JawaPos Radar

25 Ilmuwan Dunia Surati Jokowi Terkait Orangutan

27/08/2018, 14:05 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Orangutan
Bayi Orangutan Tapanuli kembar digendong induknya saat ditemukan pada 20 Mei 2018. (SOCP For JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Orangutan Tapanuli atau Pongo Tapanuliensis terancam punah. Populasinya tinggal 800 ekor di habitat aslinya. Yakni, hutan Batang Toru yang tersebar di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Sumut).

Keberadaan Orangutan Tapanuli kian terancam dengan perambahan dan alih fungsi hutan. Belum lagi dengan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru.

Pembangunannya bisa merusak ekosistem. Berbagai lembaga yang konsen untuk penyelamatan orangutan sudah banyak berkampanye. Walhi, OIC dan oraganisasi lainnya terus melakukan penolakan. Gelombang protes kembali dilancarkan. Kali ini dari akademisi Universitas Sumatera Utara (USU).

Peneliti asal Fakultas Kehutanan USU Onrizal angkat bicara soal penyelamatan Orangutan Tapanuli. Dia mengatakan, sudah ada 25 ilmuwan dunia yang melayangkan surat kepada Presiden Joko Widodo. Isi suratnya meminta Jokowi untuk mengambil kebijakan dalam menyelamatkan Orangutan Tapanuli dari kepunahan serta perkembangan yang mengikutinya.

"Saya bagian dari 25 ilmuwan itu. Kami menyerukan desakan kepada Presiden Jokowi untuk menyelamatkan populasi Orangutan Tapanuli," kata Onrizal kepada JawaPos.com, Senin (27/8).

Menurutnya, PLTA Batang Toru menjadi ancaman utama. Tak hanya Orangutan, tetapi juga mengancam 100 ribu penduduk yang hidup di sekitar Batang Toru.

Ahli ekologi dan konservasi hutan tropika itu juga mengkritisi kampanye dari perusahaan. Mereka yang diduga melindungi kepentingan demi mendapatkan keuntungan yang berdiri di balik PLTA Batang Toru. “Kampanye hitam oleh ilmuwan asing harus dihilangkan. Begitulah kira-kira semangat mereka," ujarnya.

Onrizal menegaskan, dirinya bukan ilmuwan asing seperti yang dituduhkan. Saat ini, PLTA Batang Toru sedang direncanakan di habitat Orangutan Tapanuli yang sebelumnya sudah semakin menyusut.

Sejak awal 2000-an, ahli konservasi biodiversitas Universitas Indonesia Prof Jatna Supriatna beserta tim sudah memulai kajian orangutan beserta habitatnya di hutan Batang Toru.

"Pembangunan infrastruktur PLTA Batang Toru seperti jalan, bendungan, saluran bawah tanah dan jalur bawah tanah akan menyebabkan fragmentasi habitat dan deforestasi. Pada akhirnya akan mendorong percepatan kepunahan Orangutan Tapanuli," paparnya.

Hutan Batang Toru juga merupakan habitat tersisa dari harimau Sumatera. Kondisinya cukup memprihatinkan. Nyayang juga terancam punah. Terutama akibat kehilangan dan kerusakan hutan.

Bila semakin banyak habitat dihancurkan, maka konflik antara harimau dan manusia akan semakin meningkat. Tahun ini adalah puncak jumlah konflik harimau dan manusia di Sumatera. Termasuk di Sumatera Utara.

Onrizal menekankan, ancaman ekosistem Batang Toru adalah tanggung jawab dari PT.North Sumatera Hydro Energy (NSHE) yang akan melakukan pembangunan PLTA. "Ini adalah potensi kegagalan untuk mengatasi bencana yang kemungkinan akan dirasakan penduduk yang tinggal di wilayah hilir. Belum lagi fakta lain bahwa Pulau Sumatera terletak di atas patahan gempa paling aktif. Tentu bila itu terjadi akan memicu bencana yang lebih besar dan masyarakat setempat akan menjadi korban pertama," tandasnya.

Sebagai informasi, Orangutan Tapanuli merupakan satu dari tiga jenis Orangutan di Indonesia. Dua spesies lainnya akni Pongo pygmaeus (Orangutan Kalimantan) dan Pongo Abelii (Orangutan Sumatera). Orangutan Tapanuli menjadi tambahan spesies baru di kelompok kera raksasa dalam kurun waktu satu abad terakhir.

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up