JawaPos Radar

Di Pantai Segara Sari, Temukan Popok Bayi Hingga Charger Ponsel

26/08/2018, 05:05 WIB | Editor: Estu Suryowati
Di Pantai Segara Sari, Temukan Popok Bayi Hingga Charger Ponsel
ILUSTRASI. Kondisi sampah yang menumpuk di pantai laut Cirebon, tepatnya di Kampung Cangkol Tengah, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Selasa (13/3). (Wildan Ibnu Walid/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian kaget. Tangannya meraih sesuatu yang tak lazim. Popok bayi.

Di balik pasir putih Pantai Segara Sari, Balikpapan Timur, tak lama dia menemukan charger ponsel. Selebihnya sampah plastik yang bertebaran di sepanjang pantai. Kondisi ini, membuatnya miris.


"Kondisi (sampah) seperti ini sebenarnya tak perlu bantuan pemerintah. Masyarakat harus sadar menjaga kebersihan objek wisatanya," sebut legislator dapil Kaltim itu, dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Minggu (26/8).

Bersama pelajar, dan masyarakat Balikpapan, perempuan berjilbab itu hadir dalam gerakan sadar wisata dan aksi Sapta Pesona garapan Kementerian Pariwisata RI. Gerakan yang disebut-sebut sebagai solusi memajukan industri pariwisata di suatu wilayah. Balikpapan punya potensi.


"Semua tersedia di Balikpapan. Dari infrastruktur dan alamnya. Namun, masyarakat harus sadar. Mereka juga memiliki peran memajukan pariwisata Balikpapan," sebutnya.


Salah satu daya tarik wisata bukan sekadar tempat. Namun keramahan. Para pelancong yang datang dari berbagai daerah dan negara memerlukan kenyamanan dan keamanan. Karena itu gerakan sadar wisata perlu diimplementasikan ke berbagai kalangan.


"Jangan sampai ada kejadian seperti di NTT. Di mana wisatawan justru menjadi korban pemerkosaan. Kalau begitu nama Indonesia dikorbankan," ujarnya.


Pemkot Balikpapan disebutnya sudah tepat menerapkan Peraturan Wali Kota (Perwali) No 8/2018 tentang larangan kantong plastik. Mampu mengurangi sampah plastik.

Namun perlu ada upaya lain. Terutama edukasi masyarakat. Termasuk ide-ide segar mengurangi sampah. Khususnya sampah di laut.


"Balikpapan terkenal dengan wisata pesisirnya. Namun masih berjuang melawan sampah. Cara mudah misalnya memasang jaring di pemukiman atas air. Jadi sampah tak langsung hanyut ke laut," sebutnya.


Selain itu, Balikpapan juga perlu belajar ke kota lain yang maju wisatanya. Dengan keunikan alam sendiri, perlu dibuat banyak spot cantik.

Yang bisa digunakan sebagai lokasi berfoto atau selfie. Media ini mempermudah Balikpapan dikenal di kalangan para pelancong.

"Kemudian dibuat kenangan. Tak hanya suvenir, namun kenangan yang membuat wisatawan betah dan ingin kembali lagi," sambungnya.


Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan Masyarakat Pariwisata, Kementerian Pariwisata RI, Hidayat menyebut banyak program pemerintah yang sebenarnya mendukung pengembangan wisata di setiap daerah. Namun tak akan berjalan tanpa dukungan dari masyarakat sendiri.


"Yang terpenting itu ada kesadaran masyarakat. Jika daerahnya merupakan tujuan wisata," sebut Hidayat.


Semua itu tertuang dalam Sapta Pesona. Dimana ada tujuh unsur, yakni keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan, dan kenangan.

Program ini, yang menjadi rujukan bagi kementerian untuk menetapkan desa wisata di seluruh Indonesia. Termasuk Balikpapan. Yang saat ini masih dalam tahap seleksi administrasi dan penilaian di lapangan. "Hingga nanti muncul nama 10 besar," sebut dia.


Dengan perkembangan wisata, diperlukan sumber daya mumpuni. Harus ada orang-orang yang bersertifikat dalam memandu wisatawan.

Mulai dari tingkat organisasi masyarakat hingga general manajer hotel. Hal tersebut sebagai bentuk kompetensi meningkatkan pelayanan dan jasa bagi pengunjung.


"Jadi kekuatan wisata bukan terletak pada lokasi wisata secara terpisah. Namun menjadi kekuatan kota itu sendiri," pungkasnya.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up