Suku Sasak Asli Gotong Royong Bangun Lombok

29/08/2018, 14:30 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Seorang warga suku Sasak tengah bersantai di bawah lumbung padi beralas alang-alang yang menjadi ciri khas di Desa Sade. (Sekaring Ratri/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Masyarakat Lombok dan Sumbawa tampaknya tak mau terpuruk. Mereka mulai bangkit bergotong royong memperbaiki rumah dan membersihkan lingkungan pasca gempa bumi dahsyat yang mengguncang wilayahnya.

Salah satunya di Desa Senaru, Lombok Utara. Kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, meski daerahnya luluh lantak diguncang gempa berkali-kali, namun mereka tetap bertahan hidup dengan semangat kebersamaan. Masyarakat segera bergotong royong untuk kembali
bangkit setelah bencana yang melanda.

Semangat kegotongroyongan dalam membangun kembali desa adat Senaru yang terdampak gempa, menunjukkan semangat asli suku Sasak. "Beriuk tinjal istilah dalam bahasa Sasak untuk semangat kegotong royongan ini," ujar Sutopo kepada wartawan, Rabu (29/8).

Dia menuturkan, sesungguhnya masyarakat Lombok dan Sumbawa memiliki kearifan lokal yang luar biasa. Mereka hidup dan berkembang dengan peradaban yang dimilikinya sesuai dengan alam yang memang rawan gempa. "Mereka telah memiliki daya adaptasi dan harmoni dengan alamnya," imbuh Sutopo.

Masyarakat Lombok katanya memiliki pemahaman bahwa alam memang sedang menuju keseimbangan. Berkah atau musibah tergantung bagaimana manusia menyikapinya.

Sutopo menerangkan, sudah sejak ribuan tahun yang lalu masyarakat Indonesia belajar tabiat alam. Maka lahirlah kearifan-kearifan lokal. "Ini adalah modal sosial yang luar biasa yang harus kita tumbuhkembangkan sebagai bagian dari upaya kita untuk mewujudkan masyarakat yang tangguh bencana," tegas dia.

Sementara itu, Sutopo menambahkan bahwa masyarakat Lombok fan Sumbawa sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Sebagian masyarakat telah kembali melakukan aktivitas di pasar.

Sebagian lainnya juga tetap melakukan aktivitas di ladang, kebun dan lahan pertanian. "Saat siang hari mereka bekerja, dan malam hari mereka tinggal di pengungsian atau tenda," pungkasnya.

(dna/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi