JawaPos Radar

Banyak Mahasiswa Asal Palu Belum Tahu Kondisi Keluarga

29/09/2018, 17:38 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Gempa Donggala
PARAH: Kapal laut yang terdampar di perkampungan penduduk di Palu usai gempa dan tsunami. (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Gempa di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, turut menimbulkan kekhawatiran sejumlah orang di berbagai daerah. Salah satunya dialami Dimas Adhi Nugroho. Mahasiswa asal Palu itu sedang menimba ilmu di Universitas Ma Chung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim).

Dimas menjelaskan, banyak teman-temannya yang belum tahu mengenai kondisi keluarga mereka setelah gempa. "Kami masih belum tahu apakah ada korban luka atau bagaimana. Karena setahu saya, banyak teman yang masih kesulitan menghubungi anggota keluarga mereka. Akses komunikasi masih susah," kata anggota Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sulawesi Tengah (IPPMST) Malang itu kepada JawaPos.com, Sabtu (29/9).

Mahasiswa tingkat akhir di Ma Chung itu lebih beruntung. Karena usai gempa dan tsunami, Dimas bisa segera berkomunikasi dengan keluarga. Jumat (28/9) sore, dia mendapatkan kabar kejadian gempa dari saudaranya. Sang kakak hanya mengirimkan pesan yang isinya permintaan tolong.

Dimas pun segera menelepon. Namun ketika ditelpon balik justru tidak ada nada sambung, akses komunikasi terputus. Tak kurang akal, Dimas segera berkomunikasi dengan saudara lainnya. Dia pun tahu kondisi terakhir keluarga di sana.

"Puji Tuhan aman, selamat tidak ada korban jiwa dari keluarga saya. Memang kemarin malam kondisinya terpencar. Tapi sekarang sudah berkumpul. Kakak saya itu yang memastikan semua keluarga dalam keadaan selamat," beber warga Tatura, Palu, yang lokasinya dekat Ramayana Mall yang runtuh usai gempa.

Meski jarak lokasi tempat keluarganya tinggal sekitar 30 kilometer dari pusat gempa di Donggala, namun hingga kini keluarga Dimas masih takut untuk masuk ke dalam rumah. Mereka lebih memilih untuk berada di lapangan atau halaman rumah. Bersiaga jika terjadi gempa susulan.

"Masih takut masuk rumah. Apalagi Oma sempat terluka usai gempa, untung nggak parah. Sementara kerabat yang merupakan orang tua dari pendeta di gereja tempat saya ibadah, dinyatakan meninggal dunia. Jadi keluarga saya masih siaga," ungkapnya.

Saat ini, Dimas berada di Malang. Dia mengaku bingung apakah akan pulang ke Palu dalam waktu dekat ini atau tidak. Mengingat Bandara Mutiara Sis Al Jufrie masih ditutup.

"Masih menunggu informasi dari keluarga. Apakah saya yang ke sana atau mereka ke sini. Bandara masih ditutup juga. Mereka nggak bisa ke mana-mana karena akses darat banyak jembatan yang putus. Jadi nggak bisa ngungsi ke kota lain," tegasnya.

Sementara itu, Erwin, satu warga Padanjese, Donggala Kodi, Palu, mengaku keluarganya dalam kondisi baik. Salah satu pengusaha sukses di Palu itu mengatakan, kerusakan paling parah dialami warga di dekat pesisir. "Infrastruktur rusak parah. Karena kami di bukit, jadi getarannya tidak begitu terasa. Beda dengan yang di bawah bukit," paparnya kepada JawaPos.com.

Hingga kini, komunikasi ke Palu masih belum stabil. JawaPos.com mencoba menghubungi Rahmawati Fatimah, seorang pengusaha kuliner asal Malang. Sejak Jumat (28/9) malam hingga kini masih belum bisa. Telepon juga tidak ada nada sambung.

(tik/JPC)

Alur Cerita Berita

Kelangkaan BBM Mulai Teratasi 29/09/2018, 17:38 WIB
Akses ke Palu Makin Mudah 29/09/2018, 17:38 WIB
Pasar Manonda Palu Kembali Bergeliat 29/09/2018, 17:38 WIB
Jokowi Kerahkan Psikolog ke Sulteng 29/09/2018, 17:38 WIB
Gempa Sulteng, 2.736 Sekolah Rusak 29/09/2018, 17:38 WIB
TNI Kirim Tiga Pesawat ke Palu 29/09/2018, 17:38 WIB
TNI Kirim 6 Ton Alkes ke Sulteng 29/09/2018, 17:38 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up