alexametrics

‘Jeglongan Sewu’, Awal Mula Yahya Fuad Suap Taufik Kurniawan

27 Maret 2019, 15:07:54 WIB

JawaPos.com – Mantan Bupati Kebumen, Yahya Fuad tak menampik pernah mendiskusikan soal penambahan dana alokasi khusus (DAK) pada APBN tahun anggaran 2016 bersama Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan. Yahya menyebut, semua bermula dari kebutuhan pemerintahannya membenahi ‘jeglongan sewu‘.

Pada sidang pemeriksaan saksi di Pengadilan Tipikor, Rabu (27/3) Yahya menyebut niat pengajuan penambahan DAK itu diawali sesaat sesudah dirinya dilantik tahun 2016 silam. Kala itu, ada persoalan lumayan pelik yang mendera wilayahnya. Yakni, soal jalanan rusak.

“Kebetulan setelah dilantik, kondisi jalan di jalan banyak berlubang. Sampai di medsos itu ditulis, bupati baru, tempat wisata baru, disebut ‘jeglongan sewu‘. Karena pas saya dilantik, APBD 2016 itu sudah ditetapkan di Desember,” kata Yahya kepada Jaksa KPK, Rabu (27/3).

Taufik Kurniawan
SUAP DAK: Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Rabu (20/3). (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)

Sementara dana yang diberikan ke daerahnya saat itu, paling banyak dianggarkan untuk solusi pertanian, berupa traktor atau pupuk. Maka dari itu, Yahya berinisiatif mencarikan dana tambahan guna menangani jeglongan sewu.

Yahya berkisah, bahwa tak lama itu, ada kunjungan kerja sejumlah anggota DPR RI ke Kebumen. Ia pun berupaya mengkomunikasikan soal dana perbaikan jeglongan sewu tersebut. Satu di antara para anggota legislatif yang menyanggupi permintaannya adalah Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan. 

“Saat itu hanya Pak Taufik yang memberikan solusi dana. Jadi waktu itu ada DAK perubahan 2016. Kami ketemu Pak Taufik karena beliau dari dapil Kebumen. Dia mau mengupayakan dana,” katanya lagi.

Tawaran itu lantas ditindaklanjuti dengan sebuah pertemuan di kantor Taufik. Sewaktu itu, Taufik menyatakan mau mengupayakan tambahan Rp 100 miliar untuk DAK. “Tapi beliau bilang kawan-kawannya minta ada kompensasi 5 persen. Saya nggak tahu siapa mereka. Saat itu saya belum sanggupi, koordinasi dulu dengan kawan-kawan, para pemborong, pengusaha,” tambah Yahya.

Beberapa rekan pengusaha yang dimaksud Yahya adalah Hojin Ansori, bekas anggota tim pemenangan Yahya Fuad di Pilbup Kebumen 2015, Khayub M. Lutfi dan rival Yahya di Pilbup Kebumen 2015.

“Di Pendopo Kebumen, kami bertemu dan bilang ada dana Rp 100 miliar, tapi nggak gratis. Pak Hojin bilang, ambil. Tapi waktu itu saya bilang 7 persen (komitmen fee) karena yang 2 persen untuk bilung, pembinaan lingkungan biar kondusif. Kami panggil juga Pak Khayub untuk bicara hal yang sama,” terangnya.

Para rekanan itu berkenan membantu Yahya, dengan harapan kecipratan proyek ke depannya. Meski itu juga belum menjamin karena ada sistem lelang.

Setelah itu, ada persetujuan bahwa uang komitmen fee itu tadi diserahkan melalui tiga tahap. Tahap pertama yang akhirnya diserahakan oleh Hojin sendiri sebesar Rp 1,6 miliar. Tahap kedua, uang Khayub senilai Rp 2 miliar diserahkan melalui Adi Pandoyo. Diberikan dalam rentan waktu antara bulan Juli sampai Agustus 2016.

Tahap ke-3 belum sempat disampaikan. Lantaran, Yahya sendiri keburu kena OTT perkara suap terkait sejumlah proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen. Semua hampir sesuai dengan dakwaan yang dibacakan seminggu lalu.

Seperti diketahui Wakil Ketua DPR, Taufik Kurniawan diseret ke meja hijau karena dugaan kasus suap pengurusan dana alokasi khusus (DAK) Kabupaten Kebumen. Pada saat sidang dakwaan Rabu (20/3) kemarin, terungkap pula jika Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu terlibat dalam pengaturan DAK Kabupaten Purbalingga.

Taufik, dalam dakwaannya, disebut menerima Rp 3,6 miliar dari Yahya Fuad. Sementara dari Tasdi, dia mendapat Rp 1,2 miliar. 

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : Tunggul Kumoro

'Jeglongan Sewu', Awal Mula Yahya Fuad Suap Taufik Kurniawan