JawaPos Radar

Budidaya Bawah Merah Organik, Investasi Murah Hasilnya Wah

26/06/2018, 08:27 WIB | Editor: Imam Solehudin
Bawang Merah Organik
Panen bawang di Bantun, Jogjakarta. Salah seorang petani setempat, Sumarno, berhasil membudidayakan bawang merah organik. (Ist/Jawapos.com)
Share this

JawaPos.com - Budidaya organik tanaman hortikulutra masih cukup jarang dilakukan para petani. Pasalnya, organik identik dengan biaya yang mahal hingga perawatan ekstra.

Padahal jika petani cermat, konsep budidaya organik sejatinya murah plus hasilnya cukup wah.

Tengok saja Sumarno. Petani bawang merah organik di Dusu Nawungan, Bantul, Jogjakarta. Dia sukses mengelola lahan seluas 270 meter persegi yang ditanami bawang merah organik.

"Pada 2017, biaya yang diperlukan hanya Rp 1,5 juta," kata dia

"Hasilnya saya dapat jual (bawang merah organik) Rp 10 juta, dari panen sekitar 400 kilogram. Harga bawang merah rogol kering sekitar Rp25 ribu per kilogram," jelas dia disela-sela kunjungan kerja Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf yang disertai Kepala BPTPH dari 15 Propinsi, di Dusun Nawungan, Bantul, Jogjakarta, kemarin.

Dalam melakukan budidaya, Sumarno betul-betul memperhatikannya secara detail. Termasuk urusan pupuk dan nutrisi tanaman.

“Saya tidak menggunakan sarana kimia setetes pun” ujar Sumarno.

Sumarno mengatakan bahwa dengan biaya usaha tani yang rendah, produk bawang organiknya sangat bersaing di pasaran. “Bawang merah saya selalu habis dibeli, dan tidak pernah sulit untuk menjualnya,” jelas dia.

Sementara terkait kunjungannya, Sri mengatakan kunjungan kerja kali ini sengaja mengajak BPTPH dari beberapa propinsi yang melaksanakan program pertanian organik 2018.

Pemerintah, kata dia, dengan dana APBN mendukung 250 desa organik hortikultura di 24 Propinsi.

"Dengan melihat praktek budidaya organik di Bantul, kami harapkan memacu semangat BPTPH untuk melakukan pembinaan dan pengawalan intensif untuk program desa organik di wilayahnya masing-masing," beber Sri.

Adapun tujuan program desa organik adalah agar petani dapat memproduksi hortikultura yang lebih sehat, aman konsumsi dan aman untuk lingkungan.

"Lebih dari itu dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan daya saing produk hortikultura Indonesia," pungkasnya.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up