Benarkah Gawai Pemicu Kebakaran Hutan? Ini Penjelasan Masyarakat Adat

29/08/2018, 05:50 WIB | Editor: Estu Suryowati
ILUSTRASI KEBAKARAN HUTAN. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho disomasi lantaran menyebut gawai pemicu kebakaran hutan. (Yudi Handoyo/Jawapos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho disomasi oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar dan organisasi lainnya. Hal itu lantaran dalam sebuah pemberitaan Sutopo menyebut tradisi gawai penyebab kabut asap.

Ada dan bagaimanakah gawai itu? Benarkah kearifan lokal di bidang pertanian perkebunan ini menjadi salah satu pemicu kebakaran hutan seperti kata Sutopo?

Sekretaris MADN Yakobus Kumis menuturkan, tradisi masyarakat Dayak selama ini dalam melakukan pengelolaan ladang bergilir dilakukan pembakaran dengan mengedepankan kearifan lokal.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Jumat (23/2). (Reyn Gloria/JawaPos.com)

Misalnya dalam mencari lahan yang tidak merusak lingkungan dan kehidupan.

"Sebelum berladang mereka berdoa dulu minta petunjuk boleh atau tidak di situ. Kalau boleh baru mereka menebas, setelah itu baru mereka membakar," katanya dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Rabu (29/8).

Ketika membakar pun mereka selalu berhati-hati. Jangan sampai ketika api menjalar ke ladang orang lain. Jika itu terjadi, mereka dikenakan sanksi adat.

"Mereka harus mengganti kebun orang batang per batang, apabila dia tidak benar-benar menjaga lahannya," jelasnya.

Makanya masyarakat Dayak tidak sembarangan ketika membakar ladang. Lahan terlebih dahulu disekat sekitar dua meter sampai ke kulit tanah. Sehingga tidak ada lagi rerumputan.

Kemudian di sekeliling lahan dibuat kolam-kolam kecil untuk menampung air. Ketika mau membakar mereka harus melaporkan dulu kepada kepala desa.

"Setelah itu dibincangkan siapa yang berbatasan dengan ladangnya kiri kanan, depan belakang, bahkan satu kampung diumumkan. Semua masyarakat bergotong-royong melakukan penjagaan api," pungkasnya.

Terkait pernyataan Sutopo, dia mengaku heran. Mengapa gawai serentak dianggap pemicu kebakaran hutan dan lahan dibeberapa titik.

Memang banyak titik api di pedalaman, tetapi tidak menyebabkan kabut asap. Sebab di area tanah mineral, setelah dibakar asapnya hilang.

"Namun di daerah gambut, ini lah yang menyebabkan kabut asap," ulasnya.

Yakobus menuding permasalahan kabut asap diciptakan lahan gambut. Sehingga perlu diantisipasi. Ke kedalaman lahan gambut di wilayah Kota Pontianak dan Kalbar lainnya bisa mencapai belasan meter.

"Karena namanya gambut tidak pernah dibakar habis, dia terus makan ke dalam. Karena kedalamannya sampai enam dan belasan meter, disiram pun dia akan hidup lagi," sebutnya.

Di wilayah gambut orang dayak mencari kehidupan. Di sana tidak ada kegiatan berladang. Makanya mereka komplain dan protes terhadap pernyataan Sutopo yang menuduh gawai mengakibatkan kabut asap.

"Padahal gawai adalah ucapan syukur terhadap Tuhan atas kesehatan dan hasil panen selama setahun," ungkapnya.

Dia mengatakan akan melakukan penegakkan hukum adat kepada Sutopo. Lantaran sudah salah berbicara. Kemudian Sutopo harus mencabut pernyataannya di media-media yang telah dia keluarkan.

"Dia harus lakukan itu, dia harus jantan. Seandainya dia mendapat informasi dari bawahannya harusnya dia mengkaji dulu, jangan main keluar," katanya.

Somasi yang dilayangkan memberi waktu kepada Sutopo agar dalam tempo tujuh hari meminta maaf kepada masyarakat Dayak. Melalui media di mana dia membuat pernyataan. Termasuk di DAD Kalbar sendiri.

Seandainya batas waktu yang disediakan Sutopo belum juga meminta maaf, maka pihaknya akan melakukan somasi. Meskipun saat ini Sutopo sudah minta maaf lewat media sosial miliknya.

"Kami minta dia minta maaf lewat semua media yang kemarin dia mengeluarkan pernyataan dan mengajukan permohonan maaf kepada DAD Kalbar," pungkasnya.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi