JawaPos Radar

"Taste Of Padang" Diprotes, Wagub Sumbar: Jangan Sekadar Komentar

27/11/2017, 13:28 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Branding Wisata Sumbar
Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit saat diwawancarai awak media usai menghadiri sosialisasi TKMPN XXI dan Internasional Quality Produktivitas Convetion (IQPC) 2017 di Hotel Kryad Bumiminang, Kota Padang, Senin (27/11) (Riki Chandra/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Polemik "Taste Of Padang" yang ditetapkan sebagai branding pariwisata Sumatera Barat (Sumbar) masih terus bergulir. Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit meminta pihak-pihak yang tidak sepakat dengan branding "Taste Of Padang", jangan hanya sekedar berkomentar di media sosial (medsos). Namun harus memberikan solusi yang positif dan kongkrit.

"Perbedaan pendapat boleh saja dan itu wajar. Karena membangun pariwisata butuh kebersamaan dan tidak saja pemerintah. Nah, bagi yang memiliki usulan branding dengan dasar dan kajian kuat, silahkan sampaikan. Kami akan terima dan bahas lagi. Jangan sekadar komentar-komentar tanpa solusi," kata Nasrul Abit usai menghadiri sosialisasi Temu Karya Mutu dan Produktivitas Nasional (TKMPN) XXI dan Internasional Quality Produktivitas Convetion (IQPC) 2017 di Hotel Kryad Bumiminang, Kota Padang, Senin (27/11).

Nasrul menilai, kritik yang diberikan tanpa solusi yang memiliki dasar, hanya akan memperkeruh suasana dan menjadi sandungan dalam memajuan pariwisata daerah. Apalagi jika yang memberikan kritik itu adalah pihak-pihak yang sebenarnya diundang dalam Focus Group Discussion (FGD), namun tidak datang.

"Saat FGD di undang semua daerah, tapi ada yang tidak datang. Pakar-pakar kami undang. Gunanya untuk menyamakan persepsi dan meminta masukan dari semua pihak. Sebab membangun daerah harus bersama-sama," sebut mantan Bupati Pesisir Selatan itu.

Terkait branding "Taste Of Padang" sendiri, lanjut Nasrul, masih bisa diubah sebelum dilaporkan oleh pihak konsultan pada Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Ia mengaku akan segera membicarakan hal tersebut dengan Gubernur Sumbar. Namun batas waktu yang tersedia sangat sempit.

"Tapi saya sudah minta Kepala Dinas Pariwisata untuk menghubungi konsultan agar menunda pelaporan. Saat ini, kami juga menunggu solusi positif, membangun dari pihak-pihak yang tidak sepakat. Kalau memang harus diubah, ya kami ubah. Bagi kebersamaan membangun daerah itu lebih penting," tuturnya.

Soal pembuatan branding yang menelan dana Rp1,6 miliar, Nasrul mengaku tidak tahu. "Saya tidak tahu, karena semua biayanya dari pusat," tegas Nasrul.

Terkait tindak lanjut pengubahan branding, Jawapos.com mencoba menghubungi Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian melalui pesan WhatsApp. Namun hingga berita ini ditulis, Oni belum memberikan jawaban.

Sebelumnya, pemerintah Provinsi Sumatera Barat menetapkan "Taste of Padang" sebagai branding wisata Sumbar. Branding telah disepakati bersama Pemprov Sumbar dengan kabupaten dan kota dalam Forum Group Discussion (FGD) di Hotel Mercure, Kota Padang, Jumat (24/11).

Konon dari banyak usulan, "Taste of Padang" diyakini sebagai brand yang tepat dan bernilai jual tinggi. Serta dianggap mampu mewakili 19 kabupaten/kota di Sumbar. Apalagi sudah ditetapkan berdasarkan survei konsultan branding Kemenpar yang memenangkan lelang pembuatan branding wisata Sumbar.

Nasrul Abit menyatakan, kesepakatan tercapai setelah ada masukan dari peserta. Serta atas pemahaman yang diberikan konsultan branding, seluruh peserta yang hadir sepakat dengan branding Taste Of Padang.

"Branding ini nanti akan dideklarasikan oleh Kemenpar sebagai jualan pariwisata Sumbar. Setelah ini, setiap even pariwisata akan ditampilkan logo dan branding tersebut," ucap Nasrul kala itu.

Namun setelah informasi branding meluas di media sosial hingga pemberitaan berbagai media, polemik mulai mencuat. Banyak pihak yang menyayangkan sikap Pemprov Sumbar yang terkesan terburu-buru melaunching brand tanpa mempertimbangkan sentimen 19 kabupaten/kota yang masing-masing memiliki destinasi berbeda.

Berbagai kritik dan bahkan dalam bentuk sindiran ditebar warganet di media sosial hingga group-group WhatsApp kumpulan pecinta wisata. Mulai dari soal tidak terwakilinya semua potensi Sumbar hingga biaya perumusan branding yang dianggap terlalu besar, menjadi topik perbincangan hangat hingga hari ini.

(rcc/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up