JawaPos Radar

Media Pembelajaran, Pakar Gempa UII Jogja Kenalkan Simutaga

28/08/2018, 16:44 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Media Pembelajaran Gempa
BENCANA: Dosen sekaligus pakar gempa, Sarwidi (baju coklat) dari Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta menyerahkan sebuah media pembelajaran ke BPBD DIJ, Selasa (28/8). (Ridho Hidayat/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Dosen sekaligus pakar gempa dari Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta, Sarwidi menyerahkan sebuah media pembelajaran kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), Selasa (28/8). Media pembelajaran tersebut berupa alat peraga simulasi ketahanan gempa bangunan yang dinamakan Simutaga.

"Alat ini bisa memberikan pemahaman yang mudah kepada anak TK (Taman Kanak-kanak) hingga orang tua. Agar lebih mengenali perbandingan bangunan bisa dengan yang tahan gempa," kata Sarwidi, di BPBD DIJ, Selasa (28/8).

Dengan pemahaman yang didapatkan, diharapkan masyarakat ke depan semakin tersadar akan peristiwa gempa maupun dampaknya. "Gempa itu peristiwa, yang membuat bencana atau orang meninggal karena terkena tertimpa bangunan yang roboh," katanya.

Sarwidi menegaskan, ketika membangun suatu rumah sudah seharusnya masyarakat membuat konsep rumah tahan gempa atau bangunan rumah rakyat tahan gempa (barrataga). Rumah itu, imbuhnya memiliki keunggulan mampu meredam kekuatan dari goncangan.

Caranya yakni dengan membuat pondasi yang memakai pasir dengan ketebalan 20-30 sentimeter. Kemudian dipakai tulangan rangka pengekang. "Rumah di masyarakat sekarang itu seadanya. Dengan kemampuan finansial terbatas, ingin memiliki bangunan besar indah. Jadi kekuatan hilang, tulangannya tiak bagus," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD DIJ, Biwara Yuswantara menambahkan, alat yang diberikan oleh Sarwidi akan digunakannya untuk sosialisasi. "Terlebih dahulu, besok kami sosialisasi kepada aparat pemerintah di kabupaten dan kota," katanya.

Dengan alat ini, diharapkan bisa memudahkan pemahaman kepada masyarakat. Mengenai konsep rumah tahan gempa tersebut. "Yang penting kan masalah kesiapsiagaannya, kalau wilayah mana yang rawan terkena gempa di DIJ itu masuk ranah pengambil kebijakan," ucapnya.

(dho/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up