alexametrics

Praka Nasrudin Gugur: Baku Tembak dengan KKSB demi Lindungi Bupati

29 Januari 2019, 11:54:27 WIB

JawaPos.com – Kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) kembali beraksi Senin (28/1). Mereka menembaki prajurit TNI yang berjaga di Bandara Mapenduma, Nduga, Papua. Insiden itu terjadi sesaat sebelum pesawat carteran yang ditumpangi Bupati Nduga Yairus Gwijangge mendarat. Akibat serangan tersebut, seorang prajurit TNI-AD bernama Praka Nasrudin gugur.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi menjelaskan, Praka Nasrudin berasal dari Batalyon Infanteri Raider 752/Vira Jaya Sakti. “Praka Nasrudin mengalami luka tembak di perut sebelah kanan,” ungkapnya.

Timah panas menembus perut Nasrudin saat dia bersama rekan-rekannya membalas serangan KKSB. “Terjadi kontak senjata antara TNI dan KKSB,” ucap Aidi. Selain melindungi diri, tembakan balasan dilakukan agar pesawat yang ditumpangi bupati Nduga bisa mendarat dengan aman.

Praka Nasrudin Gugur: Baku Tembak dengan KKSB demi Lindungi Bupati
Kepala Staf Presiden Moeldoko (dok. JawaPos.com)

Nasrudin sempat mendapat pertolongan rekan-rekannya di Bandara Mapenduma. Dia diangkut dengan pesawat ke Timika. “Diantar langsung bupati Nduga,” ujar Aidi. Namun, nyawa Nasrudin tidak tertolong. Sampai kemarin sore jenazah Nasrudin masih berada di RSUD Timika. “Rencananya besok (hari ini, Red) dievakuasi ke Jayapura,” katanya.

Nasrudin berasal dari Makassar, tapi sudah berdomisili di Jayapura. Setelah baku tembak sengit, KKSB akhirnya dapat dipukul mundur oleh pasukan pengamanan Bandara Mapenduma. Mereka melarikan diri ke hutan-hutan di sekitar bandara tersebut. “Belum didapatkan keterangan apakah dari pihak KKSB ada korban,” imbuhnya.

Berdasar hasil analisis sementara, serangan dilakukan gerombolan di bawah komando Egianus Kogoya. Kelompok tersebut bukan kali pertama beraksi di Nduga. Sebelumnya mereka menyandera guru serta petugas medis di Mapenduma. Mereka juga yang berada di balik pembantaian pegawai PT Istaka Karya di Yigi. Berdasar data Kodam XVII/Cenderawasih, KKSB yang dipimpin Egianus Kogoya memang berbasis di Nduga. “Pengejaran tetap dilakukan. Tapi, belum ada hasil,” ucap Aidi.

Selain membawa bupati Nduga, pesawat milik Enggang Air Service itu mengangkut bahan makanan sebanyak 1,1 ton. Aidi menjelaskan, bupati Nduga datang ke Mapenduma untuk membagikan bantuan sosial dari pemerintah daerah setempat. Dia juga hendak berbicara langsung dengan masyarakat yang masih mengungsi seusai insiden pembantaian pekerja Istaka Karya. Mereka diminta segera kembali ke rumah masing-masing. Sayang, niat tersebut malah dihalangi KKSB.

Kasus penyerangan itu mendapat perhatian istana. Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko menuturkan, diperlukan evaluasi atas kondisi tersebut. “Pak Wiranto (Menko Polhukam) sudah mengatakan bahwa perlu ada evaluasi,” ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta, kemarin.

Jika tidak ada evaluasi, menurut Moeldoko, akan terjadi kasus baru dengan cara-cara yang terus dikembangkan. Mantan panglima TNI tersebut menyampaikan, salah satu yang harus dikaji adalah penyebutan. Dia berpandangan, sebutan kelompok kriminal bersenjata (KKB) tidaklah tepat. “Jangan bicara KKB. Bicara separatis ya separatis,” tegasnya.

Moeldoko menjelaskan, penentuan istilah itu pada praktiknya akan berdampak terhadap cara penanganannya. Jika menggunakan kata kriminal, kewenangan ada di kepolisian. Sedangkan jika separatis, leading sector-nya ada pada TNI. Dia berharap besar sebutan bisa diubah menjadi separatis. Dengan demikian, yang berperan sebagai penanggung jawab adalah TNI. “Sekarang tentara tidak di depan (mem-back up kepolisian, Red),” pungkasnya.

Sementara itu, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom sudah menerima laporan soal baku tembak di Mapenduma. Namun, dia belum bisa memastikan apakah ada korban atau tidak dari pihaknya. Yang pasti, sambung dia, serangan dilakukan karena TPNPB-OPM punya komitmen berperang melawan TNI-Polri. “Sekalipun TNI-Polri punya peralatan perang lengkap,” cetusnya ketika dihubungi Jawa Pos tadi malam.

Menurut Sebby, aksi itu dilakukan untuk memperjuangkan tanah Papua. Sebab, tanah Papua bukan milik TNI-Polri. “Itu milik orang Papua,” tegas dia. Serangan tersebut, sambung dia, akan terus dilakukan sebagai bentuk upaya memperjuangkan kemerdekaan. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (far/syn/c9/oni)



Close Ads
Praka Nasrudin Gugur: Baku Tembak dengan KKSB demi Lindungi Bupati