alexametrics

Jelang Pencoblosan, Kiai di Jatim Makin Solid Dukung Khofifah-Emil

29 Mei 2018, 05:29:25 WIB

JawaPos.com – Semakin mendekati hari pencoblosan tanggal 27 Juni, geliat dukungan untuk pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak semakin masif. Terutama dukungan dari para tokoh agama, para kiai dan ulama.

Dukungan para ulama ini bermula dari para kiai yang membentuk tim 9 sebagai tim pendukung Khofifah Indar Parawansa. Dari sejumlah kiai dalam tim 9 di antaranya, tercatat KH Sholahudin Wahid, KH Afifudin Muhajir Situbondo, Lily Wahid, KH Asep Saifudin Chalim, KH Suyuti Thoha Banyuwangi, hingga Prof Fathoni Tulungagung, KH Mutam Mukhtar Madura.

Dalam berbagai penentuan kebijakan yang dibawa Khofifah tidak pernah lepas dari peran para kiai. Termasuk ketika menentukan pasangan Khofifah dalam Pilgub Jawa Timur hingga akhirnya jatuh pada Emil Elestinato Dardak ditunjuk sebagai wakilnya.

Seiring berjalan waktu, dukungan demi dukungan para kiai menaungi perjalanan politik Khofifah dalam Piiligub Jawa Timur. Berawal dari dukungan para kiai Tebu Ireng kepada Khofifah ini berdampak getok tular kepada kiai-kiai lainnya di Jawa Timur.

Ini juga yang menjadikan para tokoh wilayah Mataraman, Pandalungan atau Tapalkuda dari Pasuruan Raya hingga ke Bondowoso dan Banyuwangi. Dorongan para kiai ini yang semakin memberikan  motivasi tuntuk tim pasangan Khofifah-Emil semakin gencar mengkampanyekan paslon Gubernur-Wakil Gubernur nomor satu ini.

Salah satunya dari ulama kenamaan KH Abdullah Syaukat Siradj.  Kiai kharismatik Pasuruan ini mengatakan, dukungan untuk Khofifah Emil diberikan bukan tanpa alasan. Dukungan itu diberikan lantaran hubungan Kiai Abdullah Siradj diketahui sudah terjalin sejak lama.

“Saya kenal beliau sudah lama. Bahkan sebelum beliau jadi calon gubernur. Dukungan saya kepada beliau bukan hanya ucapan. Tapi juga dalam bentuk memilih beliau. Saya siap menggerakkan santri dan juga jaringan alumni Sidogiri untuk memilih Khofifah-Emil,” kata Kiai Abdullah Syaukat Siradj, Selasa (29/5).

Saat ini saja santri Ponpes Sidogiri berjumlah 10 ribu. Kiai Siradj mengatakanakan memanfaatkan jaringan wali santri dan alumni untuk memilih Khofifah-Emil. 

Dukungan dari kiai juga datang dari ulama wilayah Tapalkuda. Salah satunya dukungan dari ulama masyhur Situbondo KH Afifuddin Muhajir. 

Bukan tanpa alasan, kiai Afifudin menilai pasangan Khofifah-Emil adalah pasangan yang mengerti agama. Kedua merupakan pasangan ideal dengan pengetahuan agama dan latar belakang sama. Baik Khofifah dan Emil, keduanya lahir dari lembaga ormas Islam, Nahfdlatul Ulama (NU)

“Nah, di sini saya menginginkan pemberdayaan NU dimulai dari Jawa Timur. Karena itu dibutuhkan pemimpin yang bisa mengembali NU pada kejayaannya, sekurang-kurangnya memiliki tiga peran penting. Pertama NU sebagai benteng aqidah ahlussunnah wal jamaah, kedua NU sebagai pengawal moral, dan ketiga NU sebagai penyangga NKRI,” kata Kiai Afif.

“Di sini saya melihat sosok Khofifah Indar Parawansa seorang yang memiliki kapasitas dan potensi untuk mengembalikan NU kepada kejayaannya. Kita harus mencari orang yang bisa memberdayakan NU, di sisi lain kita harus jauh dari pada memilih orang yang selama ini tidak menguntungkan NU,” imbuhnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut para ulama dan kiai dari wilayah Tapal Kuda. Dari mulai KH. Hasan Abdul Jalal Hasyim, KH. Syamsudin Noer, KH. Abdul Hadi Nur hingga pimpinan Majlis Syubbanul Muslimiin KH. Hafidzul Hakim Noer.

Sokongan untuk Khofifah-Emil pun semakin kuat ketika para ulama dari Pulau Madura menyatakan dukungan. Ratusan kiai, habaib, gus dan nyai pun berkumpul bermufakat mendukung Khofifah-Emil di pilgub jatim 2018. 

Para ulama yang mayoritas pimpinan pondok pesantren di Madura ini pun menandatangani surat sebagai tanda bukti dukungan untuk Khofifah-Emil. Deklarasi dukungan unutuk Khofifah-Emil pun  dipimpin langsung Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Ahmad Shiddiq.

“Menyeru dan memfatwakan fardhu ‘ain kepada seluruh masyarakat Jawa Timur untuk memilih paslon Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak dalam Pilgub Jatim 2018,” tulis fatwa bernomor 1/SFMM/V/2018 tersebut, Sabtu (19/5).

Fatwa tersebut menyebutkan sejumlah alasan mendukung Khofifah-Emil. Khofifah-Emil dinilai memiliki persyaratan untuk mewujudkan Jatim yang maju, adil, dan makmur. Keduanya dinilai jujur, dapat dipercaya, dan memiliki program yang jelas, baik dari segi gagasan, wawasan, maupun perencanaannya. 

“Terhadap persyaratan tersebut keberadaannya lebih baik dari paslon lain,” bunyi fatwa tersebut.

Ada pula kelompok kiai yang mengalihkan dukungan dari Ipul-Puti ke pasangan Khofifah-Emil. Mereka adalah kiai yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kiai Kampung Jawa Timur (FK3JT) secara resmi mencabut dukungannya. Para Kiai yang dikomandani oleh KH. Fahrur Rozi (Gus Fahrur) ini mengalihkan dukungannya ke pasangan nomor urut satu Khofifah-Emil.

Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Gus Fahrur kepada Khofifah saat keduanya bertemu di Pondok Pesantren Al-Qodiri, Jember.

“Bu (Khoffiah) saya sekarang sudah nomor satu. Ini dukungan yang terakhir. Tidak akan pindah ke yang lain,” kata Gus Fahrur.

Gus Fahrur menegaskan, pihaknya akan all out memenangkan pasangan Khofifah-Emil. Sebab, pasanagan dengan nomor urut satu ini merupakan satu-satunya pasangan calon yang memperjuangkan nilai-nilai ajaran agama Islam.

“Kiai Kampung akan all out memenangkan Bu Khoffiah. Beliau masih suci. Intinya, saya akan dukung Khofifah. Kalau tidak diterima, masa bodo saya tetap mau memenangkan ibu Khoffiah,” tegasnya.

Sementara itu, Khofifah menilai restu ulama dalam menjalankan pemerintah sangat penting. Agama dan kekuasaan bak dua mata uang yang saling mendukung memberikan kemaslahatan untuk umat manusia.

“Penting untuk bersama-sama menyatukan perspektif tentang pemimpin Jatim ke depan. Sebagaimana kata Imam Ghozali bahwa agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Sehingga para umaro dan ulama itu harus selalu singkron,” imbuh Khofifah.

Sehingga dukungan dari para ulama untuk pasangan Khofifah-Emil menjadi sokongan pedoman untuk menjalankan pemerintahan. Kesamaan visi-misi antara pemerintah dan kiai sangat diperlukan.

“Seluruh proses silaturrahim ini akan menjadi silaturruuh. Nyambung jiwa, olah rasa. Jadi silaturruh itu sambung doa. Ada rasa yang terbangun dan ada doa yang akan dimunajatkan. Kalau bukan karena kesamaan visi dan misi untuk Jawa Timur, saya yakin para kiai tidak akan memberikan dukungan kepada kami,” pungkas Ketua Muslimat NU ini.

Editor : Saugi Riyandi

Reporter : (srs/JPC)



Close Ads
Jelang Pencoblosan, Kiai di Jatim Makin Solid Dukung Khofifah-Emil