JawaPos Radar

Halimatussa Diah, Linmas Perempuan Terdepan di Bencana dan Razia Mesum

28/09/2017, 21:06 WIB | Editor: Ilham Safutra
Linmas Perempuan
Halimatussa Diah, satu-satunya Linmas perempuan di Mataram (THEA/LOMBOK POST)
Share this image

Selama ini perempuan diidentik dengan pekerjaan lembut, berpenampilan mempesona dan enak dipandang mata. Kalaupun ada yang mengambil profesi di bidang pekerjaan keras tidaklah begitu banyak. Termasuk yang dilakoni Halimatussa Diah, petugas pelindung masyarakat (Linmas) pertama di Kota Mataram. Di kota ini dia merupakan petugas linmas pertama dari kaum hawa.

NATHEA CITRA SURI, Mataram

Sehari-hari Halimatussa Diah bertugas di Kantor Camat Ampenan sebagai petugas keamanan dan bagian surat menyurat. Kenapa demikian? Itu terlihat dari seragam dinas yang dikenakannya yang berwarna hitam pekat berpadu dengan aksesoris lambang pendukung lainnya. Bagian tugas ini sudah dilakoninya sejak 2005.

“Sebelumnya saya tidak pernah berpikir untuk bekerja menjadi linmas. Ini bukan cita-cita saya,” kata perempuan yang akrab disapa Diah ini kepada Lombok Pos (Jawa Pos Group).

Tugas di bagian keamanan ini cukup memberikan tantangan bagi Diah. Sebab dia sebelumnya tidak memiliki keterampilan di bagian keamanan. Kendati demikian, mau tak mau harus diterimanya. Pasalnya sebagai bawahan dia hanya bisa menerima tugas dari pimpinan. Apalagi statusnya cuma sebagai pegawai honorer.

“Saat itu saya terima saja, ya namanya orang kerja. Bahkan saat itu saya merangkap dua pekerjaan. Selain menjadi linmas, saya juga menjadi staf sekretariat surat menyurat,” ucapnya tersenyum.

Awalnya ibu dua anak ini mengaku sempat bertaya-tanya kenapa dirinya diangkat menjadi Linmas. Namun seiring dengan waktu bagian tugas itu dapat dinikmatinya dengan baik.

“Tapi ternyata asyik juga jadi Linmas, apalagi saya menjadi Linmas wanita satu-satunya saat itu. Ada rasa bangga,” terang wanita berhijab ini.

Menurut dia zaman saat ini dalam bekerja tidak lagi ketentuan konvensional yang berada di rumah atau pekerjaan yang menonjolkan feminisme. Bekerja di bidang kaum maskulin namun tidak meninggalkan sisi keperempuanan. Hal sejalan dengan tagline pemerintah, yakni revolusi mental; ayo berubah.

Sebagai Linmas, Diah tak hanya bertugas siang hari. Kadang kala dia juga harus bertugas di malam hari. Terutama ketika ada kegiatan razia rumah kos-kosan.

Dalam razia itu jika didapatkan pasangan mesum, maka Diahlah orang yang menghadapi oknum perempuan yang tertangkap. “Kalau ada razia, saya yang disuruh turun untuk berbicara dengan pelaku. Karena saat itu hanya saya yang menjadi Linmas wanita. Yang lainnya kebanyakan pria,” tegasnya.

Di samping untuk razia, Diah tidak gentar ketika diperintahkan untuk terjun menangani peristiwa kebakaran dan bencana alam. “Bagi saya itu tak masalah. Malah senang karena bisa membantu orang lain,” tutur warga asli Pejeruk, Ampenan itu.

Menurutnya, menjadi Linmas memberikan warna tersendiri dalam hidup. Setidaknya memiliki banyak teman. Dari masyarakat tidak mampu hingga orang-orang penting di Kota Mataram mulai dikenalinya. "Alhamdulillah, selama jadi linmas pekerjaan saya terasa ringan, apalagi suami dan anak-anak saya sangat support,” tandasnya.

(iil/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up