JawaPos Radar

Sangat Akrab, Pak Eko Sampai Dipanggil Papi Oleh Anak Buahnya

29/08/2018, 11:58 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Sangat Akrab, Pak Eko Sampai Dipanggil Papi Oleh Anak Buahnya
Pak Eko bersama anak-anak yang kerap meneriakkan: Masoook Pak Eko di video yang viral. (DIDA TENOLA/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Smartphone yang digenggam AKP Hari Cahyono tiba-tiba berdering. Ada video call masuk dari nomor yang tidak ada di daftar kontak Eko. Sambil memegangi power bank yang kabelnya menjuntai di tangan kirinya, Eko menggeser telunjuknya, menjawab panggilan masuk tersebut.

Di layar smartphone Eko, langsung terlihat dua wajah Polwan yang menyapa dengan ceria. Kedua Polwan itu, kata Eko kepada JawaPos.com, berdinas di Polda Banten. ”Halooooo Papiiiiii. Apa kabaaaarr?” sapa kedua polwan itu semringah, sembari melambaikan tangannya kepada Eko.

”Hoiiiii, Alhamdulillah baik. Ini papi mau syuting,” jawab Eko tak kalah ceria. Kedua polwan itu merupakan mantan anak didik Eko saat menjalani pemusatan latihan di Pusdik Sabhara Mabes Polri, Porong, Sidoarjo. Eko memang dikenal sangat akrab dengan banyak anak buah yang kini sudah berdinas di kesatuan masing-masing. Bahkan sebelum dirinya viral sekalipun.

Pak Eko menunjukkan kemampuannya kepada Jawa Pos untuk melempar berbagai benda tajam (DIDA TENOLA/JAWA POS)

Semenjak viral, semakin banyak mantan anak didiknya yang menghubungi. Sekadar menanyakan kabar. Mereka tidak akan lupa dengan Eko. Dia memang menganggap mereka seperti anak sendiri. Hampir setiap hari, Eko menjalin silaturahmi dengan mereka kendati terpisahkan jarak. Meskipun cukup melalui video call, WhatsApp, sampai saling menyapa di kolom komentar Instagram.

Eko mengatakan, dirinya berusaha untuk selalu dekat dengan anak didik yang dilatihnya. Sebagai instruktur lapangan, dia berusaha memahami karakter masing-masing orang. Dia sadar, usianya terpaut jauh dengan para siswanya. Oleh sebab itu, Eko berusaha gaul.

”Kalau di sini memang anak-anak biasa manggil saya papi. Orang yang nggak tahu mungkin kalau dengar kesannya negatif, kayak papi-papi. Tapi memang saya kepingin anak-anak itu dekat, makanya saya minta dipanggil papi,” terangnya.

Sebelum dipanggil papi, Eko sempat dipanggil abang. ”Serasa kayak alumni Akpol gitu mas, manggilnya bang-bang. Biar mereka ini pede, seperti nggak ada sekat antara yang Akpol dengan yang bukan,” imbuh Eko.

Umumnya, para siswa Sabhara yang dilatih di Pusdik menjalani pemusatan pendidikan selama tujuh bulan. Otomatis, mereka tidak setiap hari bisa bertemu dengan Eko. Jadi bisa dibilang, pertemuan mereka dengan Eko begitu singkat. Kalau ada kesempatan, mereka bisa bertemu Eko saat menjalankan pendidikan lanjutan. Tapi itu tidak semuanya.

Makanya, mereka rutin menggelar anniversary. Masing-masing angkatan hampir selalu menggelar reuni tahunan. Dan tak jarang, mereka mengundang Eko.

”Anak-anak itu sangat baik ke saya. Bahkan kalau anniversary, ada yang sampai menyediakan tiket pesawat sama penginapan. Semuanya disediakan sama mereka,” tutur polisi dengan tiga balok di pundak tersebut.

Namun, Eko hampir pasti tidak bisa mendatangi acara reuni semacam itu. Maklum saja, dia tidak bisa meninggalkan tugasnya sebagai instruktur. Personil Sabhara yang dilatih di Pusdik itu hampir selalu ada. Satu gelombang pelatihan selesai tujuh bulan, akan ada gelombang peserta lain yang akan menyusul. Interval waktunya sekitar dua sampai tiga minggu.

Eko kerap meminta maaf karena tidak bisa memenuhi undangan mantan anak-anak didiknya. Meskipun tidak bisa datang, bukan berarti Eko melupakan mereka. Murid-murid yang pernah dilatihnya akan selalu terpatri di hatinya.

 ”Ada juga yang bikin acara di sini (Pusdik Sabhara Polri, Porong, Red). Kalau di sini saya selalu menyempatkan diri untuk datang, kangen juga lah sama anak-anak,” ucap Eko. 

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up