JawaPos Radar | Iklan Jitu

Cara Baru Evakuasi KM Sinar Bangun, Basarnas Pakai Pukat Harimau

Tim Temukan Serpihan Kayu

28 Juni 2018, 07:34:58 WIB | Editor: Ilham Safutra
Cara Baru Evakuasi KM Sinar Bangun, Basarnas Pakai Pukat Harimau
Tim penyelam dari TNI AL bersama Basarnas terus berjibaku untuk mencari korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba. (Triadi Wibowo/Sumut Pos/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Badan SAR Nasional (Basarnas) terus mencoba menggunakan berbagai macam cara untuk mengevakuasi bangkai KM Sinar Bangun. Proses pencarian korban dan bangkai kapal yang tenggelam pada Senin (18/4) lalu masih belum membuahkan hasil maksimal.

Cara terbaru yang dikerahkan yakni menggunakan remotely operated underwater vehicle (ROV) dan pukat harimau untuk menjaring benda yang diidentifikasi sebagai bangkai KM Sinar Bangun. Pukat harimau berupa jaring besar itu juga berguna untuk mengangkat korban yang diduga telah meninggal dunia di dasar danau. Pukat harimau diperkirakan mampu masuk ke dalam air sejauh 1,2 km dengan lebar jaring 2 km.

Tiba di Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Rabu pagi (27/6), pukat harimau itu langsung dipersiapkan petugas tim SAR gabungan. Tampak juga jangkar kapal yang dilengkapi rantai sepanjang 1 km.

Cara Baru Evakuasi KM Sinar Bangun, Basarnas Pakai Pukat Harimau
Infografis tenggelamnya KM Sinar Bangun (Rofiah Darajat/JawaPos.com)

Titik koordinat yang diprediksi sebagai lokasi bangkai KM Sinar Bangun berada di posisi 2,47 derajat lintang utara dan 98,6 derajat bujur timur. Sebanyak 8 kapal, 2 di antaranya feri, dipusatkan di titik tersebut. "Titik fokusnya di objek yang kedua. Objek yang diduga sebagai bangkai KM Sinar Bangun," kata Kakan SAR Medan Budiawan di Posko Basarnas, Pelabuhan Tigaras, kemarin.

Selain fokus mengangkat benda yang diduga bangkai KM Sinar Bangun, tim SAR gabungan tetap melakukan pencarian dengan empat metode. Yakni, melalui darat, penyisiran pantai, pemantauan permukaan air melalui udara, dan penyelaman.

Menurut Budiawan, kemampuan manusia menyelam hanya sampai 50 meter di kedalaman air. Karena itu, tim akan menggunakan SOV, scan sonar, dan multibeam echo sounder. "Kami sudah sampaikan bahwa kemampuan manusia (menyelam) 50 meter. Setelah 50 meter, alat yang bantu,'' tuturnya.

Sementara itu, tim gabungan Basarnas telah menemukan kayu yang diduga merupakan bagian dari KM Sinar Bangun. Kayu dengan panjang sekitar 2 meter itu ditemukan dua kilometer dari Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun. Kayu tersebut tersangkut jangkar milik kapal Basarnas. Selanjutnya, kayu itu dibawa ke posko Basarnas.

Saat dikonfirmasi, Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syaugi belum bisa memastikan bahwa kayu tersebut merupakan bagian dari KM Sinar Bangun. "Untuk sementara, kayu akan kami amankan," kata M. Saugi.

Helikopter Bantu Penyisiran

Tim Basarnas juga mendapat bantuan helikopter dari Bupati Simalungun J.R. Saragih. Helikopter itu digunakan untuk memantau dan mencari korban KM Sinar Bangun melalui udara. Proses pencarian tersebut juga diikuti keluarga korban.

Selang beberapa jam mengudara, helikopter milik PT Japfa mendarat lagi di Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun. Tampaknya, tidak ada perkembangan yang didapat petugas dari atas danau.

Misman, keluarga korban yang turut dalam pencarian, mengakui bahwa Basarnas sudah berusaha keras untuk menemukan korban, termasuk anaknya. Meski demikian, ayah Miswato tersebut pesimistis anaknya dan korban lain bisa ditemukan. Saat ikut dalam pencarian melalui udara, warga Labuhan Batu itu tidak melihat tanda-tanda para korban. "Basarnas serius dalam melaksanakan tugas. Tapi, saya tidak melihat adanya tanda-tanda para korban," katanya. 

(gid/esa/c7/fat)

Alur Cerita Berita

Pesan Jokowi Usai Tragedi KM Sinar Bangun 28 Juni 2018, 07:34:58 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up