alexametrics

Buk-Buk Neng, Tradisi Mencari Orang Hilang di Mojokerto

Dianggap Diambil Makhluk Gaib, Tabuh Perkakas
29 September 2019, 15:15:31 WIB

Sebagian masyarakat Kabupaten Mojokerto masih kental dengan adat dan budaya warisan nenek moyang. Itu ditandai dengan tetap dilestarikannya sejumlah tradisi. Baik yang bersifat tahunan seperti ruwatan maupun yang dilakukan secara kondisional atau dilaksanakan jika ada kejadian tertentu.

ADA tradisi yang namanya cukup unik, yaitu buk-buk neng. Ritual itu digelar hanya ketika terjadi orang atau anggota keluarga yang hilang. Tradisi tersebut hingga kini masih bisa dijumpai di Kabupaten Mojokerto, khususnya di wilayah utara Sungai Brantas.

Iwan Abdillah, pemerhati sejarah dan folklor Mojokerto, menjelaskan, belum ada catatan pasti kapan awal mula buk-buk neng diterapkan masyarakat Mojokerto. Diperkirakan, ucap dia, tradisi itu dilakukan sejak era Kerajaan Majapahit. Kemudian, tradisi tersebut tetap dilanjutkan pada generasi berikutnya.

’’Masyarakat menggelar buk-buk neng untuk mencari orang hilang yang dianggap tak wajar,’’ terangnya. Artinya, lanjut Iwan, hilangnya orang tersebut dikaitkan dengan hal yang mistis. Masyarakat meyakini bahwa seseorang yang hilang itu sedang disembunyikan atau dibawa makhluk halus ke dunia gaib.

Menurut Iwan, buk-buk neng biasanya dilaksanakan ketika sudah dilakukan upaya pencarian, tapi tidak kunjung ditemukan selama berhari-hari. ’’Masyarakat memercayai bahwa orang tersebut sedang didekap oleh makhluk tak kasat mata sehingga secara fisik tidak bisa terlihat,’’ paparnya.

Oleh karena itu, digelarlah buk-buk neng sebagai upaya terakhir dalam melakukan pencarian. Dalam tradisi tersebut, penyisiran dilakukan dengan membawa berbagai peralatan dapur. Mulai tampah, ebor, wajan, dandang, panci, hingga alat untuk memasak lainnya. Kemudian, dilakukan penelusuran dengan berkeliling di sekitar lokasi hilangnya seseorang sambil berteriak memanggil nama korban.

Peralatan dapur itu juga ditabuh secara beramai-ramai hingga menciptakan kegaduhan. Oleh karena itu, ritual tersebut dilakukan dengan mengajak anggota keluarga dan tetangga sekitar. Dengan bunyi-bunyian itu, makhluk halus dipercaya akan mengikuti irama hingga melepaskan dekapan orang yang dicari. Diharapkan, melalui ritual buk-buk neng, orang yang dicari bisa ditemukan kembali.

Nama buk-buk neng diambil dari suara peralatan dapur saat ditabuh. Peralatan yang terbuat dari kayu atau bambu mengeluarkan bunyi buk saat dipukul. Sementara itu, peralatan yang terbuat dari logam seperti wajan, panci, dan dandang menghasilkan bunyi neng.

’’Ketika ada bunyi buk dan neng itu, entah demit atau makhluk halusnya berjoget. Akhirnya, tanpa disadari, orang yang didekap lepas sehingga dapat terlihat kembali,’’ ujarnya.

Iwan menambahkan, sebelum dilakukan ritual buk-buk neng, anggota keluarga biasanya menggelar selamatan. Selain memanjatkan doa, mereka mengirimkan sesaji di lokasi hilangnya korban.

’’Terlepas percaya atau tidak, biasanya setelah dilakukan buk-buk neng, orang yang dicari bisa ditemukan. Baik itu dalam keadaan hidup atau sekadar menemukan jasadnya,’’ jelas alumnus Universitas Airlangga (Unair) jurusan Antropologi Sosial itu.

Tentang Ritual Buk-Buk Neng

  • Dilakukan untuk mencari orang hilang.
  • Diyakini hilang karena didekap dan dibawa makhluk gaib.
  • Pencarian dilakukan dengan membawa peralatan dapur di lokasi hilangnya seseorang.
  • Beramai-ramai melakukan pencarian dengan memanggil nama dan menabuh alat dapur.
  • Menghasilkan bunyi gaduh buk-buk dari alat yang terbuat dari kayu dan bunyi neng dari bahan logam.
  • Suara yang dihasilkan dipercaya membuat makhluk halus berjoget dan lantas melepaskan dekapan sehingga orang bisa ditemukan.
  • Juga digelar acara selamatan dan membuat sesaji.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ram/c5/diq



Close Ads