alexametrics

Pagu Sekolah Tak Terpenuhi, Besok Bisa Daftar SDN Beda Kecamatan

26 Mei 2019, 13:58:56 WIB

JawaPos.com – Kelemahan pendaftaran sistem zonasi, yakni belum meratanya ketersediaan sekolah, akhirnya diatasi Dinas Pendidikan Surabaya kemarin (25/5). Dispendik Surabaya bakal membuka penerimaan peserta didik baru (PPDB) SDN tahap kedua. Tujuannya, pagu SD negeri yang belum penuh segera terisi.

Yang terbaru, calon peserta didik baru bisa mendaftar di sekolah yang berbeda kecamatan dengan alamat tempat tinggalnya di kartu susunan keluarga.

Hingga penutupan PPDB SDN pukul 15.00 kemarin (25/5), memang masih ada sekolah yang belum memenuhi pagu. Misalnya, SDN Kalirungkut I, Kecamatan Rungkut. Pagu sekolah tersebut 160 siswa. Hingga kemarin, tercatat baru ada 117 anak yang mendaftar. Di SDN Dukuh Pakis I, baru terdaftar 72 siswa, sedangkan kuotanya 96 siswa. Di SDN Banjar Sugihan I, ada 19 anak yang terdaftar. Padahal, pagunya 32 siswa Kepala Dispendik Surabaya Ikhsan mengungkapkan, memang masih banyak sekolah yang pagunya belum terpenuhi. Selain itu, masih ada laporan orang tua yang belum mendapatkan sekolah untuk putra-putrinya. Salah satu penyebabnya, nama sang anak terpental lantaran aturan prioritas usia, jarak, dan waktu pendaftaran dalam pemeringkatan untuk pengisian pagu.

“Pendaftarannya Senin (27/5) dan Selasa (28/5) khusus sekolah yang pagunya belum terpenuhi,” ungkap Ikhsan di kantornya kemarin.

Dispendik membuka pendaftaran tersebut agar calon peserta didik baru bisa mendaftar di SDN yang berbeda kecamatan. Sebelumnya, 20-22 Mei mereka hanya bisa mendaftar pada satu zona yang berbasis kelurahan. Meski, ada 13 kelurahan yang bergabung dengan kelurahan lain karena tidak memiliki SDN.

Lantas, pada Kamis (23/5) hingga kemarin, orang tua bisa memilihkan putra-putrinya sekolah yang berada di luar zona, tetapi masih dalam satu kecamatan. Tidak bisa antar kecamatan. Nah, untuk besok dan lusa sudah bisa antar kecamatan. “Tapi, tetap diprioritaskan yang lokasi rumah tinggalnya dekat dengan sekolah,” jelas Ikhsan. Karena itu, tidak diharapkan siswa yang tinggal di Rungkut memilih sekolah di Benowo karena jaraknya terlalu jauh.

Ikhsan juga menjelaskan soal pemeringkatan dalam pagu yang tercantum pada sistem di PPDB SDN. Pada hasil seleksi yang tercantum di sd.ppdbsurabaya.net itu, siswa yang berada dalam satu zona tetap diprioritaskan. Tapi, bila pagu masih tersedia, sekolah tersebut bisa menerima calon siswa dari luar zona yang masih satu kecamatan.

“Agar semakin memperjelas kami bedakan warnanya yang satu zona dan luar zona, tapi masih satu kecamatan,” ungkap Ikhsan. Yang satu zona diberi latar belakang hijau. Untuk luar zona dalam satu kecamatan, warnanya abu-abu.

Besok dan lusa juga menjadi momen yang penting bagi orang tua calon siswa untuk daftar ulang. Para orang tua harus datang ke sekolah untuk memverifikasi berkas dan melihat pengumuman lain di SDN tempat putra-putri mereka mendaftar.

Ikhsan menjelaskan, data siswa yang sudah diterima di SDN itu akan dikunci oleh sistem. Dengan begitu, siswa tersebut tidak bisa mendaftar lagi pada PPDB SDN tahap kedua yang dibuka besok. Misalnya, ternyata ada orang tua yang ragu dengan sekolah yang telah dipilih dan ingin pindah sekolah. “Kalau orang tua tidak daftar ulang, otomatis dianggap mengundurkan diri. Data siswa itu dikunci,” tegas Ikhsan.

Sementara itu, dari pantauan di sejumlah SDN, PPDB pada hari terakhir terlihat sepi pendaftar meskipun pagu masih tersedia. Di SDN Jagir I, Wonokromo, misalnya, hanya ada tiga orang tua yang datang ke sekolah tersebut hingga kemarin siang. Dengan pagu 96 anak, tercatat baru 82 siswa yang mendaftar. “Orang tua ke sini rata-rata bertanya kira-kira diterima atau tidak. Mungkin karena ada sistem baru yang diterapkan,” ujar Anas Efendy, panitia PPDB SDN Jagir I.

Di sekolah tersebut, ada dua calon siswa yang berada di luar zona, tapi berbeda kecamatan. Yakni, berasal dari RW 2, Kelurahan Sidosermo, Kecamatan Wonocolo. Sementara itu, SDN tersebut berada di Kecamatan Wonokromo. Jarak rumah dua calon siswa itu hanya 234 meter dan 395 meter dari sekolah. “Kami hanya meng-input datanya. Kalau sistem menerima, berarti memang bisa,” tambah dia.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : jun/c7/ano



Close Ads