah satu wilayah yang bakal dilewati.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang Pariaman menganalisa, kondisi cuaca diperkirakan akan berawan dan hujan ringan saat gerhana bulan total itu terjad.

Kota dan Kabupaten di Sumbar yang diprediksi berawan antara lain, Padang, Bukitinggi, Padang Panjang, dan Pariaman. Kemudian, Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Padang Pariaman.

"Cuaca hujan ringan diperkirakan terjadi di kabupaten Pasaman Barat, Dharmasraya, Pasaman, Solok Selatan, Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh," kata Kepala BMKG BIM Padang Pariaman Achadi Subarkah Raharjo, Selasa (30/1).

Lebih lanjut Achadi Subarkah Raharjo mengatakan, fenomena gerhana bulan terbilang unik. Bahkan terlama sepanjang abad ini. Diperkirakan, fenomena itu akan berlangsung sampai 1 jam 16,8 menit.

Fase gerhana bulan kali ini terang Achadi, diawali pada pukul 17.48 WIB dan gerhana total mulai terjadi pada pukul 19.51 WIB. Sedangkan puncak gerhana total diperkirakan terjadi sekitar pukul 20.29 WIB.

Gerhana total ini akan berakhir sekitar pukul 21 08 WIB dan keseluruhan fase gerhana bulan berakhir pada pukul 23.09 WIB.

"Fenomena gerhana bulan berbeda dengan gerhana matahari yang terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 lalu, yang mempengaruhi penurunan suhu udara permukaan bumi," jelasnya.

Hingga saat ini, kata Achadi Subarkah Raharjo, belum ada kajian ilmiah yang menjelaskan seberapa besar pengaruh gerhana bulan total terhadap pola cuaca ekstrem di bumi secara khusus.

Sebelumnya, Kepala Stasiun BMKG Padang Panjang Rahmat Triyono menjelaskan, fenomena gerhana bulan terjadi pada Rabu (31/1). Fenomena itu konon berbarengan dengan posisi bulan yang lebih dekat dengan bumi, dibanding biasanya.

"Jarak bulan dan bumi nanti diprediksi sejauh 360 ribu kilometer atau biasa disebut posisi perigee. Posisi ini berlawanan dengan apogee, yakni jarak terjauh antara bulan dan bumi sekitar 400 ribu kilometer," jelasnya.

Rahmat mengatakan, gerhana bulan terjadi saat muka bulan tertutup oleh bayangan bumi. Kondisi ini terjadi saat bumi berada tepat di antara matahari dan bulan dalam garis lurus yang sama. "Artinya, cahaya matahari tak mampu mencapai permukan bulan akibat terhalangi oleh bumi," tegasnya.

Menurutnya, bagi masyarakat yang ingin menyaksikan gerhana bulan ini, bisa digunakan dengan mata telanjang. Tanpa harus menggunakan kacamata khusus, seperti halnya menyaksikan gerhana matahari.

(rcc/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up