alexametrics
Cerita Minggu

Geliat Ekonomi, Mitigasi, dan New Yogyakarta International Airport

Harus Diikuti Pembangunan Sumber daya Manusia
27 Januari 2019, 14:59:44 WIB

JawaPos.com – Bandara baru Jogjakarta terus digeber agar per April nanti empat penerbangan internasional sudah bisa dipindahkan ke sana. Bakal disangga kota berkonsep aerotropolis yang dilengkapi stasiun kereta api dan pusat ekonomi.

TEMPAT yang nanti diplot sebagai terminal internasional itu sudah terlihat bentuknya. Dua garbarata tampak menjulang. Di sisi selatan, truk hilir mudik.

Geliat Ekonomi, Mitigasi, dan New Yogyakarta International Airport
New Yogyakarta International Airport (NYIA) sedang dalam pengerjaan. (Ridho Hidayat/JawaPos.com)

Vibration roller juga bergerak maju mundur mengeraskan tanah. “Kalau untuk operasi minimum, sudah sekitar 60 persen proyek selesai,” ujar Project Manager New Yogyakarta International Airport (NYIA) Taochid Purnomo Hadi.

Pada Rabu (23/1) siang lalu itu, Jawa Pos berkunjung ke proyek pembangunan bandara baru Jogjakarta tersebut. PT Angkasa Pura (AP) I diberi target agar April nanti NYIA bisa melakukan operasi minimum. Empat maskapai penerbangan asing rencananya dipindahkan dari Bandara Adi Sucipto Jogjakarta ke bandara anyar di Kulonprogo itu.

Health Safety Environment (HSE) PT AP I Nanang Harianto mendampingi berkeliling ke proyek strategis nasional (PSN) tersebut. Kami masuk dari pintu sisi timur. Belasan truk tangki semen berjejer di sepanjang jalan masuk.

Hujan yang mengguyur tiga hari membuat jalanan berlumpur. Maklum, jalanan belum dicor. Masih tanah merah. Yang pertama ditunjukkan Nanang adalah bangunan untuk generator atau energi listrik. Puluhan pekerja masih menggarap bangunan yang masih 40 persen terselesaikan itu.

Rangka bangunan sudah terlihat. Bangunan selanjutnya yang ditunjukkan Nanang adalah gedung pemadam kebakaran. Bentuknya tak jauh berbeda dengan gedung sebelumnya. Masih dalam tahap penyelesaian. “Kita jalan kaki ke tempat pekerja yang sedang menanam rumput ya,” ajak Nanang.

Mobil memang tidak bisa masuk. Tempat yang kami tuju ke depan akan digunakan sebagai ruang terbuka hijau. Pekerja yang semuanya memakai rompi oranye, helm kuning, dan sepatu bot setinggi betis itu berasal dari sekitar bandara.

Salah satunya Yusup yang tinggal di Desa Temon. Dia baru seminggu bekerja di sana. “Ya seneng. Tapi, semua itu pasti ada dampak baik buruknya,” ujar dia ketika Jawa Pos bertanya apakah senang dengan keberadaan bandara.

Mereka yang ikut bekerja di proyek menanam rumput tersebut rata-rata bekerja sebagai buruh serabutan. Ada yang petani. Ada pula yang tukang bangunan. Diharapkan, April mendatang rumput itu sudah menghijau. Agar bandara tidak terlihat gersang saat menyambut penumpang pertama yang mendarat di bandara tersebut April nanti.

***

Menurut Taochid, pada April nanti pembangunan memang belum akan selesai 100 persen. Yang saat ini dikejar penyelesaiannya adalah terminal internasional dan pembangunan runway.

Seperti disaksikan Jawa Pos, di calon terminal internasional itu, pemasangan keramik sudah dilakukan. Dinding kaca juga sudah dipasang. Pekerja lain merampungkan dinding. Namun, itu hanya lantai 1. Lantai 2 masih belum beres.

Terminal internasional tersebut juga akan digunakan sebagai tempat petugas imigrasi. Pihak Kementerian Hukum dan HAM sudah pernah menengok bandara itu dua minggu lalu. “April nanti ada empat penerbangan yang dipindah,” ucap Taochid.

Memang saat ini hanya empat penerbangan internasional yang ada di Bandara Adi Sucipto. Dengan rute Singapura-Jogjakarta dan Malaysia-Jogjakarta.

Sebelum digunakan, kata Taochid, Maret nanti dilakukan sertifikasi. Yang akan disertifikasi adalah runway, taxiway, apron, dan terminal penumpang. Sehingga diharapkan seluruh bangunan yang akan disertifikasi selesai sebelum itu.

Lalu kapan bandara tersebut 100 persen beroperasi? Pemerintah menargetkan pada 2020 penerbangan domestik juga sudah akan dipindahkan ke NYIA. Terutama pesawat bermesin jet. Selebihnya, pesawat baling-baling atau jenis ATR akan tetap beroperasi di bandara lama. “Hal ini harus didukung akses yang bagus dari dan menuju NYIA,” tutur Taochid.

***

Pembangunan bandara tersebut membuat geliat perekonomian di kawasan sekitarnya mulai tampak. Salah satunya terlihat dari banyaknya tanah yang dibuka untuk investasi properti. Hal itu sebenarnya sudah diprediksi Penasihat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Edy Suandi Hamid. Ke depan, bandara tersebut juga diprediksi membawa dampak positif bagi kota di sekitarnya. Misalnya saja geliat pariwisata. “Dengan adanya mobilitas orang ini, pasti ada perputaran uang di sana,” ucap Edy.

Untuk menangkap peluang itu, pemerintah setempat harus sudah melakukan pembangunan sumber daya manusia. Misalnya menggarap serius produk usaha kecil dan menengah (UKM). Penyedia jasa pun harus dilatih agar menjadi profesional. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat sekitar juga dapat menikmati hasil perputaran uang. Bukan hanya sebagai penonton.

Merespons potensi itu, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengaku sudah memiliki rencana. Pemkab Kulonprogo akan membangun kota penyangga bandara. “Konsepnya aerotropolis (sebuah kota yang tata letak, infrastruktur, dan ekonominya berpusat pada bandara, Red) dengan dilengkapi stasiun kereta api dan pusat ekonomi,” katanya.

Untuk menjaga persebaran ekonomi agar tidak hanya berpusat di sisi selatan, Hasto juga memiliki rencana memindahkan pusat pemerintahan. Sekarang pusat pemerintahan ada di Kecamatan Wates. Selanjutnya, dia berencana membangun di sekitar Kecamatan Pengasih yang berada di utara Wates.

Lalu bagaimana akses menuju dan dari bandara? Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berjanji segera membangun sarana transportasi yang dibutuhkan. Budi menjelaskan, akses menuju NYIA akan diprioritaskan dengan kereta api. Jalurnya dari Jogjakarta menuju Stasiun Wojo yang terletak di Dadirejo, Puworejo. “Dari Wojo naik bus, sudah kami siapkan. Jadi April nanti pun sudah ada,” ujar Budi di Jakarta kemarin (26/1).

Budi menuturkan, jalan darat sebenarnya juga bisa menjadi alternatif. Meskipun butuh waktu sekitar 1,5 jam dari Kota Jogjakarta. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (lyn/jun/c9/ttg)


Close Ads
Geliat Ekonomi, Mitigasi, dan New Yogyakarta International Airport