JawaPos Radar

Suka Nyruput Kopi Instan? Ini yang Perlu Anda Ketahui Tentangnya

27/04/2018, 06:15 WIB | Editor: Estu Suryowati
Suka Nyruput Kopi Instan? Ini yang Perlu Anda Ketahui Tentangnya
Ilustrasi orang sedang meracik kopi. (dok. Kaltim Post (Jawa Pos Grup))
Share this image

JawaPos.com - Kurang nikmat rasanya melewatkan pagi hari tanpa nyruput kopi. Kopi tubruk umumnya menjadi pilihan banyak orang, bisa manis ataupun tanpa gula.

Namun, godaan kopi instan yang terkadang bercampur gula dan susu yang dikemas dalam saset bergambar mencolok, sulit ditolak. Lebih praktis dan mudah, kopi instan seperti menjadi minuman wajib mengawali hari.

Namun, bukankah ada adagium, 'sesuatu yang instan hampir pasti memiliki dampak yang kurang baik?' Apakah ini juga berlaku untuk kopi instan? Benarkah minuman ini mengancam kesehatan?

Suka Nyruput Kopi Instan? Ini yang Perlu Anda Ketahui Tentangnya
Meracik kopi dengan penyaring kertas (filter). (dok. Kaltim Post (Jawa Pos Grup))

Kopi instan merujuk definisi Balai Badan Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) adalah produk kering mudah larut dalam air, dengan kandungan kafein antara 2 hingga 8 persen.

Kepala BBPOM Kalimantan Timur Fanani Mahmud menjelaskan melalui laman resminya, kopi instan yang beredar di pasaran dan memiliki nomor izin edar (MD/ML) telah melalui proses penilaian terhadap keamanan, mutu, gizi, dan label produk.

"Produk yang memiliki izin edar resmi tergolong aman untuk dikonsumsi. Tetapi, tetap tidak boleh berlebihan," katanya dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Jumat (27/4).

Kopi disebut mengandung akrilamida, semacam senyawa berbahaya yang bisa memicu kanker. Biasanya, senyawa ini digunakan di industri untuk membersihkan air minum, bahan baku perekat, tinta cetak, zat warna sintetik, zat penstabil emulsi, kertas, dan kosmetik.

Selain itu, akrilamida juga sering digunakan sebagai kopolimer pada pembuatan lensa kontak. Fanani mengatakan, sebenarnya akrilamida tidak berbahaya jika digunakan di industri. Namun, jika terkandung dalam makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari, zat ini bisa menyebabkan kerusakan pada jaringan saraf dan mengganggu reproduksi.

"Namun, pengaruh karsinogenik pada manusia belum teruji kebenarannya. Meski demikian, penelitian lanjutan tentang bahaya akrilamida pada manusia masih terus dilakukan," katanya.

Bagaimana senyawa ini terbentuk pada makanan?

Fanani menuturkan, mekanisme pembentukan utama akrilamida dalam makanan terjadi pada reaksi maillard, yaitu reaksi ketika gula dalam makanan, misalnya glukosa dan laktosa, bereaksi dengan asparagin bebas. Asparagin ini sejenis asam amino dalam makanan yang terbentuk akibat reaksi pencokelatan.

Asparagin bereaksi dengan gula pada temperatur tinggi di atas 120 derajat celcius, yang biasanya terjadi pada saat penggorengan, pemanggangan, atau pembakaran. Maka dari itu, ketiga proses ini bertanggung jawab terhadap tinggi-rendahnya akrilami dalam pangan.

Semakin gelap warna produk akibat pemasakan, maka semakin banyak kandungan akrilamida di dalamnya. "Jadi, apa yang harus dilakukan agar terhindar dari bahaya akrilamida? Tentu saja, yang paling utama adalah mengurangi paparannya dalam makanan sehari-hari," ujar Fanani.

Untuk diketahui, akrilamida tidak ditemukan pada makanan yang dikukus atau direbus. Sebab suhu pemasakannya berkisar 100 derajat celcius, dan tidak menyebabkan pencokelatan.

Terlepas dari hal itu, ada yang perlu diperhatikan juga oleh masyarakat, yaitu produk kopi dalam kemasan yang dicampur bahan kimia obat (BKO), berupa sildenafil atau tadalafil. Fanani memastikan, BPOM RI tidak pernah memberikan persetujuan izin edar untuk produk kopi semacam itu.

"Pada prinsipnya penambahan BKO dalam pangan itu dilarang," katanya.

BKO ini, terang Fanani, dapat menyebabkan sakit kepala, muka merah, pusing, mual, nyeri perut, gangguan penglihatan, infark miokard, nyeri dada, denyut cepat atau palpitasi, impotensi, bahkan kematian.

Oleh karena itu, ia pun berpesan agar masyarakat bisa menjadi konsumen cerdas dengan senantiasa melakukan CEKLIK (cek kemasan, izin edar, dan kadaluwarsa) dalam membeli produk.

(jpg/ce1/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up