JawaPos Radar

Optimisme Kinerja Properti Didorong Kenaikan Harga Batu Bara

27/06/2018, 05:45 WIB | Editor: Estu Suryowati
Optimisme Kinerja Properti Didorong Kenaikan Harga Batu Bara
Membaikanya harga batu bara pada Juni 2018 diyakini bisa memperbaiki kinerja penjualan properti di Kalimantan Timur (Kaltim). (Fuad Muhammad/Kaltim Post/JawaPosGrup)
Share this

JawaPos.com - Harga acuan emas hitam kembali menguat, menyentuh angka USD 96,61 per metrik ton, mendekati harga di awal tahun USD 100 per metrik ton. Sebelumnya pada Mei lalu, harga batu bara sempat melemah di angka USD 89,53 per metrik ton.

Dengan kenaikan harga acuan ini, pengusaha batu bara Kalimantan Timur (Kaltim) bisa meningkatkan produksi. Membaiknya harga batu bara pun diyakini bisa meningkatkan penjualan properti di Bumi Etam.

Sebab kinerja penjualan batu bara kerap berdampak pada bisnis tersebut. Seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Kaltim Bagus Susetyo mengatakan, kalau harga batu bara bertahan hingga enam bulan ke depan, dia yakin akan berdampak pada properti. Saat ini terlihat belum berdampak karena rumah dengan harga Rp 350 juta ke atas, belum begitu diminati masyarakat.

"Ini yang membuat belum terlihat. Penjualan masih didominasi rumah bersubsidi," tuturnya dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Grup), Rabu (27/6).

Dia menjelaskan, hingga semester pertama 2018, angka penjualan rumah kecil nonsubsidi sudah bergerak, walau belum signifikan. Data penjualan rumah kecil belum signifikan sampai dengan puasa.

Pembelian rumah masih tertahan oleh momentum Ramadan dan Idulfitri. Momen dimana masyarakat memerlukan dana. Berlanjut dengan tahun ajaran baru.

"Peningkatan penjualan properti, terutama rumah tinggal, diharapkan meningkat di semester II 2018 ini," katanya.

Perbaikan batu bara dari semester dua pada 2017 hingga saat ini memang sangat berdampak terhadap pergerakan perekenomian Kaltim. Hal itu, terlihat dari struktur ekonomi Kaltim yang masih didominasi pertambangan nonmigas yaitu batu bara sebesar 46 persen.

"Efek meningkatnya industri tambang, perusahaan penyewaan alat berat, sub kontraktor dan lainnya yang terlibat, akan makin banyak. Tapi belum jika dalam sektor properti," katanya.

Penjualan rumah-rumah komersial berkurang drastis, tambahnya, sehingga banyak pengembang yang beralih mengembangkan rumah bersubsidi. Hal itu, juga terjadi pada penjualan ruko yang masih belum menggembirakan sejak lesunya perekonomian Kaltim.

"Saat ini penjualan ruko masih stagnan. Sehingga perbaikan dari sektor utama Kaltim ini belum berdampak khusus terhadap bisnis properti," pungkasnya.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up