JawaPos Radar

Gerhana, NASA Sebut Ukuran Bulan Lebih Besar 30 Persen

29/01/2018, 08:20 WIB | Editor: Ilham Safutra
Gerhana, NASA Sebut Ukuran Bulan Lebih Besar 30 Persen
Ilustrasi gerhana bulan (Pixabay.com)
Share this image

JawaPos.com - Masyarakat Indonesia dapat berbangga karena dapat menyaksikan gerhana bulan total dengan durasi cukup lama pada Rabu (31/1) mendatang. Gerhana bulan total terjadi saat bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga bulan tertutup oleh bayangan bumi.

Gerhana bulan aman dilihat tanpa filter apa pun atau tidak seperti gerhana matahari yang biasa dilihat dengan teropong atau kacamata.
Kontak pertama kali antara bulan dan bayangan bumi terjadi pada pukul 17.49 WIB, Rabu (31/1).

“Jadi pada saat bulan terbit di wilayah Sumbar, posisi bulan sudah kontak dengan bayangan bumi. Bayangan bumi akan terus menutupi bulan hingga puncaknya pada pukul 20.29 WIB dan akan lepas kontak antara bayangan bumi dan bulan pukul 23.09 WIB,” jelas Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Padangpanjang, Rahmat Triyono, seperti dilansir Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Senin (29/1).

Rahmat menjelaskan, durasi gerhana dari fase gerhana mulai pukul 17.49 WIB hingga berakhir adalah 5 jam 20,2 menit. Durasi fase gerhana sebagian selama 3 jam 23,4 menit, dan durasi saat gerhana total berlangsung selama 1 jam 16,8 menit.

Indonesia menjadi salah satu lokasi terbaik di dunia untuk mengamati peristiwa yang terjadi bertepatan saat bulan mencapai titik perigee atau jarak terdekat dengan bumi. Bulan tampak lebih besar dan lebih terang. Para astronom menyebutnya bulan purnama perigee atau supermoon.

Lembaga antariksa Amerika Serikat NASA menyebut, bulan bisa mencapai 30% lebih besar dan 14 persen lebih terang dari biasanya. “Iya. Bulan pada posisi lebih dekat dari bumi. Lebih besar dari bulan purnama biasa. Ini fenomena sangat langka,” kata Rahmat.

Menurut Rahmat, seluruh proses gerhana dapat diamati di Samudra Pasifik serta bagian timur Asia, Indonesia, Australia, dan bagian baratlaut Amerika. Gerhana ini dapat diamati di bagian barat Asia, Samudra Hindia, bagian timur Afrika, dan bagian timur Eropa pada saat bulan terbit.

Adapun proses gerhana pada saat bulan terbenam dapat diamati di bagian utara Amerika dan bagian timur Samudra Pasifik. Sementara pengamat di bagian barat Eropa, sebagian besar Afrika, Samudra Atlantik, dan bagian selatan Amerika tidak akan dapat mengamati keseluruhan proses gerhana ini.

Gerhana bulan total 31 Januari 2018 ini merupakan gerhana ke 49 dari 73 gerhana pada seri Saros 124. Gerhana bulan sebelumnya yang berasosiasi dengan gerhana ini adalah gerhana bulan total 21 Januari 2000. Sedangkan gerhana bulan berikutnya yang berasosiasi dengan gerhana bulan ini adalah gerhana bulan total 11 Februari 2036. “Semua gerhana bulan dalam seri Saros 124 terjadi saat bulan bergerak ke arah utara ekliptika bumi,” jelas Rahmat.

(iil/rgm/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up