alexametrics

Sidang Kasus Mercy Maut, Iwan Adranacus Divonis Setahun Penjara

29 Januari 2019, 18:56:03 WIB

JawaPos.com- Sidang kasus mercy maut dengan terdakwa Iwan Adranacus menemui babak akhir. Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Solo, Selasa (29/1), majelis hakim yang diketuai Krosbin Lumbangaul menjatuhkan vonis setahun penjara terhadap Iwan. Vonis hakim itu jauh lebih ringan dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni lima tahun penjara.

Sebelum menyampaikan vonis, majelis hakim secara bergantian menyampaikan berkas putusan. Termasuk di dalamnya yakni pertimbangan yang meringankan dan memberatkan terdakwa.

Dalam pertimbangan tersebut, majelis menyampaikan bahwa tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa bukan semata-mata karena terdakwa saja. Tetapi, juga dipicu oleh sikap korban sebelum kejadian. Diketahui korban sempat marah-marah terhadap terdakwa yang waktu itu keduanya bertemu di simpang empat jalan RM Said.

“Dalam pertimbangan kedua, waktu itu korban juga mengacungkan jari tengah ke arah terdakwa, korban juga menendang mobil terdakwa. Ini membuat terdakwa mengikuti korban karena ingin melakukan klarifikasi,” urai salah satu anggota majelis hakim, Endang Makmun saat membacakan putusan.

Tetapi karena terdakwa mengemudi dengan kecepatan tinggi hingga membuatnya tidak bisa mengendalikan mobilnya, kemudian menyebabkan terjadinya kecelakaan dan membuat korban meninggal dunia. Terdakwa juga merasa terancam dengan kata-kata korban saat keduanya bertemu di jalan KS Tubun atau timur Mapolresta Solo. Bahwa, korban sempat mengatakan kepada terdakwa, dirinya sudah mencatat nomor polisi mobil terdakwa dan mengatakan mati kamu.

“Terdakwa terpancing emosinya karena merasa diancam korban, sehingga terdakwa ingin mengklarifikasinya. Terdakwa juga ingin menyelesaikannya di kantor polisi, tetapi saat berdekatan mobil terdakwa mengenai kendaraan korban,” ucap Endang.

Dengan fakta persidangan ini, majelis hakim menyatakan bahwa tidak ada pembunuhan. Terdakwa tidak berniat melakukan pembunuhan. Apa yang dilakukan terdakwa hanya sebatas ingin melakukan klarifikasi saja. Majelis hakim pun tidak sependapat dengan tuntutan JPU yakni pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan. 

“Jika ada niat membunuh, terdakwa tidak perlu mendekat tapi langsung menabrakkannya mobilnya,” imbuhnya.

Hal yang memberatkan terdakwa adalah tindakannya telah menyebabkan korban meninggal. Sifat emosi terdakwa yang berakibat korban meninggal dunia. Sedangkan hal yang meringankan terdakwa sudah mengakui kesalahan tersebut, terdakwa sopan dan tidak mempersulit persidangan, terdakwa sudah meminta maaf dan memberikan uang santunan kepada keluarga korban sebesar Rp 1,1 miliar.

Kemudian ayah korban sudah mengikhlaskan kematian korban dan tidak meminta uang sepeser pun, serta meminta kepada majelis hakim agar terdakwa dihukum ringan, adik korban dimasukkan dalam perusahaan terdakwa.

“Memperhatikan Undang-Undang 311 pasal 22 ayat 5 tahun 2009 dan perundang undangan lainnya,” pungkas Endang.

“Mengadili satu, menyatakan terdakwa Iwan Adranacus bersalah telah melakukan tindak pidana dengan cara mengemudikan kendaraan bermotor yang menyebabkan orang lain meninggal dua atau sesuai dakwaan kedua yang disampaikan penuntut umum. Kedua, menjatuhkan hukuman selama satu tahun kepada terdakwa,” lanjut Krosbin Lumbangaul melanjutkan membacakan putusan.

Atas vonis tersebut, JPU menyatakan masih pikir-pikir. Mereka masih akan mempertimbangkan bakal melakukan banding atau tidak.

Editor : Dida Tenola

Reporter : Ari Purnomo



Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads
Sidang Kasus Mercy Maut, Iwan Adranacus Divonis Setahun Penjara