alexametrics

Korban Longsor Belum Ditemukan

Petugas Kekurangan Sarana di Lokasi Bencana
27 April 2019, 05:50:44 WIB

JawaPos.com – Hingga Jumat (26/4) kemarin, Barkatul Hikmah, 23, dan bayi perempuannya Riana Sabandiah belum ditemukan. Keduanya diduga kuat tertimbun longsor hebat di Pulau Matasirih Kecamatan Pulau Sembilan, Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Rabu (24/4) sekitar pukul 08.00 Wita.

“Belum ditemukan. Petugas di lapangan dibantu warga masih berusaha mencari,” ujar Kapolsek Pulau Sembilan, Ipda Sumarno, dikutip dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Sabtu (27/4).

Malang bagi Rusman, 26, pria muda itu tidak sempat menyelamatkan istri dan bayinya. Longsor datang begitu cepat pagi hari, sekira pukul 07.00, setelah malam sebelumnya hujan terus mengguyur sampai pagi.

Sementara itu, pagi kemarin Tim BPBD, Basarnas serta relawan sudah berangkat ke Pulau Matasirih. Mereka menggunakan kapal nelayan kecil, membawa logistik bantuan. Lama perjalanan diperkirakan dua belas jam.

Selain minimnya sarana evakuasi, kendala komunikasi membuat petugas kesulitan berkoordinasi. Selama ini informasi dari lokasi bencana yang berbatasan dengan Laut Jawa itu hanya mengandalkan orari.

Dari laporan Polsek Pulau Sembilan, tercatat ada delapan rumah rusak berat, mayoritas tertimbun longsor. Satu kapal rusak, dan puluhan rumah rusak ringan.

Sebanyak 164 kepala keluarga (602 jiwa), mengungsi meninggalkan pulau. Ada yang ke pulau terdekat di Kecamatan Pulau Sembilan. Banyak juga yang mengungsi ke pusat kota, mereka tiba Kamis (25/4) tadi menggunakan Kapal Perintis Sabuk Nusantara.

“Perkiraan sementara kerugian total mencapai miliaran rupiah,” kata Sumarno.

Sementara ini, Polri dan TNI dibantu warga masih melakukan proses evakuasi dengan peralatan seadanya. “Masih upaya penggalian dengan cangkul dan linggis. Sangat diperlukan alat alkon besar untuk mempercepat proses evakuasi korban tertimbun tanah longso,” katanya.

Warga di sana masih trauma. Banyak yang khawatir akan ada longsor susulan, mengingat cuaca sedang murung. Hujan terus turun, walau intensitasnya sudah berkurang.

“Kami juga sudah memindahkan warga yang masih ada di pulau ke tempat yang lebih aman,” kata Sumarno.

Sekadar diketahui, titik longsor terparah berada di RT 6 Dusun 1 Babalembang Desa Teluk Sungai, menenggelamkan delapan buah rumah. Kemudian ada empat titik longsor yang menutup badan jalan beberapa dusun. Dan belasan titik longsor lainnya yang hampir merata di tiap sudut pulau, namun mayoritas jauh dari permukiman.

Petugas Informasi Cuaca di BMKG Kotabaru, Hairul Zulkifli mengatakan, dalam beberapa hari ke depan diperkirakan hujan masih akan mengguyur kawasan Pulau Sembilan. Kisaran angin mencapai 30 knot per jam, dengan kelembaban mencapai 65 sampai 95 persen.

Pulau Sembilan tiap tahun dilanda bencana, paling sering terjadi adalah hempasan angin kencang. Tiap tahun dilaporkan selalu ada rumah warga di pesisir pulau yang rusak.

Pun begitu, penduduk di sana tetap bertahan. “Perlu peran pemerintah meningkatkan sarana di sana. Sarana evakuasi. Jaringan telekomunikasi. Penting sekali warga pulau mendapat informasi terkini soal cuaca,” kata Lisna warga Pulau Kerasian.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : jpg



Close Ads