JawaPos Radar

Neno Warisman Mengaku Dipaksa Kembali dan Diancam

26/08/2018, 10:35 WIB | Editor: Budi Warsito
Neno Warisman Mengaku Dipaksa Kembali dan Diancam
Neno Warisman tiba di Bandara SSK II Pekanbaru, Riau, pada Sabtu (25/8) sore. (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Penggagas gerakan #2019GantiPresiden, Neno Warisman tiba di Pekanbaru pada Sabtu (25/8) sekitar pukul 15.13 WIB. Ia mengaku dipaksa untuk kembali dan diancam oleh aparat ketika baru saja keluar dari pesawat yang baru mendarat di Pekanbaru.

"Ketika turun sebenarnya tidak ada apa-apa. Tapi sampai diluar banyak aparat yang mendekati, meminta sedikit memaksa untuk masuk ke ruangan yang mereka inginkan. Tapi saya enggak setuju, saya memilih untuk keluar, ke mobil. Dijemput dengan Dian Tabrani," kata Neno, Sabtu malam.

Mobil sedan putih yang ditumpangi Neno pun akhirnya berjalan pelan keluar bandara. Namun, setibanya di depan pintu gerbang keluar bandara, mobil itu terpaksa menghentikan lajunya. Sebab, jalan mereka terhalang ratusan aparat gabungan dari TNI AU, TNI AD dan Polri yang sedang menghadang puluhan massa yang menolak kedatangan Neno.

Neno Warisman Mengaku Dipaksa Kembali dan Diancam
Neno Warisman saat berada di dalam mobil sesaat akan meninggalkan Bandara SSK II Pekanbaru, Riau, pada Sabtu (25/8) sore. (Istimewa)

"Diujung itu, ketika seperti di gerbang semakin banyak orang dan mobil kita ditahan oleh banyak aparat. Kemudian seolah-olah banyak orang yang melakukan demonstrasi," ungkapnya.

Disini, Neno tak sendirian. Ia ditemani Mursal Fadillah, Syamsul Balda, R Mardi Hardjono dan Diana Tabrani. Namun Mursal Fadillah terpaksa diamankan pihak Kepolisian. Karena ia keluar dari mobil dan dinilai telah membuat kegaduhan karena meminta Polisi untuk membubarkan massa.

Beberapa kali mobil yang ditumpangi Neno didatangi oleh Polisi. Mereka meminta agar Neno kembali ke bandara saja. Tujuannya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Ketika sudah sampai di gerbang, mulai lah ada macam kejadian yang intinya menginginkan saya kembali ke bandara. Itu saja yang saya tangkap. Banyak sekali orang yang datang ke mobil, membujuk, sedikit menekan juga. Pokoknya terus menerus meminta saya kembali ke bandara," jelasnya.

Tapi, saat itu Neno enggan kembali. Ia memilih bertahan di dalam mobil hingga massa yang menolak kedatangannya membubarkan diri. Berbagai kejadian dialami Neno ketika di dalam mobil. Seperti mobilnya dilempari botol air mineral dan aksi bakar ban. "Alasannya tidak aman, banyak demo, diluar tidak kondusif, bahaya, tapi enggak ada apa-apa," sebutnya.

Malam itu, Neno mengaku bahwa dia tak akan kembali ke Jakarta. Karena tidak ada yang salah dengan tindakannya. Ia merasa tidak melanggar Undang-Undang. Menurutnya jika berhubungan dengan deklarasi #2019GantiPresiden, itu tak masalah. Karena deklarasi itu merupakan hak konstitusional setiap warga negara.

"Tidak ada yang salah. Ini enggak konstitusional. Tidak ada yang salah. Jadi saya akan tetap. Saya minta doa kepada semuanya supaya hati mereka melembut. Saya yakin apa yang kita lakukan untuk satu sikap yang benar. Ini adalah sesuatu yang benar makanya saya bertahan," kata dia waktu itu.

Saat tertahan, Neno mengaku dirinya dihubungi oleh paguyuban atau tokoh masyarakat Riau. Ia disuruh bertahan di mobil itu. Karena akan ada massa yang datang untuk menjemputnya.

"Saya berkawan dengan paguyuban berkawan sejak kecil. Dia juga tau dari media. Dia minta saya tetap disitu. Tadi sudah banyak yang jemput saya, dari FPI dan Laskar Melayu tapi dibubarkan secara paksa. Jadi kita hanya dibatasi pagar saja," ucapnya.

Massa yang mengatasnamakan dirinya dari Tokoh Pemuda Masyarakat Riau, akhirnya datang menjemput Neno sekitar pukul 17.00 WIB. Namun massa itu akhirnya dibubarkan paksa oleh Polisi sekitar pukul 18.30 WIB. Mereka datang kembali ke Bandara sekitar pukul 22.00 WIB. Namun saat mereka kembali Neno sudah di dalam pesawat untuk kembali ke Jakarta.

Sementara itu, acara deklarasi ganti presiden ini juga akan dilangsungkan di Surabaya dan Pontianak, pada hari ini, Minggu (26/8). Berbeda dengan Pekanbaru, acara di dua daerah itu tidak mendapat penolakan. "Gak ada yang nolak kok sebenarnya. Mungkin training. Gerakan relawan ganti presiden sudah dikenal masyarakat dari medsos," tuturnya.

Penolakan itu, kata Neno hanya dilakukan oleh segelintir orang saja. Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI), sebanyak 55 persen masyarakat bahkan menyukai adanya gerakan #2019GantiPresiden ini.

"Hanya ada pihak yang mungkin ingin. Ini biasa. Kita 2019 memang waktunya untuk ganti presiden. Kita tidak keluar dari konstitusi. Ada pihak lain yang tidak senang, ayo sama-sama melakukan dengan penuh keyakinan kita. Sama-sama aja. Belakangan, tidak sehat karena ada kepentingan dari pihak-pihak," pungkasnya.

Perjuangan Neno bertahan hingga 7,5 jam akhirnya sia-sia. Ia tak diizinkan masuk ke Pekanbaru oleh Polisi. Neno akhirnya dipulangkan pada penerbangan terakhir sekitar pukul 22.30 WIB ke Jakarta. Dikabarkan, Neno akan menghadiri acara deklarasi di Surabaya, Jawa Timur.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up