alexametrics
Cerita Minggu

Menunggu Wujud Tol Probowangi, Fase Penghabisan Trans-Jawa

Cari Solusi Tembus Taman Nasional
28 April 2019, 20:43:21 WIB

JawaPos.com – Saat rampung pada 2022 nanti, jalan tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) akan menjadi tol terpanjang di Indonesia. Membentang 171 kilometer dari barat ke timur. Meliuk melewati punggung pegunungan dan tepi-tepi pantai hingga tiba di ujung timur Pulau Jawa.

PRESIDEN Joko Widodo menjanjikan menyambungkan Merak di Banten hingga Banyuwangi di Jawa Timur. Banyak orang yang bilang itu sulit diwujudkan. Namun, perlahan mimpi tersebut terus ditapaki.

Hanya dalam kurun waktu empat tahun, tol trans-Jawa tersambung hingga gerbang tol Probolinggo Timur. Total panjangnya hampir 900 kilometer. Tidak heran apabila optimisme pun mencuat. Sebab, kini tinggal menuntaskan “potongan kecil” Pulau Jawa saja. Dalam kurun waktu satu hingga dua tahun.

Meski begitu, membangun jalan yang membelah Bumi Blambangan Raya tak semudah membalik telapak tangan. PT Jasamarga Probolinggo Banyuwangi (PT JPB), anak perusahaan PT Jasa Marga yang ditugasi membangun jalan tol itu, akan menghadapi banyak tantangan.

Bergerak ke timur, selepas Desa Bhinor di Kecamatan Paiton, Probolinggo, tim konstruksi akan dihadang kaki pegunungan Iyang-Argopuro, di samping kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton.

Dulu kawasan tersebut hanyalah tebing yang bertemu lautan. Kemudian, dilakukan ekskavasi secukupnya untuk menyediakan ruang bagi instalasi PLTU dan jalan nasional Surabaya-Banyuwangi. Selebihnya adalah hutan lebat dan perbukitan cadas.

Pemerintah terus mengebut penuntasan Trans Jawa. Kali ini tinggal untuk ruas Probolinggo-Banyuwangi. (Jawa Pos Photo)

Direktur Utama PT JPB Hari Pratama mengungkapkan, Paiton mesti diperlakukan secara khusus. Membangun jalan tol melewati pegunungan memang bukan hal baru bagi Jasa Marga maupun para kontraktor karya. Namun, metode pembangunan harus dipilih secara hati-hati. Tidak boleh menggunakan dinamit karena berdekatan dengan instalasi vital. Bisa membahayakan kelistrikan seluruh Jawa dan Bali.

Tol Probowangi akan meliuk mendaki punggung Gunung Lurus di areal sebelah selatan jalan nasional. Melewati kompleks transmisi listrik PLTU Paiton. “Nanti pakai alat khusus untuk menggali,” kata Hari.

Gunung Lurus tak semudah itu dilewati. Menurut Direktur Teknik PT JPB Toto Purwanto, kontur Gunung Lurus berlembah-lembah. Rencananya, JPB membuat jembatan yang melayang di atas ceruk lembah Gunung Lurus. Kalau benar jadi, pemandangan akan seindah jembatan tol di Cipularang.

Pria yang akrab disapa Totok tersebut menjelaskan, kontur tanah di Desa Bhinor masih dipetakan. Jika lembah tidak terlalu curam, jalan akan menuruni lembah. Jika dianggap terlalu curam, akan dibangun jembatan layang. “Jadi, mungkin ada sekitar tiga jembatan layang,” jelasnya.

Bukan hanya itu. Di punggung Gunung Lurus dekat gerbang perbatasan Kabupaten Probolinggo dan Situbondo, bakal dibangun rest area yang berdiri di ketinggian. Totok menyatakan, dari rest area tersebut, pengguna jalan tol bisa mendapatkan pemandangan laut Selat Madura.

Terus ke utara, jalan tol memasuki tantangan lain. Yakni, melintasi Gunung Ringgit alias Gunung Putri Tidur di kawasan Pasir Putih, Bungatan, Situbondo. Selepas Besuki saja, sudah terlihat “leher” dan “dagu” Sang Putri Tidur. Menjulang tinggi di kejauhan. Pengguna jalan tol bisa menikmati pemandangan sawah di bawah kaki pegunungan dari rest area Mlandingan.

Hanya terdapat beberapa ratus meter lahan datar antara kaki Gunung Ringgit dan kawasan pesisir Pasir Putih. Itu pun beberapa sudah ditempati jalan nasional.

PT JPB akan membuat akses masuk tol di dekat kawasan Pantai Pasir Putih dekat Hotel Papin. Diharapkan, para pengguna jalan tol yang ingin melepas lelah bisa keluar sejenak menuju kawasan Pantai Pasir Putih. Kawasan wisata itu pun bakal tumbuh pesat.

PT JPB juga membangun beberapa akses tol di titik-titik strategis. Di barat, ada simpang susun (SS) Paiton yang akan keluar dekat kawasan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Di timur, akses SS Asembagus akan memudahkan pengendara yang ingin menuju Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo.

Tantangan terberat, barangkali, adalah selepas Kecamatan Asembagus, Situbondo, yakni Kawasan Taman Nasional Baluran. Selain dihadang hutan lebat, sempat muncul isu tentang sulitnya mewujudkan jalan tol karena melewati kawasan Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) 5 Marinir Baluran.

Karena itu, trase akan dibelokkan ke selatan melewati Bondowoso hingga Jember. Namun, Totok memastikan bahwa trase jalan tol tersebut sudah final dan dipastikan melewati Situbondo dan terus ke Banyuwangi.

Di tengah kawasan taman nasional, PT JPB membangun akses tol di dekat Waduk Bajulmati. Pengguna bisa keluar tol dan mampir di kawasan hijau tersebut untuk sekadar melepas lelah. Ke timur lagi, sebuah rest area akan dibangun di dekat kawasan Pantai Watu Dodol. Lagi-lagi dengan pemandangan laut yang luar biasa.

Pembangunan jalan tol yang melewati Taman Nasional Baluran mesti dipikirkan matang-matang. Selain membuka areal hutan yang luas, jalan tol bisa memengaruhi ekosistem Baluran.

Kepala Taman Nasional Baluran Bambang Sukendro menyatakan, selama ini, banyak hewan penghuni Baluran yang mendekat ke arah Waduk Bajulmati untuk mencari minum. “Terutama saat musim kemarau,” ujarnya kemarin.

Umumnya, banteng, sapi, dan kijang menyeberangi jalan nasional menuju arah timur ke Waduk Bajulmati. Sementara itu, jalan tol menggunakan pagar dengan lajur yang sangat luas. Di sisi lain, pengendara melaju dengan kecepatan tinggi.

“Perlu ada pertemuan seluruh stakeholder untuk membahas hal ini,” kata Bambang.

Dia melanjutkan, pengelola jalan tol sudah berkomunikasi dengan pihak taman nasional. Namun, pembangunan kawasan hutan hingga menjadi nonhutan adalah kewenangan menteri lingkungan hidup dan kehutanan (LHK).

KLHK sendiri memastikan bahwa belum ada permohonan terkait pembangunan jalan tol itu ke menteri maupun Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE).

Setelah melewati kegelapan rimba Baluran, jalan tol akhirnya menemui garis finis di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Lagi-lagi PT JPB harus membangun jalan tol di punggung pegunungan. Di Ketapang, trase jalan tol rencananya melewati kaki Gu­nung Ijen sekitar 500 meter di barat jalan nasional.

Saat ini area calon jalan tol masih berupa tebing, pepohonan, dan saluran SUTET. Namun, jika kita menoleh ke arah timur, pemandangan Selat Bali akan terhampar sempurna tanpa halangan. Kapal-kapal feri berlayar menerjang arus Selat Bali. Selepas subuh, matahari akan muncul mewarnai tiang-tiang kapal dan dek-dek pelabuhan. Menampakkan citra Banyuwangi sebagai The Sunrise of Java.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (Taufiqur Rahman/c5/git)


Close Ads