JawaPos Radar

Dorong Ekonomi Kerakyatan, Program Ponpes Mandiri Siap Dijalankan

26/09/2018, 21:50 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Taj Yasin
PONPES: Wakil Gubernur Jawa Tengah Gus Yasin saat berkunjung ke Ponpes Sunan Gunung Jati Ba’alawy (SGJB) Semarang, Rabu (26/9). (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen mengembangkan ekonomi kerakyatan di pondok pesantren (ponpes). Hal ini dimaksudkan untuk mendorong pesantren agar lebih mandiri dan memberikan manfaat di lingkungan sekitarnya.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mengatakan, sebagai langkah awal pengembangan ekonomi kerakyatan pada ponpes, rencananya dilakukan pendataan terlebih dahulu tahun ini. Tujuannya, guna memetakan karakteristik dan potensi dari masing-masing ponpes. 

"Sehingga, nantinya di tahun 2019 dapat dilakukan pendampingan kepada pondok pesantren di Jawa Tengah," ujarnya saat menghadiri acara seminar Membangun Ekonomi Ummat Berbasis Sociopreneur Pondok Pesantren di pondok pesantren Sunan Gunung Jati Ba’alawy (SGJB) Semarang, Rabu (26/9).

Untuk targetnya sendiri, ia menyebut bakal ada 500 ponpes yang mendapat pendampingan selama lima tahun masa pemerintahannya bersama Gubernur Ganjar Pranowo. Angka itu, menurut pria yang karib disapa Gus Yasin tersebut, bahkan masih bisa bertambah.

”Kita akan datang memberikan pengarahan, membidik apa yang dikehendaki ponpes. Karena ada yang mau mengembangkan perpustakaan, agrobisnis, ada yang di mungkin ekotren, ada yang jadi sentra kulakan. Akan kita dampingi dulu, melatih dulu, agar tidak sia-sia,” sambungnya.

Dengan konsep yang diusung tersebut, pihaknya optimistis pesantren dapat mengembangkan perekonomian baik di dalam maupun di lingkungan sekitarnya. Terlebih, sejak tahun 2014 sudah ada Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) yang menandakan bahwa ekonomi pesantren sudah mulai bergeliat.

”Jadi kita ke depan harapan Pemprov bagaimana pesantren jadi mandiri dan membantu masyarakat di sekelilingnya,” tandasnya.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Sunan Gunung Jati Ba’alawy (SGJB) Semarang, KH Muhammad Masroni menyambut baik rencana program tersebut. Ia menyebut, bahwa pesantren bukan saja tempat mendalami ilmu agama, namun juga bidang lain termasuk ekonomi. ”Ekonomi bagian dari agama yang tidak bisa dipisahkan. Kami ingin menghilangkan batas itu,” imbuhnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up